Kemarau Panjang Tak Menghalangi Petani Cabai Lebak Panen Cuan

Minggu, 09 Agu 2026, 18:35 WIB

LEBAK – Di tengah kemarau panjang yang membuat sebagian petani harus berjuang menjaga tanaman tetap produktif, petani cabai di Kabupaten Lebak, Banten, justru menemukan peluang di balik kondisi tersebut.

Harga cabai yang relatif baik dan permintaan pasar yang tetap tinggi membuat hasil panen memberikan keuntungan lebih menjanjikan. Bagi para petani, momentum ini menjadi bukti bahwa tantangan musim tidak selalu berujung pada kerugian.

Ket. Foto: Pekerja tengah memanen cabai di Kabupaten Lebak, Banten untuk dipasok ke sejumlah pasar tradisional di daerah itu. — Sumber: ANTARA/ Mansyur

Dengan pengelolaan budidaya yang tepat, keterbatasan pasokan saat kemarau justru dapat membuka ruang bagi peningkatan pendapatan, sekaligus menjaga geliat ekonomi pertanian di daerah.

‎Sejumlah petani cabai di Kabupaten Lebak, Banten meraup keuntungan saat musim kemarau panjang, karena harga pasaran relatif baik dan permintaan pasar cukup tinggi.

‎"Kami sudah memanen delapan kali dengan menghasilkan sekitar 1 ton dan harga Rp45.000 per kilogram (kg) maka dikalkulasikan Rp45 juta," kata Musa (55), seorang petani cabai di Blok Sangiang Tanjung Kabupaten Lebak, Minggu (9/8).

‎Pertanian cabai rawit oranye atau cabai setan miliknya seluas 2 500 meter persegi di lahan darat dengan nilai investasi sekitar Rp20 juta dan bisa menghasilkan keuntungan Rp60 juta.

‎Ia mengatakan cabai miliknya itu hingga kini masih menghasilkan panen dan biasanya sampai 15 kali.

‎Menurut dia, usaha pertanian cabai sebagai alternatif menyusul tibanya musim kemarau panjang, sehingga dapat menghasilkan pendapatan ekonomi, terlebih di wilayahnya tidak memiliki sumber air.

‎Parapetani memilih pertanian cabai dengan masa waktu panen selama 90- 100 hari setelah tanam.

‎"Kami sudah biasa jika musim kemarau panjang beralih ke pertanian cabai dibandingkan pertanian padi pangan yang membutuhkan banyak pasokan air," katanya menjelaskan.

‎Roup (50) seorang petani cabai mengaku dirinya mengembangkan cabai merah keriting itu seluas 1.500 meter persegi dan sudah dua kali panen dengan menghasilkan 150 kilogram .

‎Sedangkan, harga cabai merah keriting ditampung Rp50.000 per kg, sehingga dikalkulasikan baru menghasilkan pendapatan Rp7,5 juta.

‎Panen cabai merah keriting dari Jawa Tengah itu usia 85 hari setelah tanam hingga mencapai 120 hari bisa dipanen hingga 10 kali.

‎"Kami memperkirakan pendapatan ekonomi hasil panen cabai bisa mencapai Rp50 juta dengan modal biaya produksi Rp20 juta," katanya menjelaskan.

‎Sementara itu, Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak Dodi Hermawan mengatakan, para petani di daerah itu jika musim kemarau kebanyakan beralih dari tanaman pangan ke tanaman sayuran, termasuk cabai karena tidak banyak menggunakan pasokan air.

‎"Di musim kemarau para petani memasok sayuran dan cabai hingga puluhan ton ke sejumlah pasar tradisional di Banten dan DKI Jakarta dengan perputaran uang hingga ratusan juta per hari," katanya menjelaskan.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.