Surplus 72 Bulan Berakhir! Defisit Neraca Perdagangan Mei 2026 Jadi Sinyal Waspada Ekonomi

Rabu, 01 Jul 2026, 15:12 WIB

JAKARTA – Defisit neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 mengakhiri tren surplus yang telah berlangsung selama 72 bulan berturut-turut, menandai adanya perubahan dinamika perdagangan eksternal.

Kondisi ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan impor, baik untuk kebutuhan bahan baku, barang modal, maupun konsumsi, melampaui peningkatan ekspor yang tengah menghadapi pelemahan permintaan global dan fluktuasi harga komoditas.

Ket. Foto: Kapal peti kemas milik negara asing melakukan akitvitas bongkar muat komoditas ekspor impor di dermaga JICT Tanjung Priok, Jakarta. — Sumber: ANTARA FOTO/ Muhammad Adimaja

Meski belum tentu mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi, defisit ini menjadi sinyal bagi pemerintah untuk memperkuat daya saing ekspor, memperluas pasar tujuan, serta menjaga keseimbangan perdagangan agar tidak memberikan tekanan berkelanjutan terhadap nilai tukar rupiah dan stabilitas ekonomi nasional.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Neraca Perdagangan Indonesia pada periode Mei, mengalami defisit 1,61 miliar dolar AS, dengan rincian ekspor 23,20 miliar dolar AS dan impor 24,81 miliar dolar AS

“Untuk Mei 2026, nilai ekspor tersebut turun 5,73 persen secara tahunan, sementara untuk nilai impor pada bulan Mei mengalami peningkatan 22,16 persen secara tahunan,” ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (1/7).

Sebelumnya, pada April 2026, Indonesia masih mengantongi surplus neraca perdagangan sebesar 89,1 juta dolar AS. Dengan demikian, defisit kali ini mengakhiri rangkaian surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Defisit ini disumbang dari komoditas migas berupa hasil minyak dan juga minyak mentah senilai minus 3,76 miliar dolar AS, atau lebih buruk dibandingkan catatan pada April 2026 senilai minus 3,44 miliar dolar AS.

Sementara untuk komoditas nonmigas masih alami surplus meskipun lebih rendah dari April 2026. Surplus nonmigas di Mei 2026 sebesar 2,15 miliar dolar AS, turun dibandingkan April 2026 senilai 3,53 miliar dolar AS.

Komoditas utama penyumbang surplus nonmigas ini antara lain bahan bakar mineral (HS27). Penyumbang surplus berikutnya dari lemak dan minyak hewan/nabati (HS15), dan juga besi dan baja (HS72).

Ateng memerinci, untuk total impor di Mei 2026 mencapai 24,81 miliar dolar AS (yoy) atau naik 22,16 persen dari Mei 2025.

Kenaikan impor Mei 2026 ini berasal dari impor migas senilai 4,51 miliar dolar AS naik 70,78 persen (yoy). Impor nonmigas pun melonjak menjadi 20,30 miliar dolar AS pada Mei 2026 atu naik 14,89 persen (yoy).

“Peningkatan impor secara tahunannya (impor Mei 2026) ini terutama didorong impor nonmigas dengan andil peningkatan impor nonmigas sebesar 12,95 persen,” lanjut Ateng.

Dilihat menurut penggunaan, seluruh kelompok mengalami kenaikan di Mei 2026 dibandingkan Mei 2025. Impor penggunaan untuk barang konsumsi naik 21,99 persen (yoy) menjadi 2,23 miliar dolar AS, impor bahan baku/ penolong naik 25,17 persen (yoy) menjadi 17,58 miliar dolar AS, dan impor untuk barang modal naik 12,70 persen (yoy) menjadi 5,00 miliar dolar AS.

Dari sisi ekspor, Ateng menyampaikan ekspor Mei 2026 hanya mencapai 23,20 miliar dolar AS atau turun 5,73 persen (yoy).

Penurunan ekspor ini berasal dari penurunan ekspor migas dan nonmigas. Masing-masing untuk penurunan migas sebesar minus 31,76 persen (yoy) menjadi 0,76 miliar dolar AS dan ekspor nonmigas turun 4,50 persen menjadi 22,45 miliar dolar AS.

Ateng memerinci, penurunan nilai ekspor Mei 2026 secara tahunan didorong terutama oleh penurunan nonmigas dengan beberapa komoditas utama.

Pertama adalah logam mulia dan perhiasan atau permata (HS71) turun 59,35 persen dengan andil minus 2,93 persen terhadap kenaikan total ekspor. Kedua adalah ekspor bijih logam, terak dan abu (HS26) turun 99,25 persen dengan andil minus 2,37 persen. Ketiga ekspor besi dan baja (HS72) turun 14,68 persen dengan andil 1,67 persen.

Berdasarkan sektor, ekspor Mei 2026 mengalami penurunan dibandingkan Mei 2025. Ekspor untuk sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan turun 20,43 persen (yoy) menjadi 0,50 miliar dolar AS.

Kedua, sektor pertambangan dan lainnya turun 7,03 persen (yoy) menjadi 2,89 miliar dolar AS. Dan ketiga ekspor sektor industri pengolahan turun 3,59 persen (yoy) menjadi 19,05 miliar dolar AS.

Meski demikian, secara kumulatif pada Januari hingga Mei 2026 mengalami surplus 4,03 miliar dolar AS, dengan rincian ekspor 115,36 miliar dolar AS dan impor Rp111,33 miliar dolar AS.

Total nilai ekspor kumulatif tersebut mengalami peningkatan 3,02 persen secara tahunan (year on year), dengan sektor yang berkontribusi terbesar yakni industri pengolahan sebesar 5,38 persen.

Untuk impor di periode tersebut naik 15,24 persen, dengan andil utama peningkatan impor bahan baku/penolong 10,35 persen.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.