Pementasan Gamelan Kuno Semar Pegulingan di Panggung PKB 2026
Rabu, 08 Jul 2026, 22:50 WIBDenpasar - Seniman Kabupaten Gianyar yang tergabung dalam Sanggar Eka Kencana, Banjar Wanayu, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh melestarikan musik gamelan kuno lewat pementasan Rekasadana (Pergelaran) Semar Pegulingan pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026.Â
"Gamelan kuno semar pegulingan ini memang sangat perlu kita lestarikan agar generasi penerus dapat melihat dengan jelas karya-karya klasik, perkembangan, serta upaya pelestariannya melalui pementasan yang ditampilkan setiap tahun," kata Pembina sekaligus Komposer Tari Legong Sanggar Eka Kencana, Gianyar, I Dewa Putu Rai di Denpasar, Rabu.
Pementasan gamelan dan tarian yang berlangsung di panggung Ratna Kanda PKB 2026 tersebut menegaskan bahwa semar pagulingan bukan sekadar tontonan musiman, melainkan sebuah warisan budaya tak benda yang terus hidup melalui dedikasi para seniman lintas generasi. Â
Dewa Rai menyampaikan perhelatan akbar tahunan ini menjadi momentum krusial bagi pelestarian kesenian langka tersebut, terlebih status semar pegulingan saat ini telah resmi diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya tak benda.
Pria asal Ubud ini menjelaskan, secara historis dan filosofis, kata "Smar"atau "Semara" melambangkan simbol keindahan dan rasa cinta, sedangkan "Pegulingan" berasal dari kata guling (tempat tidur) yang mengkondisikan seseorang berada dalam tidur yang tenang.
Pada zaman kerajaan dahulu, gamelan bertangga nada tujuh dengan laras pelog ini merupakan musik persembahan eksklusif bagi raja.
"Ketika sang raja sedang memikirkan banyak hal seperti halnya pemerintah sekarang yang memiliki banyak tugas, beliau memerlukan asupan suara gamelan yang indah agar mendapatkan ketenangan dalam berpikir. Itulah filosofi mendasar dari semar pegulingan," ujarnya.
Dewa Rai menyampaikan apresiasi terhadap formula ajang PKB 2026 yang mengusung misi penyeimbangan seni, yakni fokus pada 60 persen pelestarian dan 40 persen pengembangan.
Melalui pakem tersebut, Sanggar Eka Kencana menampilkan perpaduan karya klasik dan karya baru, termasuk sebuah Tari Legong Kreasi yang digarap langsung oleh Dewa Putu Rai.
Karya ini dikembangkan menjadi sesuatu yang baru tanpa mengurangi nilai-nilai pementasan dari Legong Klasik asli.
Keberhasilan penampilan masif yang melibatkan sedikitnya 35 orang penabuh dan sekitar 60 orang penari ini diakui tidak luput dari tantangan, terutama dalam menyatukan waktu latihan di tengah kesibukan para seniman yang berstatus sebagai pekerja dan pelajar.
Nantinya setelah pementasan ini, pihaknya berharap ruang ekspresi yang difasilitasi oleh pemerintah dan sponsor dapat memotivasi generasi muda Bali untuk terus mengeksplorasi potensi diri menuju tingkatan yang lebih baik, seperti meraih penghargaan Kerti Mandala.
Pergelaran semar pegulingan oleh Duta Gianyar ini diharapkan dapat menghapus kekhawatiran akan hilangnya harga diri daerah dalam pelestarian seni dan kebudayaan Bali di masa depan.
- Pesta Kesenian Bali
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Menyusuri Sungai Brantas Mencari Warga yang Hanyut
-
Cuaca Panas Ekstrem di Tanah Suci, Jamaah Haji Harus Waspadai Tanda-tanda Dehidrasi
-
Lomba Balap Perahu Naga
-
Jangan Cuma Duduk di Belakang Meja! Gubernur Banten Desak OPD Cepat Respons Keluhan Warga
-
Gejolak Minyak Global Picu Negara Percepat Transisi Energi Hijau
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.