Turis Makin Lama di Nusa Dua, Belanja UMKM Bali Ikut Melejit

Selasa, 25 Agu 2026, 09:50 WIB

DENPASAR – Peningkatan waktu inap wisatawan menjadi indikator penting bahwa destinasi tidak hanya berhasil menarik pengunjung, tetapi juga mampu membuat mereka bertahan lebih lama.

Semakin panjang masa tinggal, semakin besar potensi belanja yang mengalir ke hotel, kuliner, transportasi, UMKM, hingga ekonomi kreatif.

Ket. Foto: Sejumlah wisatawan mancanegara mengunjungi pusat kerajinan di Bali Collection, Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Senin (24/8/2026). — Sumber: ANTARA/ HO-ITDC

Karena itu, pengembangan atraksi, kualitas layanan, dan konektivitas perlu diarahkan untuk memperpanjang lama tinggal sekaligus meningkatkan dampak ekonomi pariwisata.

BUMN PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau ITDC menyebutkan peningkatan rata-rata lama menginap wisatawan di kawasan pengelolaan the Nusa Dua di Kabupaten Badung, Bali, mendongkrak belanja di sektor UMKM.

“Wisatawan tinggal lebih lama memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi ekosistem pariwisata,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama Ahmad Fajar di Denpasar, Bali, Senin (25/8).

Menurut Ahmad, perusahaannya mencatat selama semester I-2026, tingkat okupansi atau hunian kamar perhotelan di kawasan elit itu rata-rata mencapai 70,51 persen dan lama menginap mencapai 2,76 malam.

Capaian itu melampaui rata-rata tingkat okupansi perhotelan di seluruh Bali yang mencapai 64,87 persen pada semester I-2026, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali.

Realisasi itu sejalan dengan tingkat kunjungan wisatawan baik domestik dan mancanegara mencapai hampir 1,8 juta orang atau naik 8,16 persen pada paruh 2026.

Hasil itu, kata dia, masih menjadi kontributor terbesar di antaranya tiga destinasi yang dikelola BUMN itu yaitu Golo Mori di NTT dan Mandalika di NTB.

BPS Bali mencatat belanja wisatawan asing di Bali pada 2025 diperkirakan sekitar Rp2,11 juta per malam, meningkat dibandingkan 2024 mencapai Rp2,05 juta.

Adapun peningkatan nominal belanja tersebut menyesuaikan penguatan nilai tukar dolar AS pada waktu itu dengan kurs yang digunakan untuk mengukur pengeluaran wisatawan mancanegara di Bali adalah Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia sebesar Rp15.850 per dolar AS pada 2024.

Sedangkan pada 2025, kurs sudah berubah seiring penguatan dolar AS mencapai Rp16.478.

Rata-rata pengeluaran wisatawan asing per kunjungan di Bali berdasarkan jenis pengeluaran yaitu paling banyak untuk akomodasi, kemudian makan dan minum dan belanja untuk hiburan.

Ahmad optimistis memasuki semester II-2026, tren pertumbuhan akan semakin menguat seiring bergulirnya berbagai agenda strategis di seluruh kawasan.

Berbagai agenda nasional maupun internasional diproyeksikan menjadi katalis peningkatan kunjungan wisatawan, okupansi, aktivitas bisnis, sekaligus memperkuat dampak ekonomi bagi sektor perhotelan, transportasi, UMKM, ekonomi kreatif, dan pelaku usaha lokal.

  • wisatawan
  • Pariwisata Bali
  • menginap
  • The Nusa Dua

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.