40 Penyandang Tunanetra Berlomba di MTQ Nasional

Minggu, 13 Sep 2026, 23:43 WIB

Semarang - Sebanyak 40 penyandang tunanetra ikut lomba tilawah disabilitas netra Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Nasional XXXI di Studio Catwalk BBPVP Kementerian Tenaga Kerja, Semarang, Jawa Tengah.

Person in Charge (PIC) Majelis 3 Tartil dan Tilawah Disabilitas Netra MTQ Nasional Mohammad Asyiq, di Semarang, Minggu, menyebutkan para peserta tilawah disabilitas netra itu berasal dari 37 provinsi.

Ket. Foto: Peserta penyandang tuna netra berlomba pada Musabaqoh Tilawatil Qur'an (MTQ) Nasional XXXI, di Semarang, Minggu (13/9/2026). — Sumber: Antara

Ia menjelaskan babak penyisihan tilawah disabilitas netra berlangsung Minggu hingga Kamis (17/9), sedangkan babak final dijadwalkan Jumat (18/9).

"Hari ini penyisihan dan final pada Jumat (18/9). Untuk materi itu satu jam sebelum tampil baru peserta mendapatkan, demikian pula urutan tampil," katanya.

Untuk perlombaan itu, mereka harus membaca, baik hafalan atau dengan Al Quran Braille, di depan sembilan anggota dewan hakim.

Di antara peserta yang tampil, ada Ahmad Zainuddin, qari disabilitas netra berasal dari Kota Semarang yang mengaku keikutsertaan dalam MTQ Nasional bukan semata-mata mengejar gelar juara.

Ia mengaku membawa niat sederhana, yakni belajar lebih dalam tentang seni tilawah Al Quran, sedangkan soal hasil dan gelar juara sepenuhnya diserahkan kepada ketentuan Allah.

"Bukan niat cari juara, saya niatnya untuk mempelajari tilawah Al Quran itu lebih dalam," kata warga Tlogomulyo, Pedurungan, Kota Semarang itu.

Ia mengatakan Al Quran bukan sekadar bacaan, sebab ayat-ayat kalamullah memberinya ketenangan kalbu.

Ia mengaku sejak berusia 16 tahun mulai serius mendalami Al Quran dengan belajar di Pondok Pesantren Al Khairat Jepara.

Sejumlah prestasi berhasil diraih dia, sedangkan prestasi tertinggi meraih juara dua pada MTQ tingkat Provinsi Jateng di Pati dan Tegal.

Untuk tampil di ajang nasional, Zainuddin mengaku telah mempersiapkan diri secara serius selama setahun, namun setelah seluruh ikhtiar dilakukan memilih tidak menggantungkan kebahagiaan pada hasil perlombaan.

Qariah disabilitas netra berasal dari Kalimantan Timur, Siti Nurjanah, mengaku telah mempersiapkan diri selama sembilan bulan untuk mengikuti ajang tersebut.

"Saya dengan pelatih berlatih dua kali dalam satu hari, selama sembilan bulan itu. Harapannya ya bisa mendapat juara satu, karena di ajang tahun lalu mendapat juara harapan satu," katanya.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.