Kurang Pasokan Cabai, Disperindag Sulteng Siapkan Langkah Kendalikan Kenaikan Harga

Selasa, 08 Sep 2026, 10:26 WIB

PALU – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulawesi Tengah menyiapkan sejumlah langkah untuk mengendalikan kenaikan harga cabai akibat berkurangnya pasokan karena kondisi cuaca kering yang dipengaruhi fenomena El Nino.

“Memang kondisinya kami dapat catat bahwa harga cabai di beberapa pasar pantauan itu melonjak drastis tinggi dikarenakan supply-demand,” kata Kepala Disperindag Sulawesi Tengah, Richard Arnaldo Djanggola di Palu, Selasa (08/9).

Ket. Foto: Pedagang sedang membersihkan cabai rawitnya saat berjualan di trotoar pasar Inpres Manonda, Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah, Minggu (12/6/2022). — Sumber: ANTARA

Berdasarkan data pantauan Disperindag Sulteng, harga cabai merah biasa mengalami kenaikan dari Rp20 ribu per kilogram menjadi Rp35 ribu per kilogram, sementara harga cabai merah keriting Rp60 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp37.500 per kilogram.

Sementara itu, harga cabai rawit merah mencapai Rp95 ribu per kilogram dari Rp49.167 per kilogram, dan cabai rawit hijau mencapai Rp105 ribu per kilogram dari Rp50 ribu per kilogram.

Ia menjelaskan kenaikan harga tersebut terjadi karena pasokan cabai dari daerah sentra produksi berkurang akibat kondisi cuaca kering yang dipengaruhi El Nino, sementara permintaan di pasar tetap dan cenderung meningkat.

Peningkatan permintaan, kata dia, juga dipengaruhi sejumlah kegiatan masyarakat, termasuk perayaan Maulid, sehingga kebutuhan cabai di pasar meningkat.

Ia mengatakan pihaknya berkoordinasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, termasuk Dinas Pertanian di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, untuk mencari langkah preventif dalam menjaga pasokan cabai.

Pihaknya juga menghubungi daerah-daerah penghasil untuk mengetahui ketersediaan stok. Apabila terdapat kelebihan stok, pasokan tersebut diupayakan dapat disalurkan ke Sulawesi Tengah bekerja sama dengan distributor.

“Kami juga mencoba menghubungi daerah-daerah penghasil. Jika memang ada kelebihan stok dari mereka, bisa bekerja sama dengan para distributor dari kita di sini untuk bisa melakukan intervensi pasar,” ujarnya.

Ia mengatakan pasokan cabai di Sulawesi Tengah sebagian besar berasal dari Sulawesi Selatan. Sementara daerah penghasil di dalam provinsi tersebut antara lain Kabupaten Sigi dan wilayah Napu, tetapi produksinya belum mampu memenuhi kebutuhan pasar dalam jumlah besar.

Ia menjelaskan cabai merupakan komoditas yang mudah rusak sehingga tidak dapat disimpan dalam jumlah besar untuk waktu lama. Karena itu, ketersediaannya sangat bergantung pada kelancaran pasokan dari daerah penghasil.

Selain itu, Disperindag Sulteng juga menyiapkan pelaksanaan pasar murah di sejumlah titik pada September dengan bekerja sama dengan pemerintah kabupaten/kota.

Sebelumnya, pasar murah telah dilaksanakan di Kabupaten Donggala, termasuk di Kecamatan Banawa dan Labuan.

Ia menambahkan kenaikan harga mulai terlihat pada September, sedangkan pada Agustus kondisi harga masih relatif normal.

Sementara itu, harga sejumlah bahan pokok seperti beras, minyak goreng, dan gula masih dalam kondisi normal dengan ketersediaan stok yang cukup.

  • Disperindag Sulteng

Redaktur: Bambang Wijanarko

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.