Antiklimaks! Itulah Gambaran Perjalanan Timnas Belanda, Buah Meninggalkan Gaya Permainan Total Football

Rabu, 01 Jul 2026, 17:53 WIB

JAKARTA - Sudah 12 kali tampil di Piala Dunia, tetapi tim nasional Belanda belum mampu menjuarainya.

Selalu berhasil melewati babak grup setiap kali tampil di Piala Dunia, prestasi terjauh Belanda adalah menjadi finalis pada tiga edisi, yaitu pada 1974 di Jerman Barat, 1978 di Argentina, dan 2010 di Afrika Selatan.

Ket. Foto: Pesepak bola Timnas Belanda Cody Gakpo (kanan) tertunduk usai kalah dari Timnas Maroko pada pertandingan babak 32 besar Piala Dunia 2026 di Stadion Monterrey, Guadalupe, Meksiko, Senin (29/6) waktu setempat. Maroko menang dalam adu penalti 3-2 setelah laga berakhir imbang 1-1 sehingga lolos ke babak 16 besar. — Sumber: ANTARA/Aditya Pradana Putra

Di tahun ini, Belanda terhenti di babak 32 besar, sebuah fase gugur baru yang dikenalkan FIFA karena negara peserta yang bertambah menjadi 48 dari 32 tim.

Pencapaian ini adalah sebuah kemunduran untuk Belanda, mengingat pada edisi sebelumnya mereka mencapai perempat final ketika akhirnya disingkirkan Argentina, negara yang akhirnya menjadi juara.

Perbedaan mentalitas

Antiklimaks. Itulah kata yang tepat menggambarkan perjalanan Belanda di Piala Dunia 2026.

Setelah bermain atraktif dalam tiga laga di Grup F dan berhasil mencetak minimal dua gol setiap laganya, penampilan mereka justru merosot saat memasuki babak gugur.

Maroko, yang datang sebagai runner-up Grup C, menantang Oranye yang berstatus sebagai juara Grup F. Dua-duanya memiliki tujuh poin, dengan dua kemenangan dan satu hasil seri.

Singa Atlas, begitulah julukan Maroko, menjadi lawan sepadan Belanda pada babak 32 besar di Stadion Monterrey, Meksiko, Selasa. Di atas kertas, laga ini diprediksi akan berlangsung terbuka dengan jual beli serangan yang memanjakan mata. Namun, kenyataan yang terjadi di lapangan berbeda.

Maroko datang membawa identitas yang jelas, yang menjadi ciri khas permainan mereka selama ini dengan formasi 4-2-3-1. Sementara Belanda, yang lebih produktif dari Maroko di babak grup, malah kehilangan jati dirinya.

Sang pelatih Ronald Koeman memilih pendekatan yang lebih aman, lebih bermain bertahan, yang bukan "Belanda" sama sekali, yang selama ini dikenal dengan pendekatan "Total Football"-nya.

Formasi 5-2-3 dipilih, dengan pendekatan permainan ini akan berubah menjadi 3-4-3 kala menyerang.

Tijjani Reijnders, yang sebelumnya selalu bermain sebagai starter di lini tengah bersama Frenkie de Jong dan Ryan Gravenberch dalam formasi 4-3-3, dicadangkan Koeman untuk pertama kalinya.

Sebagai gantinya, Koeman memasukkan Nathan Ake sebagai tambahan di barisan pertahanan. Bek Manchester City itu berdiri sejajar dengan Virgil van Dijk dan Jan Paul van Hecke. Micky van de Ven bermain lebih melebar sebagai fullback kiri, sementara di sisi kanan tetap dihuni Denzel Dumfries.

Ya, Belanda memang mencetak gol lebih dulu pada menit ke-72 melalui gol Cody Gakpo. Namun, gol ini tak lahir dari pendekatan yang dilakukan Koeman sejak awal, melainkan tepat setelah ia mengembalikan kekuatan utama Oranye dengan memainkan formasi 4-3-3.

Wout Weghorst, yang baru dimasukkan setelah hydration break, di momen ini memberikan dampak instan dengan memberikan pre-assist kepada Crycensio Summerville yang kemudian memberikan assist kepada Gakpo.

Belanda hampir keluar sebagai pemenang, namun takdir di Monterrey lebih berpihak kepada mereka yang bermain lebih berani.

Issa Diop maju ke kotak penalti untuk menyelesaikan umpan Chemsdine Talbi pada menit ke-90+1. Papan skor berubah menjadi 1-1. Gol ini memaksa laga berlanjut ke babak tambahan waktu, lalu ke adu penalti. Di babak adu tos-tosan ini, kebahagiaan hinggap di pihak Maroko lewat Ismael Saibari sebagai penendang penentu.

Meski terlihat mampu mengimbangi Maroko sampai babak terakhir, sejatinya Belanda-lah yang merugi. Pasalnya, sepanjang laga mereka tak bisa berbuat banyak, tak seperti yang mereka lakukan di babak fase grup.

Statistik Sofascore memperlihatkan laga melawan Maroko adalah penguasaan bola paling sedikit yang dimiliki Belanda di Piala Dunia 2026, dengan jumlah 30 persen. Rendahnya penguasaan bola ini membuat intensitas serangan mereka juga menurun, dengan hanya melakukan enam tembakan saja.

Padahal, dari tiga laga sebelumnya, Belanda dikenal selalu "mendikte" lawan-lawannya. Rata-rata jumlah penguasaan bola sebesar 60,6 persen, yang dibarengi dengan 13,3 tembakan setiap laga menjadi bukti.

Dengan kata lain, perubahan pendekatan yang dilakukan Koeman justru membuat Belanda menjauh dari kekuatan terbaiknya. Artinya, jika pendekatan yang sama tetap dilakukan, mungkin saja peluang menang untuk Belanda akan lebih besar. Ditambah, momentum sedang mereka pegang setelah menjadi tim tersubur di babak grup bersama Jerman dan Prancis.

Kekecewaan Ibrahimovic

Legenda hidup timnas Swedia Zlatan Ibrahimovic memberikan kritikan keras kepada Koeman setelah Belanda tersingkir dari Piala Dunia 2026 lebih cepat.

Ibrahimovic, dengan jujur mengatakan, bahwa tersingkirnya Belanda murni karena kesalahan Koeman yang tak mengenal identitas asli dari negaranya dengan membuat timnya bermain bertahan, alih-alih memainkan sepak bola menyerang yang selama puluhan tahun menjadi ciri khas mereka.

"Mereka kalah dengan identitas yang bukan identitas Belanda, dan ini membuat saya marah,” kata Ibrahimovic di Fox Network, tempat ia bertugas sebagai analis.

Kritik Ibrahimovic menegaskan bahwa Belanda tanpa alasan yang jelas telah meninggalkan gaya permainan mereka, di mana tim ini dalam waktu yang lama mengabaikan penguasaan bola progesif dan hanya bertahan di dekat kotak penalti.

Di babak tambahan waktu, penguasaan bola Belanda hanya 17 persen. Hal ini menimbulkan kesan yang jelas bahwa mereka lebih menunggu adu penalti daripada mengakhiri laga dengan kemenangan di waktu tambahan.

Kekecewaan Ibrahimovic memang ada dasarnya. Meski berasal dari Swedia, tapi pria 44 tahun itu paham betul gaya sepak bola Belanda setelah ia menimba ilmu bersama Ajax Amsterdam selama tiga tahun dan memperkuat Barcelona selama satu tahun. Dua klub ini sangat mengenal Total Football, filosofi yang menjadi wajah sepak bola Negeri Kincir Angin.

Dari sini terlihat, mental Koeman bukan sebagai pelatih yang bermain untuk menang, melainkan bermain untuk tidak kalah. Dan oleh karena itu, pendekatan bertahan ia pilih.

"Dia tampak seperti pelatih Italia, bermain agar tidak kalah," ucap Ibrahimovic.

Di sisi lain, Koeman membela keputusannya bahwa pendekatan lebih bertahan ini diterapkan karena timnya selalu kebobolan di tiga laga babak grup. Dalam kesempatan yang sama ia juga tak peduli kritikan tajam yang dilontarkan kepada dirinya akibat memilih bermain lebih bertahan.

Sementara itu, pelatih Maroko Mohamed Ouahbi, mengungkapkan bahwa kunci keberhasilan timnya justru terletak pada keberanian untuk tetap memainkan gaya sepak bola yang sudah menjadi identitas mereka.

Pendekatan bermain inilah yang membuat Maroko menembus babak 16 besar Piala Dunia 2026, juga menempatkan mereka bertengger di peringkat enam dunia, satu strip di atas Belanda.

Sang wakil Afrika ini kembali bertekad untuk mengulangi kesuksesan di Piala Dunia 2022 Qatar, dengan ujian berikutnya di babak 16 besar adalah menghadapi tuan rumah Kanada pada Minggu (5/7) pukul 00.00 WIB di Stadion Houston, Amerika Serikat.

Sedangkan untuk Belanda, kisah di Piala Dunia kembali berakhir dengan kekecewaan. Mimpi mengangkat trofi paling bergengsi di dunia sepak bola ini untuk pertama kalinya kembali harus tertunda.

Kini, dengan Koeman yang sudah mengundurkan diri sebagai pelatih kepala, Belanda harus membuka lembaran baru, menata ulang semuanya dari awal. Dari babak kualifikasi, sampai putaran final.

Empat tahun lagi di Maroko, Portugal, dan Spanyol, kesempatan itu akan datang kembali.

Coba lagi di Piala Dunia berikutnya, Belanda. Semoga beruntung. Ant

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Opik

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.