Embun Upas Jadi Magnet Wisata Dieng di Musim Libur Sekolah

Kamis, 09 Jul 2026, 16:07 WIB

BANJARNEGARA -- Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Dinparbud) Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, menyebutkan fenomena embun upas yang kembali muncul di Kawasan Wisata Dataran Tinggi Dieng menjadi magnet yang menarik kunjungan wisatawan pada musim liburan sekolah.

Kepala Dinparbud Kabupaten Banjarnegara Tursiman di Banjarnegara, Kamis, mengatakan embun upas merupakan fenomena alam yang lazim terjadi di Dieng khususnya Kompleks Candi Arjuna saat musim kemarau, terutama pada Juli hingga Agustus ketika suhu udara pada dini hari dapat turun hingga berada di bawah titik beku.

Ket. Foto: Hamparan embun beku atau embun upas menyelimuti Dataran Tinggi Dieng, Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Kamis (9/7) pagi. — Sumber: ANTARA/HO-UPTD Dieng

"Ini merupakan fenomena alam yang memang terjadi. Biar masyarakat tahu dan wisatawan juga banyak hadir ke sana untuk menikmati suasana ini," katanya.

Berdasarkan pengalaman pada tahun-tahun sebelumnya, suhu di kawasan tersebut umumnya dapat mencapai minus 1 derajat Celcius hingga minus 2 derajat Celcius, bahkan pada kondisi tertentu dapat lebih rendah.

Menurut dia, kemunculan embun upas menjadi salah satu daya tarik wisata khas Dieng yang selalu dinantikan wisatawan, terutama pada musim kemarau yang bertepatan dengan masa liburan sekolah.

Pihaknya terus mempromosikan fenomena tersebut agar semakin banyak wisatawan berkunjung ke Dieng dengan tetap memperhatikan kondisi cuaca dan menjaga kelestarian kawasan wisata.

Sementara itu, Kepala Bidang Kelembagaan, Sumber Daya Manusia dan Pemasaran Dinparbud Banjarnegara Eko Sri Wurjani Juniasih mengatakan kemunculan embun upas yang bertepatan dengan libur sekolah memberikan dampak positif terhadap peningkatan kunjungan wisatawan ke Dataran Tinggi Dieng.

"Alhamdulillah ini bertepatan dengan liburan sekolah. Kunjungan sangat signifikan naiknya karena terkait isu embun upas. Banyak wisatawan yang tertarik karena fenomena alam ini memang jarang terjadi, sehingga mereka beramai-ramai datang ke Dieng, banyak juga yang berwisata bersama keluarga," katanya.

Ia mengatakan selama musim kemarau tahun ini embun upas telah terpantau muncul sekitar enam hingga tujuh kali. Fenomena tersebut pertama kali muncul pada awal Juni ketika suhu udara sempat mencapai sekitar minus 2 derajat Celsius, kemudian kembali terjadi beberapa kali pada awal Juli.

Bahkan pada Kamis (9/7) pagi, kata dia, suhu udara mencapai minus 6 derajat Celcius berdasarkan pencatatan yang dilakukan oleh Unit Pelaksana Teknis Daerah Dieng.

Menurut dia, embun upas menjadi magnet wisata yang turut mendongkrak jumlah kunjungan ke Dieng.

“Berdasarkan data penjualan tiket, jumlah wisatawan ke Dieng sepanjang 2026 menunjukkan tren meningkat, yakni Januari sebanyak 69.225 orang, Februari 32.982 orang, Maret 87.031 orang, April 68.799 orang, Mei 89.793 orang, dan Juni 131.970 orang. Sementara pada periode 1-9 Juli 2026 jumlah wisatawan telah mencapai 67.421 orang,” katanya.

Dia mengharapkan suhu dingin yang memicu kemunculan embun upas masih berlanjut hingga penyelenggaraan Dieng Culture Festival (DCF) 2026 pada 28-30 Agustus 2026.

Menurut dia, apabila fenomena tersebut masih terjadi saat festival berlangsung, embun upas dapat menjadi daya tarik tambahan yang semakin meningkatkan kunjungan wisatawan ke kawasan Dataran Tinggi Dieng.

Embun upas atau yang dikenal masyarakat sebagai embun es merupakan lapisan kristal es tipis yang terbentuk di permukaan rumput dan tanaman akibat suhu udara yang sangat rendah pada malam hingga dini hari.

Fenomena tersebut menjadi salah satu daya tarik wisata musiman di Dataran Tinggi Dieng yang muncul hampir setiap musim kemarau.

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Antara, Sujar

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.