Dorong Surplus Beras, Menko Pangan Dorong Pengembangan Varietas Baru
Jumat, 04 Sep 2026, 13:25 WIBJAKARTA - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan mendorong pengembangan varietas beras baru, mekanisasi, serta pengelolaan produksi yang lebih efisien guna mendukung keberlanjutan surplus beras nasional.
Ia mengatakan capaian produksi beras pada 2025 merupakan kemajuan, namun masih terdapat pekerjaan rumah (PR) bagi pemerintah agar peningkatan produksi dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
âKita tahun 2025 sudah surplus, tapi sementara,â kata Zulkifli Hasan yang akrab disapa Zulhas itu dalam peluncuran buku "Pangan Indonesia: Dari Piring Sehat ke Manusia Unggul pada IdeaFest 2026" di Jakarta, Jumat (4/9).
Pemerintah sebelumnya telah menyatakan Indonesia mencapai swasembada beras pada 2025 setelah produksi nasional meningkat dan pemerintah tidak mengeluarkan izin impor beras medium sepanjang tahun tersebut.
Menurut Zulhas, peningkatan produktivitas pertanian tidak hanya bergantung pada ketersediaan lahan, tetapi juga penerapan teknologi, varietas tanaman, dan pengelolaan lahan pertanian.
âTentu itu menyangkut teknologi, menyangkut varietas baru, menyangkut manajemen pengolahan sawah. Banyak sekali faktornya sehingga dia bisa produktivitasnya tinggi,â ujar dia.
Ia menilai perbaikan pada aspek tersebut dibutuhkan untuk meningkatkan efisiensi produksi pangan domestik sekaligus memperkuat daya saing sektor pertanian.
Zulhas menyebut mekanisasi dan pengembangan varietas masih menjadi bagian dari pekerjaan rumah pemerintah dalam memperkuat produksi padi.
âKita belum melakukan apa namanya itu varietas-varietas baru belum ada, mekanisasi belum, makanya kita masih mahal. Masih PR kita banyak ini, tapi kita sudah memulai sesuatu yang bertanggung jawab,â katanya.
Pemerintah, lanjut dia, menerapkan penguatan kemandirian pangan secara bertahap sesuai dengan kesiapan dan karakteristik masing-masing komoditas.
Tahap awal difokuskan pada beras dan jagung, kemudian diperluas ke komoditas lain seperti gula, garam, dan ikan.
âOleh karena itu tidak semua kita lakukan sekaligus. Kita bertahap sekarang beras, jagung. Kemudian ini kita akan berkembang ke gula, ke garam, terus ikan,â ujar Zulhas.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi beras untuk konsumsi pangan penduduk sepanjang 2025 mencapai sekitar 34,69 juta ton, meningkat 4,07 juta ton atau 13,29 persen dibandingkan produksi 2024 sebesar 30,62 juta ton.
Pada periode yang sama, luas panen padi mencapai sekitar 11,32 juta hektare atau meningkat 12,69 persen dibandingkan 2024, sementara produksi padi mencapai 60,21 juta ton gabah kering giling (GKG).
Memasuki 2026, BPS mencatat luas panen padi secara kumulatif pada Januari-Juli mencapai 7,24 juta hektare atau naik 0,57 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, potensi produksi beras pada Agustus-Oktober 2026 diperkirakan mencapai 9,33 juta ton, turun tipis 0,90 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Potensi luas panen pada periode tersebut diperkirakan mencapai 3,07 juta hektare.
Kementerian Pertanian (Kementan) mengacu pada proyeksi neraca pangan 2026 yang memperkirakan produksi beras nasional mencapai sekitar 34,77 juta ton, sedangkan kebutuhan nasional sekitar 31,10 juta ton. Dengan proyeksi tersebut, produksi beras diperkirakan surplus sekitar 3,67 juta ton pada tahun ini.
Di sisi cadangan pemerintah, Perum Bulog hingga 2 September 2026 telah menyerap sekitar 3,7 juta ton beras dari target 4 juta ton sepanjang tahun ini. Stok beras yang tersimpan di gudang Bulog dan gudang mitra pada saat yang sama mencapai sekitar 5,4 juta ton.
Untuk memperkuat produktivitas, Kementan menargetkan penerapan Pertanian ModernâAdvanced Agriculture System (PM-AAS) pada areal hingga 1 juta hektare pada 2026.
Sistem tersebut mengintegrasikan penggunaan varietas unggul, mekanisasi, pemupukan, pengelolaan air, dan teknologi budidaya untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya produksi.
Penerapan PM-AAS antara lain telah diuji di Lampung Tengah. Kementan mencatat hasil ubinan pada demfarm seluas 100 hektare pada Agustus 2026 mencapai rata-rata 11,2 ton gabah per hektare dengan penggunaan varietas Inpari 32 dan Inpari 49, disertai mekanisasi serta dukungan sarana produksi dan irigasi.
Kementan juga memperkuat sisi perbenihan dan varietas. Hingga Agustus 2026, Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian mencatat 889 sertifikat Hak Perlindungan Varietas Tanaman telah diterbitkan sejak 2007, termasuk 87 varietas padi.
Kementerian menyebut penyediaan varietas unggul yang adaptif dan berumur genjah menjadi salah satu bagian penting untuk mendukung swasembada pangan berkelanjutan.
Zulhas menilai penguatan teknologi, varietas, dan mekanisasi menjadi penting agar peningkatan produksi tidak hanya menghasilkan kecukupan pangan dalam jangka pendek, tetapi juga memperkuat kemandirian pangan nasional secara berkelanjutan.
- Menko Pangan
- surplus beras
- Varietas Baru
Redaktur: Sriyono
Penulis: Sriyono
Berita Terkait:
-
Timnas Voli Putri U18 Indonesia Panggil 12 Pemain ke Pelatnas
-
Semoga Tidak Menular ke Indonesia, Kasus Flu Burung Meningkat dan Australia Wajibkan Karantina Unggas
-
Kasus Korupsi MBG Bertambah, Kejagung Tetapkan Sekretaris Deputi BGN Jadi Tersangka
-
Membenahi Saluran Air di Sejumlah Kawasan yang Rawan Banjir di Bogor
-
Pemprov Harap Warga Lebih Banyak Naik Angkutan Umum
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.