- Home
-
- Luar Negeri
-
- Minat Punya Anak Menurun, ...
Minat Punya Anak Menurun, Krisis Demografi Jepang Makin Dalam
Senin, 14 Sep 2026, 02:57 WIBJAKARTA â Keinginan warga yang masih lajang di Jepang untuk memiliki anak saat ini tergolong masih cukup tinggi. Survei terbaru menunjukkan 3 dari 10 warga Jepang yang belum menikah tidak berkeinginan memiliki anak.
Tingginya keinginan memiliki anak di kalangan warga Jepang yang masih lajang menunjukkan bahwa persoalan demografi di Negeri Matahari Terbit tidak semata-mata berkaitan dengan rendahnya minat terhadap keluarga, tetapi juga dengan hambatan menuju pernikahan dan pembentukan keluarga. Namun, survei terbaru di Jepang menjadi sinyal tambahan bahwa perubahan preferensi generasi muda dapat semakin mempersempit potensi pemulihan angka kelahiran dan memperberat tekanan penuaan penduduk.
Berdasarkan survei Institut Nasional Penelitian Kependudukan dan Jaminan Sosial, Jumat (21/9), lebih dari 30 persen warga Jepang yang belum menikah, antara usia 18 hingga 34 tahun, tidak berkeinginan memiliki anak. Angka tersebut menjadi persentase tertinggi sejak dilakukan pendataan pada 2002.
âRata-rata jumlah anak yang diinginkan adalah 1,30 bagi responden laki-laki dan 1,36 bagi responden perempuan. Kedua angka tersebut merupakan rekor terendah sepanjang survei,â demikian hasil survei Institut Nasional Penelitian Kependudukan dan Jaminan Sosial Jepang.
Di kalangan pria, sebanyak 33,0 persen menyatakan tidak ingin memiliki anak, naik 9,8 poin persentase dibandingkan survei sebelumnya pada 2021. Sementara, angka untuk perempuan naik 8,8 poin menjadi 32,4 persen.
Salah satu pejabat institut mengatakan gaya hidup dan nilai-nilai yang semakin beragam, serta kekhawatiran finansial, kemungkinan berpengaruh pada penurunan keinginan kaum muda untuk memiliki anak. Institut tersebut telah melakukan survei tren kelahiran dan pernikahan hampir setiap lima tahun sekali sejak 1940 dan survei terbaru ini dilakukan per Juni 2025.
Masalah demografi Jepang semakin menjadi tekanan struktural bagi perekonomian. Per Agustus 2026, populasi Jepang sekitar 122,68 juta jiwa atau turun 590 ribu jiwa dalam setahun, sementara penduduk usia produktif 15â64 tahun menyusut menjadi 73,29 juta jiwa dan penduduk berusia 65 tahun ke atas mencapai 36,20 juta jiwa. Struktur ini mempersempit pasokan tenaga kerja sekaligus meningkatkan beban pembiayaan pensiun, kesehatan, dan layanan sosial. And/Ant/E-10
- Pernikahan
- lajang
- krisis populasi
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Andes Tanjung, Antara
Berita Terkait:
-
Harga Pupuk Turun 20 Persen, Petani Sumedang Rasakan Biaya Produksi Lebih Ringan.
-
Sungai Rhein Mengering, Stok BBM Jerman Mulai Terancam
-
Momentum 28 Tahun Reformasi, Eksponen Aktivis 98 Soroti Pemerataan Kesejahteraan
-
Energi Terbarukan Berbasis Komunitas Berdampak Besar ke Ekonomi Jangka Panjang
-
El Rumi dan Syifa Hadju Resmi Suami-Istri, Ini Dia Potret Akad Nikah yang Dibagikan Ahmad Dhani
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.