Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura: Produksi Padi Sulawesi Tengah Relatif Aman

Minggu, 04 Okt 2026, 13:43 WIB

PALU – Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Sulawesi Tengah menyebut produksi padi di daerah itu masih relatif aman meski sejumlah wilayah mengalami penurunan debit air akibat kondisi kekeringan.

“Produksi padi insyaAllah aman. Pada saat panen raya, penurunannya tidak terlalu signifikan,” kata Kepala Dinas TPH Sulawesi Tengah, Dodot Tinarso, di Palu, Minggu (04/10).

Ket. Foto: Petani merontokkan padi dengan mesin perontok saat panen di Desa Porame, Sigi, Sulawesi Tengah, Rabu (6/8/2025). — Sumber: ANTARA 

Ia mengatakan musim kemarau berkepanjangan mengakibatkan kondisi kekeringan yang menyebabkan penurunan debit air di sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Banggai dan Donggala.

Menurut dia, kondisi tersebut diantisipasi melalui pompanisasi dan penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan) untuk membantu memenuhi kebutuhan air bagi tanaman.

“Kalau Banggai itu masih bisa kita atasi dengan pompanisasi. Banyak kelompok tani yang meminta bantuan pompa pada saat panen raya,” ujar dia.

Sementara itu, kata dia, penanganan kekeringan di Donggala dinilai lebih sulit karena debit air yang tersedia relatif kecil, sedangkan bantuan pompa dari pemerintah pusat jumlahnya terbatas.

Ia juga mengatakan masyarakat di wilayah Toili Raya, Kabupaten Banggai juga telah mengusulkan pembangunan waduk sebagai upaya mengatasi persoalan ketersediaan air.

Menurut dia, usulan tersebut telah disampaikan kepada pemerintah provinsi untuk diteruskan kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Ia mengatakan kondisi tanaman padi di Kabupaten Banggai dan Parigi Moutong relatif aman karena sejumlah wilayah masih mendapatkan hujan, seperti wilayah Kasimbar, Parigi Moutong.

Dinas TPH mencatat produksi padi Sulawesi Tengah pada 2026 diproyeksikan mencapai 803.507 ton gabah kering giling (GKG) dengan luas panen 173.864 hektare. Kabupaten Parigi Moutong dan Banggai menjadi daerah dengan kontribusi produksi padi yang besar terhadap total produksi daerah.

Menurut dia, dampak kekeringan lebih terasa pada tanaman jagung, khususnya di Kabupaten Tojo Una-Una yang sebagian wilayahnya berada di dataran tinggi dan minim hujan.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, kata dia, Dinas TPH Sulteng telah meminta penyaluran benih jagung ditunda hingga kondisi cuaca memungkinkan petani melakukan penanaman.

Pihaknya juga terus menyampaikan imbauan kepada petani dan berkoordinasi dengan BMKG untuk memantau wilayah yang belum mendapatkan hujan sebagai bagian dari upaya mengantisipasi dampak kekeringan terhadap tanaman pangan.

  • Dinas TPH Sulawesi Tengah

Redaktur: Bambang Wijanarko

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.