Resmi, Tarif TransBandara Blok M-Soetta Rp15 Ribu Mulai September

Jumat, 31 Jul 2026, 17:40 WIB

JAKARTA - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Dinas Perhubungan (Dishub) resmi menetapkan tarif layanan TransBandara rute Blok M–Bandara Internasional Soekarno-Hatta sebesar Rp15.000 per penumpang. Tarif baru tersebut mulai diberlakukan efektif pada 1 September 2026 sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan layanan transportasi publik menuju bandara.

Kebijakan tersebut diumumkan dalam media briefing di Ruang M.H. Thamrin, Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (31/7). Penetapan tarif dilakukan setelah melalui kajian teknis, survei kepuasan pengguna, serta mempertimbangkan keberlanjutan operasional layanan yang tetap mendapat subsidi dari Pemprov DKI Jakarta.

Ket. Foto: Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Dinas Perhubungan (Dishub) resmi menetapkan tarif layanan TransBandara rute Blok M–Bandara Internasional Soekarno-Hatta sebesar Rp15.000 per penumpang. Tarif baru tersebut mulai diberlakukan efektif pada 1 September 2026 sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan layanan transportasi publik — Sumber: Pemprov DKI Jakarta

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Budi Awaluddin, mengatakan tarif Rp15.000 ditetapkan untuk memenuhi Standar Pelayanan Minimum (SPM) sekaligus memastikan layanan TransBandara dapat terus beroperasi secara berkelanjutan.

"Penetapan tarif Rp15.000 murni merupakan hasil kajian mendalam demi keberlanjutan layanan dan tetap disubsidi Pemprov DKI Jakarta, sehingga masyarakat tetap mendapatkan moda transportasi menuju bandara yang sangat terjangkau," ujar Budi.

Ia menjelaskan, sejak diluncurkan pada 12 Maret hingga 30 Juni 2026, layanan TransBandara rute Blok M–Bandara Soekarno-Hatta telah melayani 182.996 pelanggan dengan rata-rata 1.851 penumpang setiap hari. Selama tiga bulan masa pengenalan, layanan tersebut dikenakan tarif promosi sebesar Rp3.500.

Menurut Budi, meski tarif mengalami penyesuaian, TransBandara tetap menjadi moda transportasi paling ekonomis menuju Bandara Soekarno-Hatta dibandingkan taksi konvensional, transportasi daring, kereta bandara, maupun bus komersial lainnya.

Hasil survei independen Litbang Kompas juga menunjukkan mayoritas pengguna menerima kebijakan tersebut. Sebanyak 89,7 persen responden menilai tarif Rp15.000 masih jauh lebih murah dibandingkan moda transportasi lain menuju bandara, sementara 78,3 persen menganggap manfaat layanan yang diterima sepadan dengan tarif yang dibayarkan.

"Sebanyak 89,7 persen responden menilai tarif Rp15.000 masih jauh lebih murah dibandingkan moda lain, dan 78,3 persen merasa manfaat layanannya sangat sepadan," papar perwakilan Litbang Kompas, Juno Omarali.

Survei yang sama mencatat tingkat kepuasan pengguna TransBandara mencapai 97,5 persen. Aspek kebersihan armada, rasa aman selama perjalanan, serta profesionalisme petugas menjadi indikator yang memperoleh apresiasi tertinggi dari para pengguna.

Kajian teknis dari Pusat Pengujian, Pengukuran, Pelatihan, Observasi, dan Layanan Rekayasa (POLAR) Universitas Indonesia turut menjadi dasar dalam penetapan tarif. Berdasarkan analisis Willingness to Pay (WTP), masyarakat masih memiliki kemampuan membayar hingga Rp15.000, bahkan 88 persen pengguna menyatakan tetap memilih TransBandara pada tarif tersebut.

"Artinya, kehadiran TransBandara memang membantu mobilitas masyarakat menuju bandara. Tarif yang ditawarkan setidaknya sama atau bahkan lebih murah dibandingkan biaya perjalanan menggunakan moda transportasi lain dari Blok M ke Bandara Soekarno-Hatta," terang Andika.

Direktur Utama PT Transportasi Jakarta (Transjakarta), Welfizon Yuza, memastikan pihaknya akan terus meningkatkan kualitas layanan. Sejumlah langkah yang disiapkan antara lain penataan area keberangkatan di Terminal Blok M agar lebih ramah bagi penumpang yang membawa koper, penyediaan armada dengan ruang bagasi khusus, hingga peningkatan ketepatan jadwal keberangkatan dan sinkronisasi dengan jadwal penerbangan.

"Kami fokus menjaga kepastian jadwal kedatangan bus dan kenyamanan fasilitas sehingga tingkat kepuasan masyarakat yang sudah mencapai 97,5 persen dapat terus dipertahankan," tegas Welfizon.

Ia mengungkapkan biaya produksi layanan TransBandara mencapai sekitar Rp70.000 per penumpang untuk jarak tempuh 64 kilometer. Selisih biaya operasional tersebut tetap ditanggung melalui subsidi Pemprov DKI Jakarta agar masyarakat dapat menikmati layanan transportasi menuju bandara dengan tarif yang terjangkau.

Pengamat transportasi Yayat Supriyatna menilai penyesuaian tarif masih tergolong wajar karena layanan menuju bandara memang memiliki karakteristik pelayanan tersendiri. Menurutnya, tarif Rp15.000 tetap mencerminkan keberpihakan pemerintah terhadap masyarakat karena sebagian besar biaya operasional masih disubsidi.

"Saya kira tarif Rp15.000 merupakan bentuk perlindungan negara terhadap daya beli masyarakat. Namun, kebijakan ini tetap harus diiringi dengan peningkatan kualitas pelayanan," ujar Yayat.

Sementara itu, Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Bidang Pembangunan dan Tata Kota, Nirwono Yoga, menegaskan penetapan tarif dilakukan melalui proses yang melibatkan berbagai aspirasi masyarakat. Pemprov DKI Jakarta juga berkomitmen menjaga efektivitas subsidi transportasi publik agar pengembangan jaringan layanan dapat terus dilakukan dalam mendukung transformasi Jakarta sebagai kota global.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.