Rice vs Odegaard, Duel Sesama Pemain Arsenal yang Bisa Tentukan Langkah Inggris dan Norwegia di Piala Dunia

Jumat, 10 Jul 2026, 09:09 WIB

MIAMI – Persahabatan Declan Rice dan Martin Odegaard akan dikesampingkan selama 90 menit ketika Inggris menghadapi Norwegia pada babak perempat final Piala Dunia 2026 di Miami, Sabtu (12/7). Duel dua gelandang Arsenal itu diprediksi menjadi salah satu kunci penentu siapa yang berhak melangkah ke semifinal.

Beberapa pekan sebelum membela negaranya masing-masing, Rice dan Odegaard sama-sama menikmati musim terbaik bersama Arsenal. Keduanya menjadi sosok sentral saat The Gunners mengakhiri penantian 22 tahun dengan menjuarai Liga Primer Inggris, sekaligus membawa klub London tersebut melaju hingga final Liga Champions sebelum kalah adu penalti dari Paris Saint-Germain.

Ket. Foto: Declan Rice dan Martin Odegaard. — Sumber: FIFA

Kini, keduanya memburu mimpi yang jauh lebih besar: mengangkat trofi Piala Dunia.

Sebagai kapten Norwegia, Martin Odegaard kembali menunjukkan kualitasnya sebagai motor permainan tim.

Gelandang berusia 27 tahun itu mengatur ritme permainan, membangun serangan melalui visi dan akurasi umpannya, serta menjadi pemimpin di dalam maupun luar lapangan.

Sejauh ini, Odegaard telah mencatat tiga assist di Piala Dunia 2026. Catatan tersebut hanya kalah dari Michael Olise, Brahim Diaz, dan Bruno Guimaraes.

Kontribusinya tak hanya terlihat saat menguasai bola. Odegaard juga menjadi pemain Norwegia dengan jumlah sprint terbanyak sepanjang turnamen, yakni 229 kali, sementara hanya Sander Berge yang mencatat jarak tempuh lebih jauh dibanding dirinya.

Kepemimpinan Odegaard turut memperkuat kekompakan skuad Norwegia yang untuk pertama kalinya dalam sejarah mampu melaju sejauh ini di Piala Dunia.

Ia bahkan menjadi sosok yang memimpin selebrasi khas "Viking Row", tradisi kemenangan Norwegia dengan menabuh genderang bergaya Viking. Namun, setelah Erling Haaland mencetak dua gol saat menyingkirkan Brasil di babak 16 besar, Odegaard menyerahkan kehormatan memimpin selebrasi kepada sang striker sebagai bentuk penghargaan atas penampilan gemilangnya.

Di kubu Inggris, Declan Rice juga tampil sebagai salah satu pemain paling konsisten sepanjang turnamen.

Beroperasi lebih dalam dibandingkan Odegaard, gelandang berusia 27 tahun itu menjadi penyeimbang permainan tim asuhan Thomas Tuchel.

Kemampuan membaca permainan, energi yang tak pernah habis, serta agresivitasnya dalam merebut bola menjadi fondasi penting bagi Inggris untuk memberikan ruang kepada Jude Bellingham dan Harry Kane dalam membangun serangan.

Distribusi bola Rice pun sangat impresif. Ia sukses mengalirkan 91 persen dari 171 umpannya kepada rekan setim.

Keunggulan Rice dalam situasi bola mati juga kembali menjadi senjata utama Inggris. Salah satu umpan sepak pojoknya menghasilkan gol Harry Kane saat Inggris menang dramatis 4-2 atas Kroasia.

Musim lalu bersama Arsenal, bola mati racikan Rice menjadi salah satu faktor penting keberhasilan klub tersebut mencetak rekor 19 gol dari situasi sepak pojok di Liga Primer.

Meski akan saling berhadapan, hubungan keduanya tetap dilandasi rasa hormat yang tinggi. Rice pernah mengungkapkan kekagumannya terhadap kualitas kepemimpinan Odegaard sebagai kapten Arsenal.

"Dia salah satu pemain terbaik yang pernah saya lihat dalam menjalani kehidupan di luar lapangan. Dia mendapat respek penuh dari ruang ganti karena tuntutan, cara memimpin, dan cara berbicaranya. Dia luar biasa bagi kami dan saya tidak ingin orang lain menjadi kapten Arsenal," kata Rice.

Sebaliknya, Odegaard juga menilai Rice sebagai salah satu gelandang paling komplet di dunia.

"Dia selalu memberikan segalanya untuk tim. Dia berjuang untuk setiap bola, membawa energi ke lapangan, dan mendorong tim terus maju. Dia bisa bertahan, menyerang, kuat secara fisik, serta sangat baik saat menguasai bola. Dia pemain yang sangat lengkap dan akan menjadi ujian besar bagi kami," ujar Odegaard.

Pelatih Inggris Thomas Tuchel bahkan menyebut Rice sebagai salah satu gelandang terbaik di dunia. "Dia juga sangat rendah hati, mencintai sepak bola, dan selalu siap memberikan energi serta kualitas kepada tim. Saya bangga menjadi pelatihnya," kata Tuchel.

Pertandingan di Miami bukan hanya mempertemukan dua tim yang tengah memburu sejarah. Bagi Inggris, kemenangan akan membawa mereka semakin dekat mengakhiri penantian 60 tahun untuk kembali menjadi juara dunia.

Sementara bagi Norwegia, ini merupakan penampilan terbaik sepanjang sejarah mereka di Piala Dunia setelah terakhir kali tampil pada edisi 1998.

Di tengah ambisi besar kedua negara, pertarungan di lini tengah antara Declan Rice dan Martin Odegaard berpotensi menjadi faktor pembeda. Salah satu akan membawa negaranya selangkah lebih dekat menuju keabadian. Sementara yang lain harus mengakhiri mimpi di panggung terbesar sepak bola dunia.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.