Daya Beli Belum Pulih, BI Catat Kontraksi Penjualan Ritel Kian Dalam
Kamis, 09 Jul 2026, 14:38 WIBJAKARTA â Penurunan Indeks Penjualan Riil (IPR) pada Juni 2026, baik secara bulanan maupun tahunan, mengindikasikan bahwa aktivitas konsumsi masyarakat masih menghadapi tekanan.
Kontraksi yang lebih dalam dibandingkan Mei 2026 mencerminkan belum pulihnya permintaan domestik, sehingga berpotensi menahan laju pertumbuhan ekonomi.
Kondisi ini menjadi sinyal perlunya penguatan daya beli dan stimulus konsumsi agar sektor ritel kembali menjadi motor penggerak aktivitas ekonomi.
Bank Indonesia (BI) melalui hasil Survei Penjualan Eceran memprakirakan kinerja penjualan eceran pada Juni 2026 masih terjaga, sebagaimana terlihat dari Indeks Penjualan Riil (IPR) yang diprakirakan sebesar 221,6.
Prakiraan indeks tersebut masih mencatatkan kontraksi, yakni sebesar 4,4 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Sebagai perbandingan, IPR Indonesia pada Mei 2026 tercatat sebesar 223,4, mengalami kontraksi sebesar 3,9 persen secara tahunan (yoy).
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (9/7), menyampaikan bahwa perkembangan ini terutama ditopang oleh pertumbuhan positif penjualan secara tahunan pada kelompok suku cadang dan aksesori maupun perlengkapan rumah tangga lainnya.
Secara rinci, berdasarkan hasil survei, kelompok suku cadang dan aksesori mencatatkan indeks 145,5 atau tumbuh 11 persen (yoy), sementara kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya mencatatkan indeks 83,8 atau tumbuh 1,8 persen (yoy).
Namun, beberapa kelompok diprakirakan masuk ke dalam zona kontraksi, yaitu kelompok barang budaya dan rekreasi (indeks 56,4; terkontraksi 8,5 persen yoy) serta kelompok bahan bakar kendaraan bermotor (indeks 103,5; terkontraksi 7,8 persen yoy), setelah pada periode sebelumnya masing-masing tumbuh sebesar 0,2 persen (yoy) dan 0,3 persen (yoy).
Secara bulanan, penjualan eceran pada Juni 2026 diprakirakan turun sebesar -0,8 persen (month to month/mtm), lebih baik dibandingkan periode sebelumnya yang turun sebesar -1,5 persen (mtm).
BI mencatat, perbaikan tersebut didorong oleh meningkatnya kinerja penjualan pada kelompok perlengkapan rumah tangga Lainnya (1,9 persen mtm) dan subkelompok sandang (4,7 persen mtm) seiring mulai masuknya periode liburan sekolah pada akhir Juni 2026.
Sementara itu kelompok barang budaya dan rekreasi (-2,0 persen mtm); kelompok suku cadang dan aksesori (-3,1 persen mtm); serta kelompok makanan, minuman, dan tembakau (-0,7 persen mtm) mengalami perbaikan dari periode sebelumnya meski masih tertahan di zona kontraksi.
Untuk realisasi pada Mei 2026, IPR tercatat sebesar 223,4 atau -3,9 persen (yoy), relatif stabil dari bulan sebelumnya sebesar -3,7 persen (yoy).
Berdasarkan hasil survei, kinerja IPR Mei 2026 ditopang oleh tetap tumbuhnya penjualan secara tahunan pada kelompok suku cadang dan aksesori (indeks 150,1; tumbuh 11,2 persen yoy), bahan bakar kendaraan bermotor (indeks 107,0; tumbuh 0,3 persen yoy), serta barang budaya dan rekreasi (indeks 57,5; tumbuh 0,2 persen yoy).
Secara bulanan, penjualan eceran pada Mei 2026 turun sebesar -1,5 persen (mtm), lebih baik dibandingkan dengan realisasi pada bulan sebelumnya yang turun sebesar -11,6 persen (mtm).
BI mencatat bahwa perbaikan tersebut didorong oleh peningkatan kinerja kelompok peralatan informasi dan komunikasi serta kelompok bahan bakar kendaraan bermotor yang masing-masing tumbuh 1,0 persen (mtm) dan 1,3 persen (mtm), setelah pada April 2026 masing-masing tercatat sebesar -9,4 persen (mtm) dan 0,2 persen (mtm).
Selain itu, kelompok lainnya juga menunjukkan perbaikan yang tecermin dari kontraksi yang lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya, terutama pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau (-1,3 persen mtm), kelompok barang budaya dan rekreasi (-4,2 persen mtm), dan subkelompok sandang (-11,0 persen mtm).
Perkembangan tersebut dipengaruhi permintaan masyarakat pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Kenaikan Yesus Kristus, Iduladha, dan Waisak.
Dari sisi harga, tekanan inflasi pada Agustus 2026 diprakirakan meningkat, sementara pada November 2026 diprakirakan relatif stabil.
Hal ini tecermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Agustus 2026 sebesar 178,0, lebih tinggi dibandingkan dengan IEH pada Juli 2026 sebesar 175,8, didorong oleh kenaikan harga bahan baku.
Sementara itu, IEH November 2026 diprakirakan sebesar 167,5, relatif stabil dibandingkan dengan IEH Oktober 2026 sebesar 167,6.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Jorge Martin Menangi MotoGP Prancis, Ai Ogura Cetak Sejarah jadi Pembalap Jepang Raih Podium Perdana Sejak 2012
-
Cara Unik Nelayan Berau Rawat Tradisi Sobat agar Tetap Hidup
-
Cegah Pelarian Modal, BI Diperkirakan Menaikkan Bunga Acuan di Semester I-2026
-
IHSG Longsor Pagi Ini: Dari Rebalancing MSCI hingga Warning FTSE Russell
-
PT KAI Daop 7 Madiun Tutup Perlintasan Liar di Blitar
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.