Rupiah Hari Ini Kembali Terpukul! Minyak Dunia Memanas

Selasa, 18 Agu 2026, 16:37 WIB

JAKARTA – Kenaikan harga minyak dunia kembali menekan rupiah karena memperbesar kekhawatiran terhadap biaya impor energi dan potensi tekanan inflasi. Sentimen ini mendorong pelaku pasar meningkatkan permintaan dolar AS.

Jika harga minyak bertahan tinggi, tekanan terhadap rupiah dapat berlanjut melalui pelebaran kebutuhan devisa dan meningkatnya persepsi risiko eksternal. Kondisi tersebut menjadi tantangan tambahan bagi stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian geopolitik global.

Ket. Foto: Ilustrasi - Petugas menunjukan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Bank BSI, Jakarta. — Sumber: ANTARA/ Muhammad Adimaja.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (18/8), bergerak melemah 64 poin atau 0,36 persen menjadi Rp17.862 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.798 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menyatakan pelemahan ini dipengaruhi kenaikan harga minyak akibat kekhawatiran konflik antara AS dengan Iran berlanjut.

“Rupiah pada perdagangan hari ini melemah, dipengaruhi oleh global kenaikan harga minyak akibat kekhawatiran berlanjutnya konflik AS dan Iran,” ucapnya di Jakarta, Selasa (18/8).

Kantor Berita Anadolu melaporkan bahwa harga minyak melonjak lebih dari 2 persen setelah Presiden AS Donald Trump menutup kemungkinan perpanjangan perjanjian kerangka kerja dengan Iran, sehingga meningkatkan kekhawatiran mengenai ketegangan di sekitar Selat Hormuz.

Harga minyak mentah Brent—tolok ukur internasional—naik 2,4 persen menjadi 90,60 dolar AS per barel pada pukul 18.50 GMT, sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI)—tolok ukur AS—naik 2,2 persen menjadi 84,20 dolar AS per barel.

Trump mengatakan bahwa dirinya tidak berupaya memperpanjang perjanjian yang dicapai dengan Iran pada bulan Juni melalui mediasi Pakistan, mengingat batas waktu negosiasi selama 60 hari hampir berakhir tanpa adanya penyelesaian menyeluruh.

Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran bahwa kebuntuan diplomasi dapat menyebabkan eskalasi lebih lanjut dan mengganggu pengiriman energi melalui Selat Hormuz, sebuah jalur vital bagi perdagangan minyak global.

Mengutip Sputnik, Trump menyebut gagasan menjadikan Selat Hormuz sebagai bagian dari wilayah AS sebagai ide yang “bagus". Presiden AS itu kembali mengklaim bahwa AS memiliki "kendali penuh" atas Selat Hormuz.

Namun, Komandan Angkatan Darat Iran Jenderal Amir Hatami telah mengungkapkan bahwa AS tidak punya hak lintas melalui Selat Hormuz, maupun di Teluk Persia atau Teluk Oman. Dia juga menegaskan bahwa Selat Hormuz merupakan peluang geopolitik bagi Iran, dan situasi di jalur perairan yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan minyak dunia ini takkan pernah kembali seperti keadaan semula.

“Kenaikan harga minyak di atas asumsi APBN (70 dolar AS per barel) akan memicu defisit fiskal, sementara kondisi fundamental ekonomi belum solid,” ungkap Rully.

Melihat sentimen domestik, pelaku pasar disebut masih mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) selama 18-19 Agustus 2026 yangg diperkirakan tidak ada kenaikan suku bunga acuan.

“Namun, bauran kebijakan selain bunga akan menentukan konsistensi kebijakan stabilitas BI,” kata dia.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah di level Rp17.856 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.836 per dolar AS.

  • rupiah hari ini

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.