Impor Melonjak 27 Persen, Ekspor Hanya Tumbuh 6 Persen: Ekonomi Indonesia Aman?
📅 Minggu, 06 Sep 2026, 05:00 WIB | Oleh: Tim PenulisJakarta - Kenaikan impor Indonesia yang jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan ekspor pada Juli 2026 dinilai tidak serta-merta menunjukkan pelemahan fundamental ekonomi. Namun, lonjakan tersebut tetap perlu dicermati karena menunjukkan tingginya ketergantungan industri dalam negeri terhadap barang modal, bahan baku, dan barang antara dari luar negeri.
Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz mengatakan peningkatan impor saat ini berkaitan dengan siklus pertumbuhan berbasis investasi. Menurut dia, aktivitas investasi dan industri yang menguat mendorong kebutuhan terhadap mesin, peralatan, bahan baku, serta berbagai input produksi.
“Profil perdagangan tersebut tidak serta-merta menunjukkan fundamental ekonomi yang melemah, melainkan mencerminkan siklus pertumbuhan berbasis investasi ketika permintaan impor meningkat lebih cepat daripada penerimaan ekspor,” kata Irman dalam keterangannya berdasarkan Indonesia Market Color yang diterima di Jakarta, Sabtu (5/9).
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan impor Indonesia pada Juli 2026 mencapai 26,09 miliar dolar AS atau sekitar Rp460,12 triliun. Angka tersebut melonjak 27,02 persen dibandingkan Juli 2025.
Di sisi lain, ekspor pada periode yang sama hanya mencapai 26,22 miliar dolar AS atau sekitar Rp462,42 triliun, tumbuh 6,05 persen secara tahunan.
Kondisi tersebut membuat ruang surplus perdagangan menjadi sangat tipis. Pada Juli 2026, Indonesia hanya mencatat surplus 121,9 juta dolar AS atau sekitar Rp2,15 triliun.
Surplus tersebut sekaligus membalikkan posisi neraca perdagangan pada Juni 2026 yang mengalami defisit 450,5 juta dolar AS atau sekitar Rp7,95 triliun.
Irman mengatakan peningkatan impor perlu dilihat dari komposisinya, terutama jika barang yang masuk digunakan untuk mendukung kegiatan produksi dan memperbesar kapasitas industri dalam negeri.
“Kuatnya investasi dan aktivitas industri terus meningkatkan kebutuhan barang modal, mesin, bahan baku, dan input antara,” ujarnya.
Realisasi investasi Indonesia pada semester I 2026 tercatat sekitar Rp1.010,6 triliun atau mencapai 49,5 persen dari target investasi sepanjang tahun.
Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi tersebut tumbuh 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan menyerap sekitar 1,44 juta tenaga kerja.
Pemerintah sendiri menargetkan realisasi investasi nasional pada 2026 mencapai Rp2.041,3 triliun.
Dari total realisasi investasi semester I 2026, penanaman modal asing mencapai Rp507,6 triliun atau 50,2 persen, sedangkan penanaman modal dalam negeri sebesar Rp502,9 triliun atau 49,8 persen.
Investasi tersebut antara lain ditopang oleh industri logam dasar, pertambangan, serta sektor transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!