Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Buya Subi Festival Promosikan Kain Tenun Donggala ke Dunia Internasional

📅 Rabu, 08 Jul 2026, 16:27 WIB | Oleh:
Buya Subi Festival Promosikan Kain Tenun Donggala ke Dunia Internasional Doc: ANTARA/Fauzi Lamboka
Ket. Salah seorang model dari Eco Fashion Week Australia (EFWA), menampilkan pakaian dari dari kain tenun Donggala dalam Buya Subi Festival 2026 di Kawasan Wisata Pantai Karampuana, Desa Towale, Kecamatan Banawa Tengah, Selasa (7/7).

DONGGALA, SULAWESI SELATAN -- Wakil Gubernur Sulawesi Tengah Reny A. Lamadjido mengatakan Buya Subi Festival 2026 menjadi ajang mempromosikan tenun khas Donggala ke pasar nasional dan internasional.

“Buya Subi Festival bukan sekadar agenda budaya, tetapi juga menjadi pernyataan kepada dunia bahwa Sulawesi Tengah memiliki kekayaan tenun khas Donggala yang bernilai tinggi, sarat filosofi kehidupan, serta mampu menjadi bagian dari industri fashion berkelanjutan di tingkat nasional maupun internasional,” katanya di Donggala, Rabu.

Melalui Buya Subi Festival 2026, dia berharap lahir berbagai kerja sama strategis yang mampu memperkuat promosi pariwisata, memberdayakan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sekaligus membuka akses pasar internasional bagi produk-produk unggulan Sulawesi Tengah.

Ia mengatakan dengan kehadiran CEO Eco Fashion Week Australia (EFWA) Zuhal Kuvan Mills menjadi peluang besar untuk memperkenalkan tenun khas Donggala ke pasar dunia.

“Mari jadikan festival ini sebagai ruang belajar, ruang berkarya, ruang berkolaborasi, sekaligus ruang membangun masa depan ekonomi kreatif Sulawesi Tengah yang inklusif dan berkelanjutan,” katanya.

Buya Subi Festival 2026 digelar pada 5-11 Juli 2026, merupakan hasil kerja sama dengan Eco Fashion Week Australia (EFWA) dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah.

Sementara untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya tersebut, menurut Wagub, pemerintah provinsi akan membahas rencana menghadirkan jurusan khusus tenun di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Menurut dia, langkah ini penting mengingat sebagian besar penenun saat ini berasal dari kalangan usia lanjut sehingga regenerasi harus segera dilakukan.

Saat ini dua desa yang menjadi pusat tenun Donggala yakni Desa Towale dan Desa Limboro, memiliki sekitar 200 orang penenun. Namun mayoritas mereka adalah penenun yang sudah lanjut usia.

“Jangan sampai tenun kita hilang karena para pengrajinnya didominasi generasi yang sudah lanjut usia. Regenerasi harus dilakukan agar warisan budaya ini tetap hidup dan berkembang,” ujarnya.

Ia mengatakan festival tidak boleh berhenti pada kegiatan pameran semata, tetapi harus mampu mendorong masyarakat untuk membeli dan menggunakan produk tenun lokal secara berkelanjutan sehingga memberikan dampak nyata terhadap peningkatan ekonomi para pengrajin.

Menurut dia, warna, motif, dan kualitas serat kain tenun Donggala sangat baik serta memiliki daya saing tinggi. Karena itu, ia mendorong para perajin untuk terus meningkatkan kualitas sekaligus menghadirkan model-model yang mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai budaya lokal.

“Pemerintah ingin kualitas terus meningkat dengan desain yang lebih modern, tetapi tetap mempertahankan identitas budaya Donggala,” katanya.

Ia menegaskan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah terus mendorong pengembangan ekonomi kreatif sebagai salah satu pilar pertumbuhan ekonomi daerah.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
Megapolitan
BPBD: Tangerang Berpotensi ...
Advertisement
Kerusuhan Pecah di Milan, Toko-toko Dijarah Massa

Kerusuhan Pecah di Milan, Toko-toko Dijarah Massa

19 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.