- Home
-
- Luar Negeri
-
- Ribuan Perempuan AS Kompak...
Ribuan Perempuan AS Kompak Dukung Korban Dugaan Pemerkosaan Berkelompok di Cornell
Minggu, 04 Okt 2026, 06:30 WIBWashington - Ribuan perempuan Amerika Serikat (AS) pada Sabtu (3/10), menggunakan media sosial untuk menyatakan dukungan kepada perempuan yang diduga menjadi korban pemerkosaan berkelompok di sebuah universitas elite AS. Kasus tersebut memicu kemarahan nasional setelah seorang komentator politik mengancam akan mengungkap identitas korban.
Pesan-pesan dukungan dengan tagar #IAmJaneDoe -- nama samaran yang umum digunakan dalam sistem hukum AS untuk melindungi identitas seseorang -- bermunculan di TikTok, X, dan Instagram sejak seorang pria bernama Michael Tracey meminta orang-orang membantunya menemukan mantan mahasiswi Cornell University tersebut untuk "menilai kebenarannya".
Sebagai bentuk dukungan simbolis, sejumlah perempuan membuat unggahan dan video yang mengaku sebagai korban yang diduga tersebut. Langkah itu dilakukan untuk mempersulit upaya mengidentifikasi korban sekaligus membela hak korban kekerasan seksual untuk tetap anonim.
"Dia berusaha mengungkap identitasnya, kami tidak akan membiarkannya," kata seorang perempuan muda dalam video di TikTok yang telah ditonton lebih dari 4 juta kali. "Saya Jane Doe."
Dalam gugatannya, perempuan tersebut mengatakan bahwa pada 2024, ketika berusia 20 tahun, dia diberi obat ketamin, diserang, dan diperkosa oleh tujuh anggota perkumpulan mahasiswa laki-laki Chi Phi.
Pihak berwenang awalnya menolak mengajukan tuntutan, tetapi penyelidikan dibuka kembali pada Senin. Gubernur New York Kathy Hochul kemudian menunjuk jaksa tertinggi negara bagian tersebut untuk menangani kasus itu hingga tuntas.
Kemarahan publik kemudian meluas melampaui kasus Cornell, memicu perdebatan yang lebih luas mengenai kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi AS -- mulai dari budaya perkumpulan mahasiswa dan kondisi yang memungkinkan terjadinya kekerasan hingga respons institusi yang kerap dikritik tidak memadai.
Sejumlah media AS membandingkan gelombang dukungan daring tersebut dengan gerakan #MeToo pada 2017, ketika jutaan perempuan menggunakan media sosial untuk membagikan pengalaman mereka terkait kekerasan dan pelecehan seksual setelah terungkapnya kasus yang melibatkan produser Hollywood Harvey Weinstein.
Dalam unggahan pada awal pekan ini yang telah ditonton hampir 7 juta kali, Tracey, yang memiliki hampir 350 ribu pengikut di X, mendorong pengikutnya untuk mengungkap identitas korban.
"Let's see if anyone has the "balls" to name this Jane Doe so we can all evaluate her veracity, and that of her lawyers, since her lawsuit didn't hesitate to name & shame 7 of her peers as gang-rapists," tulisnya.
Ia kemudian menambahkan, "If you happen to know who this Cornell "Jane Doe" is, get in touch and I would be happy to publish her name and identifying information."
Setelah muncul dugaan pemerkosaan tersebut, Cornell menutup perkumpulan mahasiswa itu dan menangguhkan sementara para mahasiswa yang diduga terlibat. Beberapa di antaranya kemudian dikeluarkan dari universitas.
Pihak berwenang setempat mengatakan mereka memutuskan tidak melanjutkan penuntutan pada 2024 karena kesaksian pelapor tidak menunjukkan bahwa tidak ada persetujuan dalam hubungan seksual tersebut.
Di Amerika Serikat, satu dari empat mahasiswi jenjang sarjana melaporkan pernah mengalami kontak seksual secara paksa atau kontak seksual yang tidak dapat mereka setujui, berdasarkan studi pada 2020 terhadap 33 institusi yang dilakukan Association of American Universities.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: AFP
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.