- Home
-
- Luar Negeri
-
- Presiden Trump Akhiri Genc...
Presiden Trump Akhiri Gencatan Senjata, AS dan Iran Kembali Saling Gempur
Jumat, 10 Jul 2026, 01:00 WIBDubai â Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali saling melancarkan serangan pada Kamis (9/7), memasuki hari kedua berturut-turut dalam eskalasi konflik yang berpusat di Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak paling strategis di dunia.
Dilansir dari Channel NewsAsia, selat Hormuz menjadi titik panas terbaru di kawasan Timur Tengah. Teheran bersikeras mempertahankan kendali atas jalur tersebut, meski sebelum serangan gabungan AS-Israel pada Februari lalu, selat itu terbuka bagi pelayaran internasional.
Sehari sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata dengan Iran telah "berakhir". Meski demikian, ia masih membuka peluang bagi dimulainya kembali perundingan dengan Teheran dan menegaskan bahwa setiap operasi militer akan berlangsung singkat.
Militer AS menyatakan serangan terbaru ditujukan untuk melemahkan kemampuan Iran mengancam kebebasan navigasi di Selat Hormuz, menyusul serangan terhadap sejumlah kapal dagang yang melintas di kawasan tersebut.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengungkapkan pihaknya menyerang sekitar 90 sasaran militer Iran, termasuk gudang rudal, fasilitas drone, serta pusat logistik militer di sepanjang pesisir negara itu.
Iran merespons dengan cepat. Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim telah menyerang "infrastruktur dan fasilitas utama" di pangkalan militer AS Arifjan dan Ali Al Salem di Kuwait, serta Juffair dan Sheikh Isa di Bahrain.
Seorang jurnalis AFP melaporkan terdengar ledakan di ibu kota Bahrain, Manama. Sementara itu, pemerintah Kuwait menyatakan berhasil mencegat sejumlah rudal dan drone yang diarahkan ke wilayahnya.
Media pemerintah Iran melaporkan serangan udara AS juga menghantam sebuah jembatan kereta api di timur laut Iran. Kantor berita resmi IRNA menyebut pangkalan militer di pesisir Bushehrâlokasi satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir sipil Iranâikut menjadi sasaran.
Sebelumnya, suara jet tempur terdengar di atas Pulau Kish, sementara ledakan mengguncang sejumlah kota pelabuhan seperti Bandar Abbas, Konarak, dan Chabahar. Beberapa wilayah dilaporkan mengalami pemadaman listrik.
"Ini adalah pembalasan atas pemboman kapal-kapal oleh Iran kemarin," tulis Trump melalui platform Truth Social pada Rabu (8/7). Ia juga memperingatkan bahwa serangan berikutnya akan dibalas dengan tindakan yang lebih keras.
Saat berbicara kepada wartawan di atas pesawat Air Force One, Trump mengungkapkan bahwa pihak Iran sempat menghubunginya dan disebut "sangat ingin mencapai kesepakatan". Namun, ia tidak menjelaskan siapa yang melakukan komunikasi tersebut dan kemudian menyebut Iran sebagai pihak yang "agak gila", sehingga kembali meragukan peluang tercapainya kesepakatan damai.
Kepala negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan Selat Hormuz hanya akan dibuka berdasarkan kesepakatan yang melibatkan Iran.
"AS masih belum belajar bahwa intimidasi dan pelanggaran janji tidak lagi tanpa konsekuensi. Jika Anda menyerang, Anda akan diserang," tulis Ghalibaf melalui akun X.
Perang Meluas
Di tengah meningkatnya konflik, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres kembali menyerukan semua pihak menahan diri demi mencegah perang meluas. Seruan serupa juga disampaikan Pakistan yang selama ini berperan sebagai mediator dalam dialog AS-Iran.
Pemerintah Iran menyatakan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi telah berbicara melalui telepon dengan Perdana Menteri Qatar. Keduanya menekankan pentingnya penyelesaian persoalan regional melalui jalur diplomasi.
Baik Washington maupun Teheran mengklaim telah menghantam puluhan target lawan sejak gelombang serangan pertama. Televisi pemerintah Iran melaporkan sedikitnya delapan personel militer Iran tewas akibat serangan tersebut.
CENTCOM menyebut telah menyerang lebih dari 80 target militer Iran pada Selasa, sedangkan IRGC mengklaim membalas dengan menghantam puluhan fasilitas militer AS di Kuwait dan Bahrain.
Seorang pejabat militer AS mengatakan serangan terbaru Iran tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan besar terhadap instalasi militer Amerika.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: AFP, Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Trump Mengaku Bicara dengan Hezbollah dan Netanyahu, Konflik Lebanon Memasuki Babak Baru
-
JD Vance: Kekuatan Militer Bukan Solusi
-
Rupiah Melemah, Konflik Timur Tengah hingga Lonjakan Harga Minyak Guncang Ekonomi Indonesia
-
Menlu Marco Rubio Tegaskan Perang AS-Iran Telah Berakhir
-
Gencatan Senjata di Timur Tengah Terancam Setelah Iran Lancarkan Serangan Rudal ke Israel
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.