Suluh Sumurup 2026 Hadirkan 196 Karya Seniman Difabel dari 14 Provinsi
Jumat, 25 Sep 2026, 18:30 WIBYOGYAKARTA -- Suluh Sumurup Art Festival 2026 menghadirkan 196 karya dari 132 seniman difabel di Galeri Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Beragam goresan, warna, bentuk, dan medium yang memenuhi ruang pamer menjadi cara para seniman menyampaikan pengalaman, gagasan, serta cara mereka memandang lingkungan di sekitarnya.
Pameran yang mengusung tema Maneges ini dibuka GKR Bendara bersama Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY Dian Lakshmi Pratiwi, Kepala TBY Purwiati, dan para kurator Suluh Sumurup di Galeri TBY, Kamis (24/9) sore. Memasuki penyelenggaraan tahun keempat, festival tersebut kembali membuka ruang bagi seniman difabel untuk menunjukkan karya sekaligus berinteraksi dengan publik.
Bagi GKR Bendara, karya-karya yang hadir dalam pameran semestinya dinikmati berdasarkan apa yang disampaikan dan kualitas artistiknya, bukan semata-mata melihat kondisi pembuatnya.
âTeman-teman disabilitas hadir bukan untuk dikasihanin, melainkan untuk diapresiasi. Suluh Sumurup ini adalah ruang seni bagi teman-teman untuk diapresiasi dan tentunya berkarya setinggi-tingginya,â ujar GKR Bendara.
Ia juga mengajak masyarakat datang langsung ke TBY untuk melihat karya yang dipamerkan. Menurutnya, pengalaman menikmati pameran dapat membawa pengunjung menemukan berbagai detail yang mungkin tidak langsung terlihat.
âBukan karena disabilitasnya, tapi dari karyanya mereka yang luar biasa sekali. Kami semua di sini mengajak teman-teman untuk datang ke Suluh Sumurup di TBY,â tuturnya.
Dalam kunjungannya di ruang pamer, GKR menyebut terdapat sejumlah detail yang dapat ditemukan pengunjung pada karya-karya yang ditampilkan, termasuk bentuk kucing maupun kereta api. Temuan tersebut menjadi bagian dari pengalaman personal setiap orang ketika berhadapan dengan karya seni.
Dian Lakshmi Pratiwi mengatakan tema Maneges melanjutkan perjalanan gagasan yang dibangun Suluh Sumurup sejak penyelenggaraan sebelumnya. Setelah Gegandengan, Jumangkah, dan Jejer, Maneges mengajak para seniman melakukan refleksi untuk melihat kembali keberadaan sekaligus arah langkah mereka melalui karya.
âSuluh Sumurup bukan sekadar pameran seni rupa, tetapi ruang untuk menyatakan keberadaan. Ruang yang memberikan kesempatan kepada setiap individu untuk berkarya, untuk didengar, untuk diapresiasi, dan untuk mengambil bagian dalam kehidupan kebudayaan,â kata Dian.
Ia mengatakan kualitas karya menjadi dasar dalam memberikan apresiasi terhadap karya seniman difabel. Karena itu, penyelenggaraan Suluh Sumurup diarahkan sebagai ruang kebudayaan yang setara dan inklusif.
âKeren sekali. Jangan lupa datang. Ini adalah cara kita mengapresiasi karya-karya seni, bukan karena disabilitasnya, tetapi karena kualitasnya. Jadi, TBY ingin Suluh Sumurup ini menjadi ruang yang benar-benar setara, inklusif, dan terus berkelanjutan,â tandasnya.
Sebanyak 132 seniman yang terlibat dalam pameran berasal dari 13 komunitas, sanggar, sekolah, dan Taman Budaya yang mewakili 14 provinsi di Indonesia. Karya-karya yang dihadirkan menggunakan beragam medium dan memperlihatkan karakter yang berbeda-beda, sesuai pengalaman serta respons masing-masing seniman terhadap lingkungan dan kondisi sosial.
Para kurator Suluh Sumurup 2026, Nano Warsono, Budi Irawanto, dan Sukri Budi Dharma, menjelaskan Maneges berangkat dari kata âtegesâ yang bermakna jelas. Tema tersebut dimaknai sebagai proses untuk menemukan kejelasan diri melalui refleksi dan perenungan, termasuk memahami posisi dan identitas diri ketika menghadapi berbagai tantangan.
Gagasan tersebut kemudian diterjemahkan melalui karya. Etos dan konsistensi dalam berkarya menjadi bagian dari proses untuk menunjukkan keteguhan para seniman.
Perjalanan tema Suluh Sumurup dari tahun ke tahun juga memiliki keterkaitan. Gegandengan mengangkat pentingnya membangun relasi dan saling menguatkan, Jumangkah mengajak untuk berani melangkah bersama, sedangkan Jejer berbicara mengenai posisi dan keberadaan. Melalui Maneges, perjalanan tersebut diarahkan pada upaya memperjelas arah dan meneguhkan langkah.
Kepala TBY Purwiati mengatakan Suluh Sumurup menjadi ruang bagi seniman difabel untuk mengekspresikan diri, menciptakan karya, menyampaikan gagasan, sekaligus berinteraksi dengan masyarakat secara setara.
Penyelenggaraan tahun ini sekaligus menjadi bagian dari Temu Karya Taman Budaya (TKTB) se-Indonesia XXV Tahun 2026, dengan TBY sebagai tuan rumah.
Selain pameran seni rupa, rangkaian Suluh Sumurup 2026 juga diisi lokakarya seni, pertunjukan, artist talk, serta stan UMKM yang menampilkan produk karya pelaku UMKM difabel. Kegiatan tersebut didukung melalui Dana Alokasi Khusus Kementerian Kebudayaan RI.
Melalui karya-karya yang memenuhi ruang pamer, Suluh Sumurup 2026 memperlihatkan pengalaman dan gagasan seniman difabel tanpa menjadikan kondisi disabilitas sebagai satu-satunya cara untuk memandang karya. Tema Maneges membawa pengunjung pada gagasan tentang mengenali diri, memperjelas posisi, dan meneguhkan langkah melalui proses berkarya.
âSemoga Suluh Sumurup senantiasa menjadi suluh yang menerangi dan sumurup yang menghidupkan, menghadirkan ruang-ruang kebudayaan yang setara, inklusif, dan berkelanjutan,â pungkas Dian.
Redaktur: Eko S
Penulis: Eko S
Berita Terkait:
-
Pemprov Kaltim Uji Ketahanan Jembatan Mahakam Ulu Usai Ditabrak Tongkang Tiga Kali
-
Hari Ini, Samsat Keliling Polda Metro Jaya Tetap Layani Warga Jadetabek, Berikut Lokasinya!
-
Menko PMK Pratikno Bantah Rumor Dirinya Minta Mundur
-
Indahnya Ramadan: Koramil 1710-07/Mapurujaya Bagikan Takjil Gratis untuk Masyarakat
-
Karhutla Mengganas, Bengkayang Naikkan Status Jadi Tanggap Darurat Asap
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.