Pemerintah Perkuat Pelestarian Bahasa Daerah
Senin, 07 Sep 2026, 03:17 WIBKota Bengkulu - Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melibatkan komunitas dan para pegiat sastra sebagai bagian dari upaya melestarikan bahasa daerah di Indonesia.
Dikutip dari Antara, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen Hafidz Muksin mengatakan pemerintah memberikan dukungan pembinaan kepada komunitas yang aktif melestarikan bahasa daerah. Kerja sama dengan pemerintah daerah dan perguruan tinggi juga terus diperkuat untuk memperkaya bahan bacaan bermutu.
âYang kita upayakan juga adalah meningkatkan peran para pegiat dan pelestari bahasa daerah. Komunitas pegiat dan pelestari kita berikan pembinaan untuk meningkatkan peranserta mereka,â kata Hafidz di Kota Bengkulu, Minggu (6/9).
Menurut dia, komunitas dapat berperan dalam menghasilkan bacaan berbahasa daerah yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Upaya tersebut dilakukan untuk memperluas jangkauan pembaca sekaligus memperkenalkan kekayaan bahasa dan budaya daerah kepada masyarakat.
Selain bahasa Indonesia, pemerintah pusat memberikan perhatian terhadap keberlangsungan bahasa daerah di Provinsi Bengkulu, seperti bahasa Enggano, Rejang, dan Bengkulu.
Hafidz mengatakan pelestarian bahasa daerah juga dilakukan melalui program revitalisasi yang menyasar peserta didik sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Pendekatan pembelajaran dibuat menyenangkan dan disesuaikan dengan minat anak, antara lain melalui lomba menyanyi, pidato, komedi tunggal, menulis cerita pendek, dan bercerita menggunakan bahasa daerah.
âKami juga mendorong digitalisasi bahan bacaan melalui platform pembelajaran digital. Buku-buku yang memuat bahasa daerah diharapkan dapat diakses masyarakat secara lebih luas melalui buku digital,â ujarnya.
Upaya pelestarian bahasa daerah juga dilakukan di Kabupaten Simeulue, Provinsi Aceh. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Simeulue menyatakan Kementerian Kebudayaan telah menetapkan tiga bahasa daerah tersebut sebagai warisan budaya tak benda (WBTb).
Plt Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Simeulue Zulfatah mengatakan tiga bahasa tersebut adalah Devayan, Sigulai, dan Simolol.
âTiga bahasa ini merupakan bahasa asli penduduk Pulau Simeulue. Kini, bahasa tersebut resmi tercatat menjadi warisan budaya tak benda,â kata Zulfatah di Simeulue, Kamis.
Selain tiga bahasa tersebut, Pemerintah Kabupaten Simeulue sedang memproses pengajuan bahasa Lekon untuk ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda.
âAda satu bahasa lagi yang diajukan menjadi bahasa warisan budaya tak benda, yakni bahasa Lekon. Kami berharap bahasa Lekon ditetapkan sebagai bahasa warisan tak benda,â katanya. YK/and
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Eko S
Berita Terkait:
-
Bangkit Lewat Kesehatan, Afghanistan Gencar Dongkrak Vaksinasi Polio
-
BPJN Aceh Targetkan Jembatan Pelang dan Titi Merah Rampung Akhir 2026
-
Padang Rumput Bergelombang di Ketinggian 2.235 mdpl
-
Bapenda Provinsi Sulawesi Tengah Kembangkan Aplikasi untuk Pembayaran PKB
-
Penyerang Anyar PSS Sleman Matheus Fornazari Berambisi Cetak Banyak Gol
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.