Pelari Ethiopia Tigst Assefa Gagal Pecahkan Rekor Dunia, Drama di Kilometer Akhir Berlin Marathon

Senin, 28 Sep 2026, 00:02 WIB

BERLIN – Tigst Assefa gagal memecahkan rekor dunia marathon putri setelah mengalami masalah fisik pada kilometer-kilometer terakhir Berlin Marathon 2026, Minggu (27/9).

Pelari Ethiopia itu sebenarnya berada di jalur rekor dunia hampir sepanjang perlombaan. Bahkan, hingga 40 kilometer, Assefa masih memiliki keunggulan waktu untuk menembus catatan 2 jam 9 menit 56 detik milik Ruth Chepngetich.

Ket. Foto: Pelari Ethiopia Tigst Assefa. — Sumber: Istimewa

Namun, harapan tersebut sirna dalam dua kilometer terakhir. Assefa mulai terlihat kesulitan mempertahankan langkahnya dan berlari terpincang-pincang menuju garis finis. Ia akhirnya mampu menyelesaikan lomba dengan waktu 2 jam 11 menit 4 detik.

Catatan tersebut tetap menjadi pencapaian luar biasa. Assefa memperbaiki rekor pribadi sekaligus rekor lintasan Berlin yang sebelumnya ia buat pada 2023 dengan waktu 2:11:53. Torehan 2:11:04 juga menempatkannya sebagai pelari marathon putri tercepat ketiga sepanjang sejarah.

Assefa bahkan sempat berada dalam proyeksi waktu sekitar 2:09:44 ketika melewati titik 40 kilometer. Setelah itu, kecepatannya merosot drastis akibat masalah fisik yang muncul menjelang finis.

Dengan demikian, rekor dunia 2:09:56 milik Chepngetich masih bertahan. Rekor tersebut dibuat di Chicago pada tahun 2024 dan tetap tercatat sebagai rekor dunia meski Chepngetich kemudian menerima hukuman larangan bertanding selama tiga tahun akibat pelanggaran doping.

Assefa akhirnya meraih kemenangan ketiganya di Berlin setelah sebelumnya berjaya pada 2022 dan 2023. Ia finis jauh di depan dua kompatriotnya, Bedatu Hirpa dan Dera Dida, yang masing-masing mencatat 2:16:53 dan 2:16:55. Dengan demikian, podium putri menjadi milik Ethiopia sepenuhnya.

Dominasi Ethiopia berlanjut pada nomor putra. Guye Adola merebut gelar Berlin Marathon untuk kedua kalinya setelah tampil sebagai pemenang dengan waktu 2:02:50. Ia sebelumnya juga menjadi juara di Berlin pada 2021.

Adola tidak langsung memimpin sejak awal lomba. Kelompok terdepan masih beriringan hingga mendekati kilometer ke-30. Setelah itu, pelari Ethiopia tersebut mulai meningkatkan kecepatan dan perlahan meninggalkan para pesaingnya.

Pada kilometer ke-35, Adola sudah unggul sembilan detik atas Gemechu Dida. Keunggulan tersebut terus melebar hingga akhirnya ia melintasi garis finis dengan jarak cukup nyaman.

Gemechu Dida menempati posisi kedua dengan 2:03:19, sedangkan Gabriel Geay dari Tanzania finis ketiga dengan 2:03:59.

Adola mengaku strateginya sejak awal adalah tidak terburu-buru mengikuti ritme lomba.

“Tujuan saya adalah sedikit menahan diri dan melihat apa yang dilakukan para pacemaker sehingga saya bisa mengetahui persis apa yang terjadi. Strategi itu berjalan dengan sangat baik,” kata Adola kepada RTL.

“Saya sangat mencintai Berlin. Saya senang bisa kembali ke sini dan ada kemungkinan besar saya akan kembali lagi,” ujarnya.

Berlin Marathon memang dikenal sebagai salah satu lintasan marathon tercepat di dunia. Karakter lintasan yang relatif datar dan kondisi lomba yang mendukung membuat Berlin kerap menjadi tempat lahirnya rekor dunia. Sebelum lomba tahun ini, sebanyak 13 rekor dunia marathon telah tercipta di Berlin.

Absennya pemegang rekor dunia putra, Sabastian Sawe, yang mundur karena cedera, membuat perhatian terbesar tertuju kepada Assefa. Pelari Ethiopia itu datang dengan ambisi memperbaiki catatan terbaiknya setelah sebelumnya juga mencatat waktu luar biasa di London.

Sejak awal lomba, Assefa langsung menunjukkan niatnya. Ia melewati 5 kilometer pertama dalam 15:30 dan sudah unggul sekitar 25 detik dari para pesaingnya. Keunggulannya terus bertambah hingga lebih dari satu menit di 10-15 kilometer.

Assefa melewati separuh lomba dalam 1:04:57. Bahkan ketika memasuki bagian lintasan yang sedikit menanjak, kecepatannya masih cukup untuk mempertahankan proyeksi rekor dunia.

Pada kilometer ke-40, ia masih berada di jalur rekor dengan proyeksi sekitar 2:09:44. Namun, beberapa saat kemudian langkah Assefa mulai berubah. Ia terlihat kesakitan dan kecepatannya turun tajam.

Dengan keunggulan besar atas pelari lainnya, Assefa masih mampu mempertahankan posisi pertama. Ia akhirnya melewati garis finis di depan Gerbang Brandenburg dengan waktu 2:11:04.

Meski gagal merebut rekor dunia, penampilannya tetap menghasilkan salah satu catatan tercepat dalam sejarah marathon putri dan sekaligus mengukuhkan namanya sebagai salah satu pelari jarak jauh terbaik dunia.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.