Transparansi dan Kepastian Hukum Jadi Kunci Indonesia Tarik Investasi Global ke Pasar Modal

Minggu, 28 Jun 2026, 06:00 WIB

Jakarta - Transparansi, kepastian hukum, dan tata kelola pasar modal yang kuat menjadi fondasi penting bagi Indonesia untuk menarik lebih banyak investasi global. Penguatan integritas pasar serta perlindungan terhadap investor diyakini mampu meningkatkan kepercayaan pelaku pasar sekaligus memperkuat daya saing Indonesia sebagai salah satu tujuan investasi di kawasan.

Sejalan dengan itu, pengamat hukum dan pembangunan Hardjuno Wiwoho menilai pembenahan pasar modal harus menjadi bagian dari agenda pembangunan nasional. Menurutnya, sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan jumlah penduduk yang besar, Indonesia memiliki peluang besar menarik arus modal global. Namun, peluang tersebut hanya dapat diwujudkan apabila pemerintah mampu memperkuat transparansi, tata kelola, dan kepastian hukum.

Ket. Foto: Pekerja melihat telepon pintarnya dengan latar belakang layar pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. — Sumber: Antara

"Namun peluang tersebut hanya dapat diwujudkan apabila pemerintah mampu memperkuat transparansi, tata kelola, dan kepastian hukum," ujar Hardjuno dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Sabtu (27/6).

Ia menilai potensi Indonesia sangat besar, tetapi tidak cukup hanya mengandalkan besarnya pasar. Faktor utama yang dibutuhkan investor adalah kepercayaan. Menurutnya, jika transparansi, kepastian hukum, dan integritas pasar terus diperkuat, Indonesia berpeluang menjadi salah satu tujuan investasi paling menarik di kawasan. Sebaliknya, tanpa perbaikan tata kelola, Indonesia berisiko kehilangan peluang masuknya modal global yang sangat dibutuhkan untuk mendukung pembangunan nasional.

Hardjuno menilai catatan terbaru dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) harus menjadi momentum bagi pemerintah untuk melakukan reformasi yang lebih mendasar terhadap pasar modal Indonesia.

“MSCI pada dasarnya sedang mengingatkan bahwa pasar modal yang kuat tidak dibangun oleh euforia, tetapi oleh kepercayaan. Kepercayaan hanya lahir dari transparansi, akuntabilitas, serta rule of law yang berjalan dengan baik,” katanya.

Menurut dia, keputusan MSCI yang tetap mempertahankan Indonesia dalam kelompok negara berkembang (emerging market) belum sepenuhnya menjadi kabar baik. Dalam Market Classification Review 2026, MSCI memang tidak menurunkan status Indonesia, namun masih memberikan sejumlah catatan terkait transparansi kepemilikan saham, validitas free float (saham yang dimiliki publik), hingga dugaan coordinated trading yang dinilai memengaruhi tingkat keterinvestasian (investability) pasar modal Indonesia.

Hardjuno menilai berbagai catatan tersebut menunjukkan persoalan utama pasar modal Indonesia saat ini bukan lagi pertumbuhan jumlah investor maupun kapitalisasi pasar, melainkan masih lemahnya kepercayaan terhadap tata kelola dan kepastian hukum.

Menurutnya, perhatian MSCI terhadap transparansi kepemilikan saham, validitas free float, serta dugaan coordinated trading tidak boleh dipandang sebagai persoalan teknis semata karena menyangkut fondasi utama pasar modal modern, yakni kepercayaan investor terhadap integritas pasar.

"Investor tidak hanya menghitung potensi keuntungan, tetapi juga menilai apakah suatu negara mampu menjamin keterbukaan informasi, perlakuan yang setara bagi seluruh pelaku pasar, serta penegakan hukum yang konsisten,” ujar Hardjuno.

Karena itu, ia mendorong pengawasan terhadap transaksi di pasar modal diperkuat. Menurutnya, pembentukan harga saham yang tidak sepenuhnya mencerminkan mekanisme pasar dapat menciptakan distorsi sekaligus mengurangi kredibilitas Bursa Efek Indonesia di mata investor internasional.

Ia menegaskan Indonesia tidak bisa membangun pasar modal yang besar hanya dengan menambah jumlah investor atau mendorong lebih banyak perusahaan melantai di bursa. Yang jauh lebih penting adalah memastikan pasar berjalan secara jujur, transparan, dan dapat dipercaya.

Selain pengawasan transaksi, Hardjuno juga menyoroti pentingnya keterbukaan mengenai pemilik manfaat akhir (beneficial owner) perusahaan. Menurutnya, transparansi kepemilikan kini menjadi salah satu standar utama yang diperhatikan investor institusi global karena berkaitan langsung dengan akuntabilitas dan mitigasi risiko.

"Investor global saat ini tidak hanya melihat laporan keuangan, tetapi juga melihat kualitas tata kelola dan keterbukaan informasi,” tuturnya.

Ia menambahkan sejumlah negara yang kini menjadi tujuan utama investasi, seperti Singapura, Korea Selatan, dan India, berhasil membangun pasar modal yang kuat karena konsisten menjaga kepastian hukum, transparansi, tata kelola, serta perlindungan terhadap investor.

Ditutup Melemah

Sementara itu, di tengah sentimen tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Jumat (26/6) ditutup melemah 102,91 poin atau 1,72 persen ke level 5.896,13. Indeks LQ45 juga turun 4,03 poin atau 0,69 persen menjadi 583,72.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim mengatakan pelemahan IHSG dipengaruhi koreksi bursa global, terutama di kawasan Asia dan Eropa, akibat tekanan pada saham-saham sektor teknologi di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap kenaikan biaya infrastruktur kecerdasan buatan (AI).

"IHSG ditutup melemah terimbas koreksi indeks bursa global," ujar Ratna.

Untuk pekan depan, menurut Ratna, investor akan mencermati sejumlah data ekonomi domestik seperti indeks manufaktur PMI, neraca perdagangan, dan inflasi.

"Sehingga, diperkirakan IHSG berpeluang menguji level 5.700-5.800 pada pekan depan," katanya.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.