• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Hope: Dua Jam Tahan Napas ...

Hope: Dua Jam Tahan Napas saat Monster Alien Membantai Desa Terpencil Dekat Zona Demiliterisasi Korea

Rabu, 09 Sep 2026, 21:38 WIB

Hope bukan film tentang bagaimana manusia mencari cara untuk hidup berdampingan dengan makhluk asing. Film terbaru sutradara Korea Selatan Na Hong-jin ini justru membawa penonton ke situasi yang jauh lebih brutal: sebuah desa terpencil di dekat Zona Demiliterisasi Korea berubah menjadi arena perburuan, ketika manusia dan makhluk alien saling memburu untuk bertahan hidup.

Na Hong-jin, sutradara The Chaser, The Yellow Sea, dan The Wailing, kembali setelah 10 tahun dengan film berdurasi sekitar 160 menit. Ia sekaligus menjadi penulis skenario Hope. Film ini diputar dalam kompetisi utama Festival Film Cannes 2026.

Ket. Foto: Hope merupakan film pertama Na Hong-jin yang masuk kompetisi utama memperebutkan Palme d’Or di Festival de Cannes 2026 — Sumber: Istimewa

Hope merupakan film pertama Na Hong-jin yang masuk kompetisi utama untuk memperebutkan Palme d’Or. Kehadiran Hope di Festival de Cannes 2026 juga menjadi bagian penting dalam perjalanan Na Hong-jin di festival tersebut. Setelah The Chaser diputar pada Midnight Screening 2008, The Yellow Sea masuk Un Certain Regard pada 2011, dan The Wailing ditayangkan di luar kompetisi pada 2016, Hope menjadi film pertama Na Hong-jin yang masuk kompetisi utama pagelaran bergengsi ini. 

Cannes menyebut Na sebagai pembuat film yang dikenal dengan ketegangan yang mencekik, kekerasan yang kering, serta gaya penyutradaraan yang menampilkan kekacauan secara fisik. Dalam Hope, karakteristik tersebut kemudian dibawa ke wilayah thriller, fantasi, horor, dan fiksi ilmiah melalui kisah sebuah desa di dekat DMZ, zona demiliterisasi Korea yang berhadapan dengan makhluk misterius. Korean Demilitarized Zone (DMZ) adalah wilayah perbatasan berbentuk jalur penyangga yang memisahkan Korea Utara dan Korea Selatan yang dipenuhi dengan ranjau darat mematikan

Yang menarik, Na tidak buru-buru memperlihatkan monster tersebut.

Pada bagian awal, penonton justru diperlihatkan akibat dari serangan yang belum diketahui sumbernya. Seekor sapi ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Kemudian muncul tubuh-tubuh korban, bangunan yang rusak, serta jejak kekerasan yang membuat warga dan aparat setempat berusaha memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Kengerian itu dibangun melalui gambar, suara, dan pergerakan karakter, bukan melalui penjelasan panjang. Dalam waktu yang cukup lama, penonton hanya mengetahui bahwa ada sesuatu yang sangat berbahaya berkeliaran di sekitar desa.

Strategi tersebut membuat bagian awal Hope menjadi salah satu bagian paling efektif dalam film. RogerEbert.com bahkan mencatat bahwa hampir satu jam pertama film dipenuhi rangkaian kekacauan dan pembantaian sebelum sosok makhluk yang menjadi sumber teror benar-benar diperlihatkan.

Selain teror monster, Na Hong-jin juga berhasil menampilkan kehidupan di desa tersebut terasa nyata melalui detail-detail kecil yang dibangun sepanjang film. Bentuk rumah dan bangunan pedesaan, kandang serta hewan ternak, pakaian yang dikenakan warga, hingga aktivitas sehari-hari membuat lokasi cerita terasa seperti sebuah komunitas yang benar-benar hidup.

Hubungan antara warga dan aparat setempat juga digambarkan cukup akrab, tidak sekadar sebatas hubungan antara petugas dan masyarakat. Percakapan santai, interaksi di antara warga, serta kebiasaan mereka dalam menjalani aktivitas sehari-hari memperlihatkan karakter sebuah desa Korea yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Detail tersebut kemudian membuat perubahan suasana setelah serangan monster terasa semakin kontras, karena kawasan yang sebelumnya digambarkan sebagai lingkungan pedesaan yang tenang perlahan berubah menjadi lokasi pengejaran, kepanikan, dan pembantaian.

Ketegangan yang tidak berhenti

Begitu sosok alien akhirnya terungkap, ketegangan tidak ikut menurun. Sebaliknya, film justru berubah menjadi rangkaian kejar-kejaran panjang antara manusia dan makhluk tersebut.

Polisi, pemburu, dan warga mencoba menemukan cara untuk membunuhnya. Namun setiap usaha menghadirkan masalah baru. Makhluk itu bukan hanya sulit dihentikan, tetapi juga mampu membalikkan keadaan sehingga orang-orang yang awalnya memburu justru berubah menjadi korban.

Di sinilah Hope terasa seperti film survival yang nyaris tidak memberikan waktu untuk bernapas. Manusia mengejar alien. Alien mengejar manusia.

Mobil, kendaraan, hutan, jalan desa, dan berbagai lokasi lain berubah menjadi arena pertempuran. Beberapa adegan bahkan berkembang menjadi aksi yang sangat besar dengan penggunaan senjata, kendaraan, ledakan, serta koreografi pengejaran yang sengaja dibuat berlebihan.

The Guardian menggambarkan film ini sebagai tontonan yang mengandalkan aksi alien non-stop, perpaduan efek digital dan pertunjukan aksi bergaya lama. Desa yang hancur tanpa perlu banyak penjelasan

Salah satu kelebihan Hope adalah cara Na Hong-jin menunjukkan skala tragedi tanpa harus menjelaskan semuanya melalui dialog.

Penonton bisa memahami bahwa serangan tersebut berdampak sangat besar hanya dengan melihat kondisi desa.

Tubuh korban tersebar di berbagai lokasi. Bangunan mengalami kerusakan. Jalan-jalan yang sebelumnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari berubah menjadi lokasi pembantaian. Warga yang semula hanya berhadapan dengan misteri kemudian harus menghadapi ancaman yang jauh lebih besar.

Pendekatan visual semacam ini membuat desa dalam Hope terasa seperti wilayah yang benar-benar sedang mengalami bencana, bukan sekadar latar untuk pertarungan manusia melawan monster.

Lokasinya juga memperkuat atmosfer tersebut. Cerita ditempatkan di sebuah kawasan terpencil Korea Selatan yang berada dekat DMZ, wilayah yang sejak awal memiliki konteks geografis dan politik tersendiri. Festival Film Cannes menggambarkan desa Hope sebagai kawasan dengan populasi yang didominasi warga lanjut usia, sementara aparat setempat harus bertahan ketika bantuan dari luar tidak tersedia dan komunikasi terputus.

Hampir tiga jam berlari, mengejar dan diburu.

Namun, Hope juga memiliki kelemahan yang cukup jelas.

Sebagian besar durasinya digunakan untuk aksi. Film ini lebih tertarik memperlihatkan apa yang terjadi setelah serangan daripada menjelaskan secara panjang lebar dari mana makhluk tersebut berasal.

Bagi penonton yang mengharapkan cerita fiksi ilmiah dengan mitologi alien yang kompleks sejak awal, pendekatan ini mungkin terasa minim.

Tetapi justru di situlah film ini bekerja sebagai hiburan.

Na Hong-jin seolah memahami bahwa penjelasan mengenai monster bukan prioritas utama. Yang lebih penting adalah membuat penonton merasakan bagaimana rasanya berada di sebuah desa ketika sesuatu yang tidak dikenal sedang memburu manusia satu per satu.

Cerita mengenai asal-usul makhluk dan alasan di balik berbagai peristiwa baru mendapatkan porsi lebih besar menjelang bagian akhir. Festival Cannes sendiri merangkum premisnya sebagai tragedi yang bermula dari ketidaktahuan, kemudian berkembang melalui konflik antarmanusia menjadi bencana berskala kosmik.

Namun mungkin satu-satunya kekurangan di karya ini adalah soal visual CGI monster alien yang ada. Saat makhluk-makhluk tersebut muncul dalam kelebatan cepat, atau suasana pencahayaan yang suram, visualisasinya memang sangat menyeramkan dan nyata. Namun pada scene-scene jarak dekat dalam cahaya terang, penampakan alien Na Hong-jin ini kurang nyata karena tampak jelas merupakan hasil komputer grafis. 

Namun karena adegan yang menampilkan suasana terang tidak banyak, dan memang detil sosok monsternya nyaris sempurna mengerikan, kekurangan-kekurangan tersebut cukup terobati. Apalagi dalam beberapa scene, sosok monster yang ada ditampilkan dalam  Creature prop (properti fisik berbentuk makhluk/monster) detil yang sangat berkelas. 

Brutal, tetapi masih punya humor

Meski dipenuhi kekerasan, Hope tidak sepenuhnya mengambil nada serius.

Na menyisipkan humor di tengah kekacauan. Beberapa karakter bahkan digambarkan dengan sisi yang konyol dan tidak selalu terlihat seperti pahlawan film monster pada umumnya.

Humor tersebut menjadi penyeimbang bagi adegan-adegan brutal. Film tidak terus-menerus memaksa penonton berada dalam suasana gelap. Di antara kejar-kejaran, pembantaian, dan kehancuran, muncul sejumlah momen yang cukup segar tanpa terasa seperti komedi yang ditempelkan secara paksa.

Karakter Bum-seok yang diperankan Hwang Jung-min menjadi salah satu sumber energi tersebut. Sementara Zo In-sung berperan sebagai Sung-ki, pemburu yang ikut berhadapan dengan makhluk tersebut, dan Jung Ho-yeon tampil sebagai polisi Sung-ae. Film ini juga menghadirkan Michael Fassbender, Alicia Vikander, Taylor Russell, dan Cameron Britton.

Na Hong-jin memilih spektakel

Yang membuat Hope menarik adalah keberanian Na Hong-jin mengubah pendekatan yang selama ini dikenal dari film-film sebelumnya.

Jika The Chaser, The Yellow Sea, dan The Wailing lebih dikenal melalui atmosfer gelap, kriminalitas, misteri, dan horor psikologis, Hope bergerak jauh lebih besar.

Ini adalah film monster, sci-fi, horor, aksi, sekaligus komedi gelap.

Kameramen Hong Kyung-pyo, yang juga menggarap Parasite dan Snowpiercer, memberikan skala visual yang membuat pengejaran dan kehancuran desa terasa lebih besar.

Hasilnya memang tidak sepenuhnya sempurna. Sejumlah kritikus menilai kualitas CGI monster tidak selalu konsisten, terutama ketika film memasuki wilayah spektakel yang lebih besar. Ada pula kritik bahwa cerita menjadi terlalu panjang dan mulai terasa seperti pembuka sebuah waralaba.

Namun, kelemahan tersebut tidak menghilangkan kekuatan utama Hope: kemampuannya membuat penonton terus menunggu apa yang akan terjadi dalam adegan berikutnya.

Film ini juga menunjukkan bahwa monster tidak selalu harus langsung diperlihatkan untuk menciptakan rasa takut. Pada bagian awal, justru jejak kehancuran, mayat, suara, dan reaksi manusia terhadap sesuatu yang belum terlihat sudah cukup untuk membangun ketegangan.

Dan ketika monster akhirnya muncul, persoalannya berubah.

Penonton tidak lagi bertanya, "Apa yang sebenarnya menyerang desa ini?"

Pertanyaannya menjadi:

"Bagaimana mereka bisa menghentikannya?"

Itulah yang kemudian membuat Hope terus bergerak selama hampir tiga jam.

Film ini memang tidak menawarkan eksplorasi sci-fi yang sangat mendalam mengenai asal-usul alien sejak awal. Namun sebagai tontonan monster-survival, Hope sangat efektif. Na Hong-jin tahu kapan harus menahan informasi, kapan memperlihatkan kehancuran, kapan meledakkan aksi, dan kapan menyisipkan humor.

Respons di Cannes pun menunjukkan hal tersebut: film ini mendapat perhatian besar karena keberaniannya membawa monster movie berskala besar ke kompetisi utama, meskipun penilaian terhadap CGI dan panjang durasinya cukup beragam.

Pada akhirnya, Hope adalah film yang lebih mudah dirasakan daripada dijelaskan.

Ketegangannya lahir dari pengejaran. Kengerian muncul dari jejak korban. Skala bencananya terlihat dari kehancuran desa. Sementara cerita besarnya baru dibuka menjelang akhir.

Dan untuk film monster yang sebagian besar waktunya dihabiskan dengan manusia berusaha memburu makhluk asing—atau justru melarikan diri karena diburu—Hope berhasil menjalankan fungsi utamanya: membuat penonton terus menahan napas sampai film berakhir.

  • Review Film

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.