Pelaku Usaha Dorong Optimalisasi Peluang Ekonomi
Kamis, 24 Sep 2026, 01:00 WIBJAKARTA â Optimalisasi berbagai peluang ekonomi mulai dari perjanjian perdagangan dan pengembangan ekonomi kreatif dapat menjadi pengungkit daya saing perekonomian nasional, tetapi peluang tersebut harus diikuti penguatan kapasitas pelaku usaha, inovasi produk, dan akses pasar. Tanpa kesiapan di sisi produksi dan kualitas, peluang perdagangan berisiko lebih banyak menjadi pasar bagi produk asing daripada mendorong ekspor nasional.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani menyampaikan Indonesia memiliki sejumlah sumber pertumbuhan yang dapat dioptimalkan, seperti perjanjian perdagangan, peluang relokasi industri global, hilirisasi, ekonomi digital, ekonomi kreatif, transisi energi, serta pengembangan manufaktur berteknologi tinggi seperti baterai dan kendaraan listrik.
âSaat ini, Indonesia memiliki 20 perjanjian perdagangan, 15 perjanjian yang masih dalam proses perundingan dan 11 lainnya dalam tahap ratifikasi,â ungkapnya dalam ANTARA Business Forum (ABF) 2026 di Jakarta, Rabu (23/9).
Menurut Shinta, negara mitra dalam berbagai perjanjian perdagangan tersebut memiliki cakupan yang signifikan terhadap perdagangan, yakni mencapai 68 persen dari total ekspor dan 77 persen dari impor nasional. "Ke depan implementasi ini yang menjadi kunci jadi bukan hanya penyelesaian perjanjian, tapi seberapa banyak utilisasi daripada perjanjian," katanya.
Relokasi Industri
Di sisi lain, perubahan strategi produksi global dan disrupsi rantai pasok juga membuka peluang bagi Indonesia untuk menarik relokasi industri. "Vietnam misalnya mulai menghadapi peningkatan biaya tenaga kerja, kenaikan harga lahan industri, serta pasar tenaga kerja yang semakin ketat. Jadi ini sebenarnya menjadi satu peluang buat Indonesia," ucapnya.
Pada sektor strategis, investasi hilirisasi industri tercatat mencapai 407,8 triliun rupiah pada 2024 atau sekitar 23,8 persen dari total investasi nasional. Lebih lanjut, ekonomi kreatif juga menunjukkan banyak peluang mengingat memiliki 17 subsektor yang bisa menghasilkan 102 miliar dollar AS dan menyerap sekitar 27 juta pekerja.
Sementara itu, kebutuhan investasi untuk mendukung transisi energi diperkirakan mencapai 285 miliar dolar AS guna mencapai target Nationally Determined Contribution (NDC). "Dan pada high tech manufacturing khususnya battery and EV Indonesia memiliki sekitar 21 juta ton cadangan nikel, dan sekitar 23 persen dari cadangan global. Jadi ini kalau dilihat sektor-sektor juga banyak sebenarnya peluang yang ada," kata dia lagi.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Pelatihan Vokasi Nasional Batch 4 Dibuka, Kemnaker Dorong SDM Unggul dan Siap Kerja.
-
PBB Laporkan Suhu Dunia Lampaui 1,5 Derajat Celsius, Risiko Bencana dan Ancaman Kesehatan Meningkat
-
MPR RI Dorong Penguatan Kolaborasi Perluas Kesempatan Kerja Penyandang Disabilitas
-
Apa Bedanya Kopdes dengan Minimarket?
-
Perkuat Fasilitas Pengelolaan Persampahan, DLH Makassar Tambah Armada dan Siapkan Puluhan Mesin Pengolah
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.