Tak Hanya Andalkan Pantai, BI Siapkan Klaster Wisata untuk Sebarkan Pertumbuhan Bali
Rabu, 01 Jul 2026, 18:15 WIBDENPASAR â Pengembangan klaster wisata menjadi strategi untuk meningkatkan daya saing destinasi melalui integrasi berbagai potensi daerah, mulai dari objek wisata, pelaku UMKM, ekonomi kreatif, hingga infrastruktur pendukung.
Pendekatan ini tidak hanya memperpanjang lama tinggal wisatawan dan meningkatkan belanja mereka, tetapi juga menciptakan efek berganda bagi perekonomian lokal melalui terbukanya lapangan kerja dan tumbuhnya usaha masyarakat.
Agar memberikan dampak yang berkelanjutan, pengembangan klaster wisata perlu didukung oleh konektivitas yang memadai, promosi yang terarah, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pelestarian budaya dan lingkungan sebagai daya tarik utama destinasi.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali memetakan klaster wisata yang dapat digarap optimal dengan menyesuaikan potensi wilayah guna mendukung pemerataan ekonomi di Bali bagian utara, timur dan barat.
âTerjadi over capacity untuk wilayah Bali bagian selatan,â kata Deputi Direktur Kantor Perwakilan BI Provinsi Bali Yusuf Wicaksono di Denpasar, Bali, Rabu (1/7).
Pemetaan tersebut menjadi bagian dari diversifikasi dan produk wisata, sebagaimana di Kabupaten Jembrana atau Bali Barat potensial untuk lebih mengembangkan pariwisata maritim atau yang berbasis pelestarian ekosistem laut.
Kemudian di Bali Utara atau di Kabupaten Buleleng mengembangkan wisata kebugaran dan wisata agro spiritual serta wisata berbasis warisan budaya dan kuliner di Kabupaten Klungkung-Bangli.
Ia menilai pentingnya diversifikasi pasar pariwisata di Bali mengingat sejumlah titik pariwisata di Bali Selatan semakin padat di antaranya di Uluwatu, Pandawa, Mertasari yang dinilai telah melebihi kapasitasnya, sehingga memberi dampak terhadap lingkungan, infrastruktur dan kenyamanan wisata.
Untuk itu, ia mendorong penegakan aturan tata ruang, izin pembangunan dan pengendalian daya dukung lingkungan secara tegas dengan kolaborasi dengan mengintegrasikan peran pemerintah daerah, desa adat, akademisi, pelaku usaha dan masyarakat.
Meski begitu, dalam upaya pemerataan pariwisata tersebut masih diwarnai sejumlah tantangan infrastruktur dan konektivitas antardaerah yaitu pentingnya percepatan pembangunan koridor pariwisata timur-barat-utara, dan proyek transportasi publik (MRT) Denpasar-Klungkung-Bangli-Singaraja.
Kemudian revitalisasi Pelabuhan Gilimanuk di Kabupaten Jembrana, Padangbai di Kabupaten Karangasem, dan Celukan Bawang di Kabupaten Buleleng.
Selama ini, sektor pariwisata menjadi tulang punggung perekonomian di Bali sekaligus rentan terhadap gangguan eksternal seperti kesehatan dan krisis geopolitik global.
Dinas Pariwisata Provinsi Bali mencatat pariwisata berperan 66 persen terhadap pertumbuhan ekonomi di Bali berdasarkan data pada 2024.
Adapun Provinsi Bali berkontribusi besar terhadap devisa nasional, dengan menyumbangkan Rp176 triliun atau 55 persen devisa dari total realisasi secara nasional mencapai Rp319,9 triliun.
Pada 2025, sebanyak 7,05 juta orang wisatawan mancanegara berkunjung di Bali atau naik dibandingkan 2024 sebesar 6,33 juta orang.
- Bank Indonesia (BI)
- klaster wisata
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Jorge Martin Menangi MotoGP Prancis, Ai Ogura Cetak Sejarah jadi Pembalap Jepang Raih Podium Perdana Sejak 2012
-
Ekonomi Jakarta Tumbuh 5,59% di Triwulan I, Topang Seperenam Ekonomi Nasional
-
Persija Jakarta Tundukkan Persijap Jepara
-
Cegah Pelarian Modal, BI Diperkirakan Menaikkan Bunga Acuan di Semester I-2026
-
RI Gandeng Panama, Taruna Pelayaran Kemenhub Berpeluang Magang & Studi ke Luar Negeri
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.