Ekonom Dorong Energi Kerakyatan Jadi Pilar Kemandirian Energi

Rabu, 15 Jul 2026, 21:25 WIB

JAKARTA – Kemandirian energi menjadi fondasi penting bagi ketahanan ekonomi karena mampu mengurangi ketergantungan pada impor energi dan meredam dampak gejolak harga komoditas global.

Pencapaiannya memerlukan diversifikasi sumber energi, percepatan pengembangan energi terbarukan, peningkatan efisiensi, serta penguatan industri energi domestik.

Ket. Foto: Foto udara seorang warga membersihkan panel PLTS SuperSUN PLN di Pulau Gili Asahan, Desa Batu Putih, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat, NTB. — Sumber: ANTARA FOTO/ Ahmad Subaidi.

Dengan kemandirian energi yang lebih kuat, Indonesia dapat meningkatkan stabilitas pasokan, menjaga ketahanan fiskal, dan memperkuat daya saing ekonomi dalam jangka panjang.

Akademisi ekonomi dan keuangan syariah Dr Hayu Prabowo mengatakan inovasi energi berbasis kerakyatan dapat mendorong kemandirian energi dan menekan penggunaan bahan bakar fosil yang merugikan kelestarian lingkungan.

Hayu Prabowo mengatakan, penggunaan energi fosil dari batu bara yang terpusat tidak sesuai dengan kondisi geografis Indonesia yang berpulau-pulau, sehingga pendekatan inovasi energi kerakyatan dinilai lebih relevan karena bisa mengeksplorasi potensi energi daerah yang sesuai dengan kondisi alam.

“Intinya, masyarakat perlu diberdayakan agar mampu menghasilkan energi secara mandiri sesuai dengan potensi lokal,” katanya dalam diskusi investasi keuangan syariah dalam kemaslahatan bumi dan masyarakat, di Jakarta, Rabu (15/7).

Ia mengatakan Indonesia yang memiliki lebih dari 17.000 pulau, setiap wilayah memiliki potensi energi yang berbeda-beda dan perlu dikembangkan sesuai karakteristik lokal, bukan hanya bergantung pada batu bara.

Menurutnya, pengembangan sumber energi yang dapat diproduksi sendiri oleh masyarakat dapat melalui pengolahan sampah organik yang menghasilkan biogas, pembangkit listrik tenaga air berskala sangat kecil yang memanfaatkan aliran sungai atau nanohidro, atau pemanfaatan energi matahari dengan teknologi sederhana bukan dengan panel surya konvensional.

Ia mengatakan saat ini, sumber batu bara banyak terkonsentrasi di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan sebagian Sulawesi. Sementara itu, banyak wilayah di Indonesia bagian timur masih bergantung pada diesel atau bahan bakar minyak untuk pembangkit listrik.

Ia mendorong transisi energi dari batu bara menuju sumber energi yang lebih bersih, karena dampak batu bara terhadap lingkungan dan kualitas hidup sudah semakin nyata.

Namun, transisi ini juga membutuhkan inovasi dalam model pembiayaan, yaitu menggabungkan pembiayaan komersial dengan pembiayaan sosial agar proyek-proyek energi bersih dapat berkembang secara berkelanjutan melalui pembiayaan yang jangka panjang serta membantu pemberdayaan masyarakat sejak awal.

“Di sisi pembiayaan, kami juga mengembangkan konsep blended finance. Konsep ini diperlukan karena proyek-proyek transisi energi umumnya memiliki karakteristik high risk dan low profit, sehingga belum menarik bagi pembiayaan komersial. Oleh karena itu, diperlukan dana filantropi sebagai modal awal, seperti zakat dan wakaf,” katanya pula.

Melalui mekanisme ini diharapkan akan menarik investor, sehingga mampu menarik masuknya dana komersial pada investasi energi terbarukan selain dari batu bara.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.