Asian Games Nagoya 2026 Ditutup: Rekor Baru Tercipta, Kontroversi Bermunculan

Minggu, 04 Okt 2026, 13:56 WIB

NAGOYA, Jepang — Asian Games di Jepang resmi berakhir pada hari Minggu (4/10) setelah berlangsung selama dua pekan. Ajang olahraga terbesar di Asia itu menghadirkan sejumlah penampilan spektakuler dan rekor baru, tetapi penyelenggaraannya juga diwarnai berbagai persoalan, mulai dari kesalahan teknis, jumlah penonton yang minim, hingga tudingan buruknya manajemen.

Lebih dari 17.000 atlet dan ofisial datang ke Nagoya dan Prefektur Aichi untuk ambil bagian dalam pesta olahraga terbesar di Benua Asia. Jumlah tersebut bahkan lebih besar dibandingkan peserta Olimpiade.

Ket. Foto: Di antara para bintang yang mencuri perhatian adalah perenang belia Tiongkok, Yu Zidi. Baru berusia 13 tahun, Yu berhasil merebut tiga medali emas, seluruhnya dengan catatan waktu yang menjadi rekor Asian Games. — Sumber: Asian Games 2026

Di antara para bintang yang mencuri perhatian adalah perenang belia Tiongkok, Yu Zidi. Baru berusia 13 tahun, Yu berhasil merebut tiga medali emas, seluruhnya dengan catatan waktu yang menjadi rekor Asian Games.

Penampilan tersebut membuat Yu diprediksi menjadi salah satu ancaman serius dalam perebutan medali pada Olimpiade Los Angeles 2028.

Siswi sekolah itu dinobatkan sebagai salah satu MVP Asian Games pada Minggu, melengkapi penampilan luar biasanya di kolam renang. Yu meraih emas nomor 200 meter gaya kupu-kupu serta nomor 200 meter dan 400 meter gaya ganti perorangan.

Meski tampil luar biasa, Yu tetap merendah.

“Saya tidak merasa sebagai sosok seperti yang orang-orang gambarkan sebagai anak ajaib,” kata Yu.

Tuan rumah Jepang juga memiliki bintang muda di cabang renang. Shin Ohashi yang baru berusia 17 tahun memecahkan rekor dunia nomor 200 meter gaya dada putra, sekaligus membuat publik tuan rumah bergemuruh.

Di cabang atletik, hujan deras yang mengguyur Nagoya selama beberapa hari tidak menghentikan kiprah Puripol Boonson. Sprinter Thailand itu sukses meraih emas nomor 100 meter dan 200 meter putra. Ia kemudian dinobatkan sebagai MVP putra Asian Games.

“Dalam kesempatan ini, banyak atlet kelas dunia yang tampil. Penghargaan MVP membuat saya semakin percaya diri bahwa saya bisa naik podium di Los Angeles,” kata Puripol yang baru berusia 20 tahun.

Namun, di balik berbagai rekor dan prestasi para atlet, penyelenggaraan Asian Games edisi ke-20 ini tidak lepas dari kritik.

Menjelang upacara penutupan, ketika Jepang bersiap menyerahkan tongkat estafet kepada Doha sebagai tuan rumah Asian Games berikutnya, para pejabat penyelenggara harus memberikan penjelasan atas berbagai persoalan yang muncul.

Direktur Jenderal Olympic Council of Asia (OCA), Husain Al-Musallam, menegaskan bahwa catatan prestasi atlet menjadi bukti keberhasilan ajang tersebut.

“Angka adalah fakta,” ujar Al-Musallam, merujuk pada 50 rekor dunia yang tercipta sejak Asian Games dibuka pada 19 September.

Ia juga mengingatkan bahwa performa atlet sangat bergantung pada fasilitas pendukung.

“Atlet tidak bisa tampil maksimal jika mereka tidak tidur dengan baik. Atlet juga tidak bisa tampil maksimal jika transportasi mereka tidak baik,” katanya.

Salah satu keputusan kontroversial adalah tidak disediakannya perkampungan atlet tradisional. Langkah itu diambil untuk menghemat anggaran.

Sebagai gantinya, para peserta ditempatkan di unit kayu sementara, kapal pesiar, serta sejumlah hotel. Panitia menyebut konsep tersebut dapat menjadi model bagi penyelenggaraan ajang multisports pada masa mendatang.

Namun, pelaksanaannya tidak berjalan mulus. Sejumlah kontingen mengeluhkan unit penginapan yang terlalu sempit dan tempat tidur yang terlalu pendek.

Ledakan jumlah atlet dan ofisial juga menyebabkan ketersediaan tempat tidur tidak mencukupi. Seorang pejabat Olimpiade Thailand bahkan menggambarkan situasi tersebut seperti permainan “musical chairs”.

Di arena pertandingan, beberapa cabang olahraga tetap menghadirkan tontonan menarik. Salah satunya final kriket yang mempertemukan India dan Pakistan. India keluar sebagai pemenang dalam pertandingan yang menjadi salah satu laga paling dinanti.

Lifter Korea Utara Ri Song Gum juga mencuri perhatian. Atlet mungil dengan tinggi hanya 140 sentimeter itu mencatat tiga rekor dunia dalam satu hari untuk merebut medali emas.

Namun, persoalan teknis kembali muncul.

Panitia sempat memutar lagu kebangsaan Korea Utara untuk tim hoki Korea Selatan. Kesalahan tersebut memicu reaksi keras karena kedua negara memiliki simbol kenegaraan yang berbeda.

Masalah transportasi juga terjadi. Sejumlah bus atlet tidak datang sesuai jadwal, bahkan ada yang tidak datang sama sekali.

Dua kontingen bahkan sempat dikirim ke venue yang salah sehingga pertandingan bola voli harus mengalami penundaan.

Presiden Korean Sport and Olympic Committee, Ryu Seung-min, memberikan kritik paling keras.

“Jika saya harus memberikan nilai, nilainya F,” ujar Ryu.

Masalah lain muncul dari sisi jumlah penonton. Upacara pembukaan berlangsung dengan banyak kursi kosong, sementara beberapa pertandingan juga sepi penonton.

Semifinal sepak bola putri antara tuan rumah Jepang dan Korea Selatan, misalnya, hanya disaksikan 998 penonton di stadion berkapasitas 50.000 orang.

Presiden Komite Olimpiade Jepang, Seiko Hashimoto, mengakui bahwa penyelenggaraan Asian Games kali ini memang menghadapi sejumlah kendala.

“Memang ada banyak masalah,” kata Hashimoto.

Namun, ia menegaskan Jepang tetap ingin menjadi tuan rumah berbagai event olahraga internasional pada masa mendatang.

Menurut Hashimoto, cuaca buruk menjadi salah satu faktor yang membuat sejumlah pertandingan sepi penonton. Di sisi lain, beberapa cabang olahraga tetap mampu menarik massa dalam jumlah besar.

Sekitar 30.000 penonton hadir menyaksikan final sepak bola putra ketika Korea Selatan mengalahkan Jepang 1-0 untuk merebut medali emas.

Sayangnya, momen kemenangan itu juga diwarnai kesalahan teknis. Bendera Korea Selatan gagal dinaikkan dalam upacara penyerahan medali.

Dalam klasemen akhir, Jepang menempati posisi kedua dengan 83 medali emas. Mereka tertinggal jauh dari Tiongkok yang menjadi juara umum dengan 169 emas.

Jepang tetap memiliki kisah sejarah tersendiri. Yuki Kurihara memenangkan nomor eSports pada usia 11 tahun dan diyakini menjadi juara termuda sepanjang sejarah Asian Games.

Sejumlah cabang olahraga yang tengah berupaya masuk program Olimpiade juga melakukan debut di Asian Games kali ini. Di antaranya padel, mixed martial arts (MMA), dan taekwondo virtual.

Dengan segala rekor, prestasi, kontroversi, serta persoalan teknis yang menyertainya, Asian Games Nagoya-Aichi meninggalkan catatan yang beragam. Di satu sisi, para atlet muda menunjukkan masa depan olahraga Asia yang menjanjikan. Namun di sisi lain, penyelenggaraan ajang tersebut menjadi pelajaran penting bagi Jepang maupun tuan rumah Asian Games berikutnya.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.