Petenis Iran Temukan Pelarian dari Perang di Asian Games
Senin, 28 Sep 2026, 00:10 WIBNAGOYA â Di tengah bayang-bayang perang dan keterbatasan anggaran, tim tenis Iran menemukan alasan untuk tersenyum di Asian Games. Pada hari Minggu (27/9), dua wakil putri Iran sama-sama mengawali kiprah mereka di nomor tunggal dengan kemenangan.
Meshkatolzahra Safi tampil dominan dengan menundukkan petenis Tajikistan, Shakhzoda Asimova, 6-0, 6-1. Sementara rekan setimnya, Mandegar Farzami, juga memastikan tempat di babak berikutnya setelah mengalahkan petenis Uzbekistan, Sevil Yuldasheva, 7-5, 6-3.
Bagi Safi, kemenangan tersebut lebih dari sekadar hasil pertandingan. Petenis berusia 22 tahun itu pernah mencatat sejarah sebagai petenis Iran pertama yang memenangi pertandingan nomor tunggal junior Grand Slam ketika tampil di Australian Open 2022. Saat masih junior, Safi bahkan pernah menembus peringkat 100 besar dunia.
Namun, perjalanan menuju level profesional tidak berjalan mudah. Minimnya dukungan finansial membuat Safi kesulitan mengikuti turnamen secara rutin, membangun pengalaman, dan menjaga momentum kariernya.
Situasi tersebut semakin berat setelah konflik antara Amerika Serikat dan Iran berlangsung selama tujuh bulan. Di tengah ketegangan itu, tenis menjadi ruang pelarian penting bagi Safi dari kecemasan dan tekanan kehidupan sehari-hari.
âTenis benar-benar menjadi pelarian karena situasinya sangat buruk,â kata Safi di Nagoya.
âBahkan beberapa bulan lalu, kami bisa mendengar suara bom tidak jauh dari tempat kami berada. Saya seharusnya bisa berkonsentrasi pada tenis. Tidak ada pemain lain yang harus memikirkan hal seperti ini.â
Tim tenis Iran yang beranggotakan empat atlet dapat tampil di Asian Games Nagoya berkat dukungan pendanaan dari Komite Olimpiade Iran dan federasi tenis negara tersebut.
Iran juga mendapatkan tambahan tenaga di sektor kepelatihan. Mantan petenis profesional Prancis-Iran, Aravane Rezai, ditunjuk sebagai pelatih tim selama Asian Games.
Rezai pernah meraih empat gelar di level utama WTA Tour sepanjang karier profesionalnya. Kehadirannya diharapkan dapat memberikan pengalaman tambahan bagi para petenis Iran yang tengah berjuang mengembangkan karier di tengah keterbatasan.
Asian Games sendiri tidak sepenuhnya lepas dari persoalan. Sejumlah atlet mengeluhkan penyelenggaraan turnamen, terutama terkait akomodasi dan transportasi.
Namun, Safi justru menikmati pengalaman yang berbeda.
âBisa bertanding di turnamen seperti ini adalah impian bagi kami,â ujar Safi.
âRasanya luar biasa. Saya melihat begitu banyak orang menyaksikan pertandingan saya dan kondisi di sini sangat bagus.
âSemuanya terorganisasi dengan sangat baik. Lapangan, fasilitas, semuanya luar biasa. Saya bisa menunjukkan kemampuan saya.â
Bagi Safi, Asian Games bukan sekadar kesempatan untuk mengejar kemenangan. Turnamen ini juga menjadi momen untuk sejenak menjauh dari realitas perang yang membayangi negaranya.
Di atas lapangan, fokusnya hanya satu: bermain tenis.
Dan untuk seorang atlet yang harus menjalani karier di tengah ketidakpastian, kesempatan tersebut memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar kemenangan di babak pertama.
- Perang AS-Israel dengan Iran
- Asian Games 2026
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Benny Mudesta Putra
Berita Terkait:
-
Indonesia Lolos ke Semifinal Bulu Tangkis Beregu Putra
-
Rahmat Erwin Abdullah Rebut Emas Angkat Besi Putra 75 Kg Asian Games 2026
-
Kapal pesiar jadi tempat tinggal atlet Asian Games 2026
-
Kerugian Sangat Besar , Peluang Medali Emas dari Juara Olimpiane Musnah karena Rizki Juniansyah Dilarang Bertanding
-
Takumi Hojo Raih Emas Pertama Asian Games 2026, Jepang Langsung Berpesta
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.