BRIN Kembangkan Alat Inkubator Percepat Pembenihan Ikan Nila secara Efisien

Rabu, 15 Jul 2026, 14:52 WIB

JAKARTA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi alat inkubasi (inkubator) telur ikan nila berbentuk tabung berbahan lokal untuk meningkatkan produktivitas secara lebih efisien.

"Inkubator ini berfungsi memperpendek waktu pengeraman telur oleh induk betina. Dengan alat ini, telur ikan nila dapat menetas dalam waktu kurang dari tujuh hari. Dengan demikian, frekuensi pematangan gonad dan pemijahan berikutnya pada induk bisa dipercepat," kata Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, Mohamad Soleh dalam keterangan di Jakarta, Rabu (15/7).

Ket. Foto: Budidaya ikan nila — Sumber: antara foto

Soleh menjelaskan peningkatan produktivitas benih menjadi langkah penting untuk mendukung pengembangan budi daya ikan nila yang memiliki prospek besar. Tingginya permintaan ikan nila perlu diimbangi dengan peningkatan produktivitas benih.

Soleh menjelaskan bahwa ikan nila memiliki perilaku pemijahan yang unik dimana ikan jantan akan membuat dan menjaga sarang di dasar kolam, lalu betina melepaskan telur untuk dibuahi. Setelah dibuahi, induk betina akan menyerap dan mengerami telur tersebut di dalam mulutnya dalam waktu yang lama hingga menetas.

Karakteristik reproduksi tersebut menjadi dasar pengembangan teknologi penetasan buatan untuk meningkatkan efisiensi produksi benih. Menurut Soleh, kelebihan dari alat inkubator bentuk tabung ini, antara lain mampu menampung telur dalam jumlah massal, daya tetas telur tinggi, ukuran larva yang dihasilkan lebih seragam, mudah dalam pemanenan, operasional alat praktis, efisien dan kondisi media penetasan dapat dikelola secara optimal.

"Keberhasilan teknologi inkubasi telur ini tetap bertumpu pada ketelitian pembenih ikan. Ketepatan seleksi pada tingkat telur terbuahi dengan pengamatan telur yang telah berwarna kuning kecoklatan menjadi salah satu faktor penentu utama perolehan daya tetas yang tinggi. Daya tetas telur tinggi serta keseragaman ukuran larva inilah yang akan menjadi kunci untuk mendongkrak produktivitas benih secara nasional," ucap Soleh.

Ia mengungkap perlunya penggunaan benih “all male” atau benih jantan untuk usaha budi daya. Penggunaan benih jantan ini diharapkan dapat meningkatkan hasil produksi budi daya dan perolehan keuntungan yang lebih besar.

Produksi benih jantan dilakukan dengan perlakuan temperatur tinggi (thermal shock) secara periodik mulai dari larva yang baru menetas hingga stadia larva mulai berenang dan dilanjutkan dengan pemeliharaan benih hingga ukuran siap tebar di kolam budi daya.

Soleh menyebut budi daya ikan nila didukung oleh potensi lahan budi daya yang masih sangat luas, teknologi budi daya yang telah mapan, benih yang mudah diperoleh, serta kemampuan beradaptasi terhadap fluktuasi kualitas air.

Selain itu, siklus panennya relatif singkat, yakni sekitar 4–6 bulan, memiliki tingkat risiko usaha yang rendah hingga sedang, serta cocok dikembangkan mulai dari skala kecil hingga industri.

"Usaha budi daya ikan nila ini cukup kompetitif bila disandingkan dengan komoditas ikan lainnya, seperti ikan gurami, mas, tawes, dan nilem. Harga jual bisa mencapai Rp30.000 per kilogram, permintaan pasar terbuka, profit bisa mencapai 20-40 persen, maka usaha ini cukup menjanjikan. Demikian juga periode budidayanya yang relatif pendek dapat membantu perputaran modal lebih cepat," tutur Mohamad Soleh.

Redaktur: Sriyono

Penulis: Sriyono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.