Gejolak Minyak Global Picu Negara Percepat Transisi Energi Hijau

Senin, 11 Mei 2026, 06:00 WIB

Krisis Energi

BRUSSEL - Ketegangan di Timur Tengah dan volatilitas pasar minyak global dinilai dapat menjadi katalis bagi negara-negara untuk mempercepat transisi menuju energi terbarukan.

Ket. Foto: Sebuah foto drone udara yang diambil beberapa waktu lalu menunjukkan Hotel Pulau Dongyu di zona demonstrasi nol-karbon Boao di Boao, Provinsi Hainan, Tiongkok selatan. — Sumber: ANTARA/Xinhua/Yang Guanyu

Hal itu disampaikan mantan under-secretary-general Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Erik Solheim dalam wawancara dengan Xinhua akhir pekan ini.

“Krisis di Timur Tengah memperkuat hal ini karena semua orang ingin menjadi mandiri dalam hal energi,” ujar Solheim, khususnya terkait dampak ketegangan di Selat Hormuz.

Dikutip dari Antara, menurut Solheim, ketidakstabilan geopolitik saat ini mendorong banyak negara mencari keamanan energi domestik dengan mengurangi ketergantungan pada pasar minyak yang bergejolak dan beralih ke energi hijau seperti tenaga surya, angin, dan air.

Solheim juga mengingatkan bahwa krisis energi paling berdampak terhadap negara-negara rentan dan berpenghasilan rendah karena memicu kenaikan biaya pupuk dan transportasi.

Karena itu, ia menyerukan pentingnya kerja sama global untuk mengurangi dampak tersebut.

Ia menegaskan bahwa teknologi hijau kini bukan lagi sekadar pilihan lingkungan, tetapi telah menjadi kebutuhan ekonomi.

“Jika Anda beralih ke tenaga surya, Anda akan menghemat uang,” katanya, sembari menyebut energi terbarukan sebagai sumber energi paling murah dan paling mudah dikembangkan saat ini.

Solheim turut menyoroti ketahanan energi Tiongkok yang dinilai kuat berkat pengembangan industri kendaraan listrik dan energi hijau secara masif.

Menurut dia, Tiongkok kini menjadi pemain utama dalam industri hijau dunia, termasuk dalam produksi panel surya dan baterai listrik.

Mantan pejabat PBB itu juga mengatakan banyak negara mulai mewaspadai ketergantungan berlebihan terhadap perubahan kebijakan dari Washington yang dapat memicu fluktuasi harga minyak global.

Karena itu, banyak negara mulai mempertimbangkan sumber energi domestik berbasis matahari, angin, dan air yang lebih stabil dan berkelanjutan.

Solheim pun mendorong negaranegara Eropa dan mitra global lainnya untuk memperkuat kerja sama dengan industri hijau Tiongkok.

Ia mengingatkan bahwa hambatan perdagangan hanya akan memperlambat transisi energi hijau dan menghambat upaya menghadapi perubahan iklim.

Interkonektivitas Energi

Sementara itu, para pemimpin Asean juga mendukung percepatan mekanisme berbagi energi dan interkoneksi listrik regional di tengah kekhawatiran terganggunya pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah.

Dalam konferensi pers seusai KTT ke-48 Asean, Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. mengatakan negara-negara ASEAN sepakat memperkuat kerja sama keamanan energi dan memastikan rantai pasok energi yang stabil serta andal di kawasan.

Salah satu langkah yang dibahas adalah percepatan ratifikasi Kesepakatan Kerangka Asean tentang Keamanan Minyak Bumi (APSA), yang memungkinkan negara anggota saling membantu saat terjadi kelangkaan bahan bakar.

“Para pemimpin sepakat akan pentingnya rantai pasok energi yang stabil dan andal, interkonektivitas energi yang lebih kuat, serta percepatan diversifikasi menuju sumber energi alternatif dan terbarukan,” kata Marcos.

Mekanisme APSA memungkinkan negara anggota memasok bahan bakar kepada negara lain yang mengalami kekurangan stok minimal setara 10 persen kebutuhan domestik mereka.

Selain itu, Asean juga mendorong operasionalisasi Asean Power Grid, proyek regional yang menghubungkan jaringan listrik seluruh negara anggota.

“Kami mendorong operasionalisasi Asean Power Grid untuk memungkinkan perdagangan listrik lintas batas, mendukung integrasi energi terbarukan, dan menyediakan listrik yang lebih terjangkau bagi hampir 700 juta penduduk,” ujar Marcos.

Gangguan rantai pasok energi global menjadi salah satu isu utama dalam KTT Asean yang digelar di Filipina tahun ini.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.