- Home
-
- Luar Negeri
-
- Kuba Tegaskan Tak Menyerah...
Kuba Tegaskan Tak Menyerah Lawan Cengkeraman Ekonomi AS
Rabu, 26 Agu 2026, 21:19 WIBISTANBUL - Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel mengatakan dialog dengan Amerika Serikat mandek dan belum ada agenda jelas untuk negosiasi.
Diaz-Canel juga membantah klaim bahwa Kuba berada di ambang kehancuran ekonomi, demikian dilaporkan surat kabar Brasil Folha de S.Paulo seperti dikutip Anadolu pada Rabu (26/8).
"Ada keinginan untuk berdialog dan ada pejabat dari pemerintah kami yang telah berbicara dengan pihak Pemerintah AS. Namun, sejauh ini belum memungkinkan untuk mencapai kemajuan. Tidak ada agenda," kata Diaz-Canel.
Dia mengatakan Kuba tetap bersedia membuka saluran dialog dengan AS, tetapi menolak negosiasi yang dilakukan di bawah tekanan.
"Tidak boleh ada dialog di bawah penindasan. Kami perlu mencari saluran dialog tanpa prasyarat," tegasnya.
Diaz-Canel juga menuding pemerintahan Presiden AS Donald Trump berusaha mencekik perekonomian Kuba hingga memicu ledakan sosial yang dapat menyebabkan jatuhnya Revolusi Kuba.
Dia juga menuduh AS berusaha menutup semua jalan keluar yang tersedia bagi Kuba, merujuk pada pernyataan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.
Diaz-Canel membantah pula klaim bahwa negaranya berada di ambang kehancuran, meskipun terjadi kelangkaan bahan bakar, listrik, pangan, dan obat-obatan.
"Kami berada dalam situasi yang kompleks, tetapi situasi ini ditandai oleh kreativitas yang luar biasa dan ketahanan historis rakyat Kuba," katanya.
Lebih lanjut, Diaz-Canel mengakui berbagai persoalan yang disebabkan birokrasi pemerintah dan keterlambatan pelaksanaan reformasi, tetapi menyebut krisis ekonomi Kuba terutama disebabkan oleh "blokade" AS.
Ekonomi Kuba menyusut 15 persen sejak Diaz-Canel menjabat, menurut data yang dikutip Folha de S.Paulo. Kuba juga menghadapi pemadaman listrik berkepanjangan dan kelangkaan bahan bakar di tengah krisis yang semakin parah.
Diaz-Canel membela paket 176 langkah ekonomi yang disetujui parlemen Kuba pada Juni, dengan mengatakan reformasi tersebut bertujuan memperkuat model ekonomi sosialis negara itu.
Langkah-langkah tersebut memperluas peran sektor usaha swasta dan investasi asing, tetapi dia menolak anggapan bahwa kebijakan itu merupakan pergeseran menuju kapitalisme.
Wawancara tersebut berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan antara Kuba dan AS, ketika pemerintahan Trump memperketat tekanan ekonomi terhadap Kuba.
Diaz-Canel mengatakan Havana akan terus mempertahankan kedaulatannya sembari tetap terbuka untuk berdialog dengan Washington tanpa prasyarat. Ant
Berita Terkait:
-
Rupiah Menguat, Harga Emas Turun
-
Jaga Konektivitas, PU Kebut Rekonstruksi Permanen 47 Jembatan di Sumatra
-
Tak Hanya di RI! Pertamina Drilling Ekspansi ke Malaysia & Timor Leste, Bidik Pasar Global
-
Puluhan Tim dari Berbagai Provinsi Ikuti Lomba Dayung Perahu Naga di Tangerang
-
Antonelli Dituntut Bangkit di Belgia
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.