- Home
-
- Luar Negeri
-
- Usai Eksperimen Teknologi ...
Usai Eksperimen Teknologi Ukraina, AS Kembalikan Unit Perang Drone Jadi Batalion Lintas Udara
Jumat, 21 Agu 2026, 16:55 WIBJAKARTAÂ -Â Angkatan Darat Amerika Serikat (AS) memutuskan mengembalikan sebuah unit khusus perang drone yang ditempatkan di Eropa ke fungsi awalnya sebagai batalion infanteri. Unit yang berada di bawah Brigade Lintas Udara ke-173 itu sebelumnya dibentuk untuk mengembangkan dan menguji strategi peperangan tanpa awak.
Sekitar 600 prajurit membentuk batalion khusus tersebut pada November lalu setelah sebelumnya melakukan berbagai eksperimen terkait penggunaan drone dalam pertempuran. Pengembangan kemampuan tersebut banyak dipengaruhi pengalaman Ukraina yang menggunakan drone secara intensif dalam menghadapi Rusia.
Jenderal Christopher LaNeve yang kini menjabat sebagai penjabat kepala staf Angkatan Darat AS memerintahkan unit tersebut kembali memprioritaskan tugas utamanya sebagai pasukan infanteri lintas udara. Informasi tersebut disampaikan sejumlah pejabat AS yang mengetahui pembahasan internal Angkatan Darat.
Keputusan itu muncul di tengah perubahan yang lebih luas di tubuh Angkatan Darat AS setelah LaNeve mengambil alih kepemimpinan dari Jenderal Randy George pada April. Meski kembali ke peran infanteri, pengalaman yang diperoleh batalion tersebut dalam eksperimen drone tetap akan menjadi bahan evaluasi untuk pengembangan kekuatan militer AS berikutnya.
Eksperimen Drone Tetap Dilanjutkan
Brigade Lintas Udara ke-173 sebenarnya sudah mengembangkan kemampuan drone jauh sebelum pembentukan batalion khusus tersebut. Pada Mei 2025, sejumlah prajurit brigade yang bermarkas di Italia dan Jerman itu mulai merancang serta membuat drone serang melalui laboratorium drone FPV di Caserma Del Din, Italia.
Pengembangan tersebut dilakukan setelah para prajurit mempelajari penggunaan drone FPV dalam perang Ukraina. Mereka kemudian mencoba menerapkan teknologi serupa melalui latihan sekaligus mengembangkan kemampuan drone yang dapat beroperasi ketika menghadapi gangguan sinyal.
Selain teknologi drone, unit tersebut juga melakukan eksperimen menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Pengembangan ini sejalan dengan dorongan militer AS untuk meningkatkan pemanfaatan teknologi baru dalam menghadapi karakter peperangan modern.
Angkatan Darat AS menyatakan unit khusus tersebut masih akan menyelesaikan serangkaian eksperimen melalui dua latihan besar di Jerman. Hasil latihan tersebut nantinya akan disampaikan kepada Angkatan Darat sebagai bahan pertimbangan untuk desain kekuatan serta pengembangan eksperimen teknologi tanpa awak di masa depan.
âUnit tersebut ditugaskan untuk mempelajari dan menyerap pelajaran dari pasukan sistem nirawak khusus, termasuk yang dikembangkan oleh angkatan bersenjata Ukraina,â kata Angkatan Darat AS dalam keterangannya.
Pengalaman Ukraina Tetap Jadi Pelajaran
Pengembalian unit drone menjadi batalion infanteri dilakukan ketika teknologi drone justru semakin berperan dalam konflik bersenjata. Perang Iran juga memperlihatkan bagaimana drone berbiaya relatif rendah dapat digunakan untuk menyerang sasaran militer dan membuat lawan mengeluarkan sistem pertahanan yang lebih mahal.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy sebelumnya menyebut pejabat negaranya telah membantu sejumlah negara di Timur Tengah dan kawasan Teluk menghadapi serangan drone Iran. Kondisi tersebut memperlihatkan semakin besarnya kebutuhan berbagai negara untuk mempelajari strategi menghadapi peperangan tanpa awak.
Sebelumnya, integrasi drone ke dalam formasi Angkatan Darat AS menjadi salah satu agenda utama Jenderal Randy George. Bersama Menteri Angkatan Darat Dan Driscoll, George mendorong penggunaan sistem pesawat tanpa awak yang lebih modern agar tidak hanya digunakan unit khusus, tetapi juga dapat dimanfaatkan oleh prajurit reguler.
George juga secara rutin menyerukan percepatan pengembangan sistem drone untuk menyesuaikan kemampuan militer AS dengan perubahan karakter perang. Namun, setelah George diberhentikan pada April tanpa penjelasan publik, LaNeve mengambil alih kepemimpinan Angkatan Darat.
LaNeve Dorong Adaptasi Teknologi
Dalam memo panduan yang diterbitkan Rabu, LaNeve menekankan bahwa militer AS harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan pola peperangan. Menurutnya, prajurit perlu menggabungkan kemampuan manusia dengan teknologi seperti sistem otonom dan kecerdasan buatan.
âPerang berikutnya tidak akan seperti perang terakhir kita,â tulis LaNeve dalam memo tersebut.
Meski menekankan pentingnya inovasi dan pemanfaatan teknologi, memo itu tidak secara khusus membahas drone. Dokumen tersebut justru menekankan pentingnya membangun Angkatan Darat yang disiplin, tangguh dan mampu menghadapi musuh secara langsung.
Dengan perubahan tersebut, batalion perang drone di Eropa akan kembali menjalankan fungsi utamanya sebagai unit infanteri lintas udara. Sementara itu, pengalaman hampir setahun dalam pengembangan drone, AI, dan peperangan tanpa awak tetap akan menjadi bagian dari pembelajaran Angkatan Darat AS dalam menghadapi perkembangan konflik modern.
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Paundra Zakirulloh
Berita Terkait:
-
PINTU Incubator Perkuat Kolaborasi Mode Indonesia-Prancis di JF3 2026
-
Jutaan Orang Ramai-ramai Ingin Pindak ke Amerika, Ada Apa?
-
Mbappe Raih Golden Boot Piala Dunia 2026, Ukir Sejarah sebagai Juara Top Skor Dua Edisi Beruntun
-
F&B ID Nobatkan Tea-rista Terbaik Indonesia 2026 Lewat Chatime Tea-rista Competition
-
Membangun Jakarta semakin Inklusif untuk Disabilitas
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.