- Home
-
- Luar Negeri
-
- PM Nepal Menuntut Aksi Ikl...
PM Nepal Menuntut Aksi Iklim Global Pasca Bencana Banjir Bandang di Himalaya
Selasa, 01 Sep 2026, 09:07 WIBKATHMANDU - Perdana Menteri Nepal Balendra Shah mengatakan banjir bandang yang dahsyat di Himalaya pekan lalu bukanlah peristiwa biasa, melainkan disebabkan oleh perubahan iklim, dan ia menuntut tindakan internasional.
Gelombang besar air dingin dan puing-puing, yang dipicu runtuhnya gletser di perbatasan Tiongkok-Nepal, menewaskan sedikitnya 939 orang dan menyebabkan hampir 4.500 orang hilang, Kathmandu memperingatkan biaya rekonstruksi dapat mencapai "miliaran dollar".
"Banjir di Sungai Bhote Koshi di Rasuwa bukanlah banjir biasa," kata PM Balendra Shah dalam sebuah unggahan di media sosial, Senin (31/8) malam.
"Itu adalah salah satu bencana besar di wilayah tersebut, yang dipicu oleh longsoran salju dan es di wilayah Himalaya," katanya.
Meskipun penyebab pasti runtuhnya gletser belum jelas, perubahan iklim menyebabkan gletser mencair di seluruh dunia, sehingga meningkatkan risiko bencana semacam itu.
Para ilmuwan mengatakan, Himalaya, pegunungan tertinggi di dunia, mencair lebih cepat seiring dengan meningkatnya suhu global.
"Insiden ini menunjukkan bahwa risiko yang kita hadapi di wilayah Himalaya meningkat seiring dengan perubahan iklim," tambah Shah.
"Oleh karena itu, wilayah ini harus tetap waspada."
Nepal, sebuah negara pedesaan dengan 30 juta penduduk, hanya sedikit berkontribusi terhadap emisi yang mendorong pemanasan global yang dihasilkan oleh negara-negara kaya dan industri, tetapi justru menderita akibatnya.
Shah mengatakan Nepal harus memperjuangkan kasusnya di tingkat internasional.
"Sekaranglah saatnya bagi kita untuk secara tegas mengangkat isu bencana yang kita alami sebagai akibat dari perubahan iklim kepada komunitas internasional," katanya.
Gletser di pegunungan Himalaya dan Hindu Kush yang lebih luas merupakan sumber air penting bagi sekitar 240 juta orang di wilayah pegunungan, serta bagi 1,65 miliar orang lainnya di lembah sungai Asia Selatan dan Asia Tenggara di bawahnya.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, saat mengunjungi Nepal pada tahun 2023, memperingatkan bahwa wilayah Himalaya sedang berjuang menghadapi gletser yang mencair dengan cepat dan bahwa "atap-atap dunia sedang runtuh".
Menyusul bencana hari Rabu, kepala iklim PBB Simon Stiell mengatakan bencana itu adalah "pengingat yang memilukan tentang betapa rapuhnya lingkungan pegunungan ini", katanya.
Ekonomi Nepal sudah berada di bawah tekanan, dengan sumber daya terbatas untuk menanggapi bencana sebesar ini.
- Banjir Bandang Nepal-Tibet
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: AFP
Berita Terkait:
-
Banjir Bandang Nepal Terjang Permukiman, Ratusan Orang Masih Hilang
-
Pemasangan jaring untuk produksi padi lebih maksimal
-
Korban Tewas Banjir Nepal-Tibet Capai 804 Orang dan 3.048 Hilang, Jenazah Mulai Dikuburkan
-
Jumlah Korban Tewas Akibat Banjir Bandang di Perbatasan Nepal-Tiongkok Terus Bertambah
-
Kepala Sekolah Berhasil Selamatkan Nyawa 900 Siswa dari Terjangan Banjir Bandang Nepal-Tibet di Menit-Menit Terakhir
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.