Pejabat AS Curiga Russia atau Tiongkok Berada di Balik Serangan Mematikan Iran pada Pangkalan AS di Yordania

Senin, 20 Jul 2026, 05:03 WIB

WASHINGTON DC – Serangan rudal balistik Iran ke Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania tidak hanya menewaskan dua personel militer Amerika Serikat, tetapi juga memunculkan kekhawatiran baru di kalangan pejabat pertahanan AS. Mereka menduga Teheran kemungkinan mendapat bantuan penargetan dari Russia atau Tiongkok.

Dilansir The Indian Express, serangan yang terjadi pada Jumat, 17 Juli itu merupakan serangan paling mematikan terhadap pasukan Amerika sejak konflik Iran dan AS kembali memanas sekitar dua pekan lalu. Pangkalan Muwaffaq Salti sendiri menjadi lokasi penempatan personel militer dan pesawat tempur Amerika Serikat.

Ket. Foto: Meski demikian, hingga kini belum ada bukti yang dipublikasikan secara terbuka bahwa Russia maupun Tiongkok benar-benar memberikan bantuan tersebut. Dugaan itu masih sebatas kekhawatiran yang disampaikan para pejabat Amerika kepada media. — Sumber: Istimewa

Menurut laporan The Wall Street Journal, Iran disebut telah beradaptasi terhadap sistem pertahanan Amerika Serikat dengan menggunakan rudal yang mampu melaju dalam kecepatan tinggi sekaligus bermanuver saat mendekati sasaran.

Peningkatan kemampuan tersebut membuat sejumlah pejabat Amerika mempertanyakan apakah Iran memperoleh dukungan dari negara lain.

Informasi itu disampaikan media tersebut berdasarkan keterangan sejumlah pejabat AS.

Seorang pejabat AS mengatakan kepada The Wall Street Journal bahwa:

"Kemampuan Iran untuk menghantam target-target sensitif juga memunculkan kekhawatiran bahwa rezim tersebut memperoleh bantuan penargetan dari Tiongkok atau Russia."

Meski demikian, hingga kini belum ada bukti yang dipublikasikan secara terbuka bahwa Russia maupun Tiongkok benar-benar memberikan bantuan tersebut. Dugaan itu masih sebatas kekhawatiran yang disampaikan para pejabat Amerika kepada media.

Sementara itu, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa dua personel militernya gugur saat membantu mempertahankan pangkalan dari serangan rudal balistik dan drone Iran.

Dalam pernyataan resminya di platform X, CENTCOM menyatakan, "Pada 17 Juli, dua anggota militer Amerika Serikat di Yordania gugur dalam pertempuran ketika Komando Pusat AS (CENTCOM) bersama pasukan mitra mempertahankan diri dari serangan rudal balistik dan drone Iran."

CENTCOM juga mengungkapkan bahwa satu personel hingga kini masih dinyatakan hilang. Selain itu, empat anggota militer Amerika sempat dievakuasi ke rumah sakit di Yordania akibat luka-luka, namun seluruhnya telah dipulangkan. Personel lain yang hanya mengalami cedera ringan juga telah kembali bertugas.

Sejak konflik antara Iran dan AS kembali memanas sekitar dua pekan lalu, serangan ini menjadi insiden pertama yang menewaskan personel militer Amerika. Dengan demikian, jumlah anggota militer AS yang tewas dalam perang melawan Iran kini mencapai 16 orang

Serangan ini menjadi pukulan terbaru bagi Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah sekaligus memicu pertanyaan mengenai sejauh mana kemampuan militer Iran telah berkembang. Jika dugaan mengenai bantuan penargetan dari Russia atau Tiongkok terbukti benar, eskalasi konflik berpotensi melibatkan dimensi geopolitik yang jauh lebih luas.

  • Perang Iran

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.