Kiat Mencegah “victim blaming” di Media Sosial
Rabu, 01 Jul 2026, 23:37 WIBJakarta - Psikolog klinis Gisella Tani Pratiwi, M.Psi, Psikolog membagikan sejumlah kiat yang bisa dilakukan dalam mencegah victim blaming atau perilaku menyalahkan korban tindak kekerasan terutama di media sosial.
Menurut psikolog lulusan Universitas Indonesia itu, perlunya mengedepankan empati saat menyikapi kasus kekerasan apa pun jenisnya terutama kekerasan dalam relasi yang ramai diperbincangkan di media sosial, lantaran tidak mengetahui seperti apa kondisi yang terjadi sesungguhnya yang dialami korban.
âTindakan baik, seperti berkomentar atau apa pun, minimal tidak memperparah kondisi korban. Pikirkan ulang ketika ingin mengetikkan sesuatu, baca kembali sebelum kita komen, mudah-mudahan akan mengurangi bagaimana kita bisa victim blaming terutama di media sosial,â kata Gisella ketika dihubungi ANTARA di Jakarta, Rabu.
Gisella menyampaikan hal yang bisa dilakukan sebelum menanggapi atau berkomentar di media sosial saat melihat kasus kekerasan terutama kekerasan dalam relasi yakni membaca kembali kalimat yang telah diketik untuk memastikan isinya pantas disampaikan.
Kemudian, mencoba bayangkan ketika berada di pihak korban dan mempertimbangkan apakah komentar tersebut benar-benar dapat membantu.
Masyarakat juga perlu mengevaluasi perasaan pribadi yang muncul saat membaca suatu kasus baik di media sosial maupun di artikel berita agar lebih memahami respons yang akan diberikan.
âApa yang saya merasa terkoneksi, misalnya dalam level âoh saya pernah tahu teman saya punya kondisi demikian, atau saya sendiri pernah berada dalam kondisi yang miripâ, sehingga kita lebih sadar diri ketika melakukan sesuatu termasuk berkomentar bisa lebih berempati, memberikan sesuatu yang tidak menambah kesengsaraannya si korban,â tuturnya.
Psikolog yang berpraktik di Jakarta ituâââââââ juga menyoroti victim blaming kerap ditemukan di masyarakat, bahkan pada kasus yang sangat ekstrem di mana korbannya sudah jelas-jelas menderita, baik secara fisik maupun secara psikologis.
Victim blaming ini dipicu salah satunya karena tidak memahami dinamika yang dialami korban, terutama pada orang yang tidak pernah mengalami hubungan yang penuh kekerasan.
"Merasa bahwa 'kan logikanya kalau disakiti ya menjauh'. Tapi mereka kurang paham bahwa dalam konteks relasi yang berkekerasan, terdapat manipulasi psikologis, relasi yang dimonopoli ataupun dikuasai, didominasi oleh si pelaku dengan beragam motifnya bisa ekonomi, emosional, seksual, macam-macam. Itu yang mungkin kurang dipahami, kemudian banyak yang masih victim blaming,â kata dia.
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Dewa United Finis di Posisi Keempat Klasemen Akhir IBL 2026
-
Jaktim Canangkan Gerakan Pembagian Bendera Merah Putih
-
Kakanwil Kemenag Nilai Katedral Makassar Rumah Persaudaraan bagi Semua Umat
-
Sekjen PBB Serukan Agar Masa Depan Diatur Supremasi Hukum, Bukan Kesewenang-wenangan
-
Poltek Nuklir BRIN Buka Penerimaan Mahasiswa Baru Jalur Ujian Tulis, Ini Link dan Jadwal Seleksinya!
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.