- Home
-
- Luar Negeri
-
- Trump Soroti Kematian Peke...
Trump Soroti Kematian Pekerja Laboratorium Rusdia, Bantah Dugaan Senjata Biologis
Kamis, 08 Okt 2026, 03:05 WIBWashington - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Rabu (7/10) mengatakan kematian seorang pekerja laboratorium penelitian wabah di Russia tampaknya tidak berkaitan dengan senjata biologis.
âKami rasa tidak. Kami akan segera mengetahuinya, tetapi kami rasa tidak,â kata Trump kepada wartawan di Ruang Oval Gedung Putih ketika ditanya apakah insiden tersebut melibatkan âsenjata biologisâ.
Sebelumnya, Russia memperingatkan agar masyarakat tidak menyebarkan informasi âpalsuâ setelah muncul laporan mengenai dugaan kasus kedua. AS dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mendesak Russia agar lebih transparan dalam memberikan informasi terkait kasus tersebut.
Trump mengatakan Russia bersikeras bahwa situasi telah terkendali, tetapi informasi yang disampaikan kepada publik masih terbatas.
âJika mendengarkan mereka, situasinya terkendali. Namun, Anda tahu, orang-orang pernah mengatakan hal yang sama tentang berbagai hal lainnya,â ujar Trump mengenai tanggapan Moskow.
Merujuk pada respons awal Tiongkok terhadap pandemi COVID-19, Trump menambahkan, âTiongkok tidak banyak memberikan informasi, dan Russia juga tidak banyak bicara. Namun, mereka mengatakan bahwa situasinya benar-benar terkendali.â
Trump kembali menyatakan bahwa dirinya telah menjadwalkan percakapan telepon dengan Presiden Russia Vladimir Putin untuk membahas masalah tersebut, tetapi tidak mengungkapkan kapan pembicaraan itu akan berlangsung.
âHari ini adalah hari ulang tahun Vladimir Putin,â kata Trump.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Rabu mengatakan pihaknya belum dapat menyusun penilaian risiko secara menyeluruh karena belum memperoleh gambaran lengkap dari Russia mengenai dugaan kematian akibat wabah pes yang menimpa seorang teknisi laboratorium.
WHO, AS dan Uni Eropa telah meminta Moskow memberikan informasi lebih lanjut setelah seorang perempuan berusia 28 tahun yang bekerja di Institut Penelitian Antipes di Irkutsk, Siberia, meninggal dunia.
âPekerja laboratorium tersebut meninggal setelah dirawat di rumah sakit akibat pneumonia berat. Laporan awal media menyebutkan kemungkinan wabah pes paru-paru setelah terjadi paparan tidak sengaja di laboratorium,â kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.
Ia mengatakan WHO mengetahui bahwa pemerintah Russia menggelar pertemuan pada 2 Oktober karena mencurigai seorang warga di wilayah Irkutsk terinfeksi penyakit berbahaya.
Tedros mengatakan WHO telah meminta informasi tambahan kepada Moskow pada Sabtu sesuai dengan Peraturan Kesehatan Internasional (International Health Regulations/IHR).
IHR merupakan kerangka hukum yang mengatur hak dan kewajiban negara dalam menangani peristiwa serta keadaan darurat kesehatan masyarakat yang berpotensi melintasi batas negara. Negara-negara diminta memberikan tanggapan dalam waktu 24 jam.
Russia baru merespons pada Selasa dengan menyatakan tidak ada kasus wabah pes yang dilaporkan di wilayah Irkutsk. Pemerintah Russia juga menyebut sekitar 200 orang yang melakukan kontak dengan pihak terkait telah menjalani karantina.
Menurut Tedros, WHO telah meminta informasi mengenai pemeriksaan laboratorium terhadap korban, orang-orang yang melakukan kontak dengannya, serta kondisi kesehatan mereka.
âKami belum memiliki gambaran lengkap mengenai peristiwa ini sehingga belum dapat melakukan penilaian risiko secara menyeluruh,â tegasnya.
Ia menekankan bahwa penyampaian informasi yang tepat waktu, lengkap, dan transparan sesuai dengan peraturan internasional sangat penting untuk mengklarifikasi laporan yang saling bertentangan serta memungkinkan penilaian yang akurat terhadap potensi risiko bagi kesehatan masyarakat.
Tidak Terbukti
Sementara itu, pejabat WHO Maria Van Kerkhove mempertanyakan penyebab kematian perempuan tersebut apabila dugaan wabah pes paru-paru tidak terbukti.
âJika wabah pes paru-paru dapat disingkirkan sebagai penyebabnya, lalu sebenarnya apa yang menyebabkan perempuan itu meninggal?â ujarnya.
Van Kerkhove mengatakan WHO ingin mengetahui jenis pemeriksaan yang telah dilakukan, rincian hasilnya, serta analisis lanjutan yang sedang dikerjakan apabila penyebab kematian belum diketahui.
WHO juga meminta penjelasan mengenai orang-orang yang dikarantina atau dipantau setelah melakukan kontak dengan korban, termasuk prosedur yang diterapkan dan apakah masa karantina mereka telah berakhir.
Ketika ditanya apakah Moskow seharusnya memberikan lebih banyak informasi, Van Kerkhove menjawab, âJawaban sederhananya selalu: ya.â
- senjata biologis
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: AFP
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.