Jakarta Perkuat Pengendalian Banjir, Edukasi Ciliwung River Adventure Ajak Warga Tak Lagi Buang Sampah ke Sungai

Sabtu, 27 Jun 2026, 18:54 WIB

Jakarta – Banjir masih menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Jakarta di tengah upaya transformasinya sebagai kota global. Setiap musim hujan, genangan masih menghantui sejumlah kawasan, terutama wilayah pesisir dan permukiman di sepanjang bantaran sungai seperti Kali Ciliwung dan Kali Pesanggrahan.

Persoalan banjir tidak hanya dipengaruhi faktor alam, tetapi juga perilaku masyarakat. Masih banyak warga yang bermukim di bantaran sungai, sementara sebagian lainnya masih menjadikan aliran sungai sebagai tempat membuang sampah.

Ket. Foto: Potret peserta Ciliwung River Adventure di Sungai Ciliwung Segmen BNI City, Jakarta Pusat, Sabtu (27/6). — Sumber: Antara

Kondisi tersebut telah lama disaksikan Rama (40), relawan Khatulistiwa Rescue Tim. Bahkan, ia menjuluki Sungai Ciliwung sebagai "toserba" atau toko serba ada karena hampir semua jenis barang dapat ditemukan di aliran sungai.

"Kalau mau cari apa juga ada di sini. Sepatu, baju, bahkan selimut, kulkas, televisi sampai lemari juga ada di sini," ujar Rama.

Menurutnya, masih banyak masyarakat yang membuang sampah ke sungai tanpa memikirkan dampak jangka panjang terhadap lingkungan maupun risiko banjir.

"Yang mereka pikirkan sampah mereka hilang, padahal tidak akan pernah hilang," katanya.

Upaya Pemerintah Kurangi Risiko Banjir

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus memperkuat berbagai program pengendalian banjir. Di bawah kepemimpinan Gubernur Pramono Anung Wibowo dan Wakil Gubernur Rano Karno, sebanyak 20 proyek pengendalian banjir ditargetkan rampung pada 2027.

Salah satu proyek utama adalah pembangunan dan peningkatan kapasitas sistem pompa di 12 titik strategis. Di antaranya Pompa Bulak Cabe dengan kapasitas 24 meter kubik per detik, Pompa Pegangsaan Dua berkapasitas 9 meter kubik per detik, serta Pompa Cilincing KBN berkapasitas 16 meter kubik per detik.

Selain itu, pembangunan juga mencakup Pompa Warung Jengkol, Kampung Sawah Rawa Terate, Kayu Putih Rawa Terate, Cempaka Putih, Cengkareng, Mangga Raya Greenville, hingga Daan Mogot.

Melalui Dinas Sumber Daya Air, Pemprov DKI juga melakukan pembangunan dan perbaikan infrastruktur sungai di sembilan titik, meliputi Saluran Penghubung (PHB) Layar, Kali Cakung Lama, Kali Jatikramat, Kali Angke, Kali Pesanggrahan, Kali Grogol, Kali Cideng Atas, Kali Sodetan Sekretaris, serta Waduk Tomang.

Untuk mengurangi limpasan air hujan, tiga tampungan air baru turut dibangun, yakni Embung Pondok Labu di kawasan Cilandak Marinir, Embung Kebagusan, dan Waduk Sunter Hulu.

Normalisasi sungai juga terus dilanjutkan dengan tiga lokasi prioritas, yakni Sungai Ciliwung, Kali Krukut, dan Kali Cakung Lama.

Sementara itu, pembangunan tanggul pengaman pantai melalui proyek National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) tetap berjalan di kawasan Pantai Mutiara, Muara Baru, dan Kali Blencong.

Namun, pemerintah menyadari pembangunan infrastruktur saja tidak cukup menyelesaikan persoalan banjir. Selama masih ada masyarakat yang membuang sampah ke sungai maupun bermukim di bantaran sungai, ancaman banjir akan tetap membayangi Jakarta.

Edukasi Lewat Ciliwung River Adventure

Sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran masyarakat, Pemprov DKI Jakarta bersama berbagai dinas dan komunitas menghadirkan program wisata edukasi Ciliwung River Adventure di Segmen BNI City, Jakarta Pusat.

Sekretaris Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta, Nugraharyadi, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian Sungai Ciliwung sekaligus mengedukasi warga agar tidak lagi membuang sampah ke sungai.

Sebelum menyusuri sungai, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok dan mendapatkan pemaparan mengenai sejarah Sungai Ciliwung sebagai sungai tertua di Jakarta serta perannya dalam perkembangan ibu kota.

Selanjutnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta memberikan pembekalan mengenai prosedur keselamatan sebelum peserta mengenakan pelampung dan helm untuk menaiki perahu karet.

Selama menyusuri Sungai Ciliwung, relawan Khatulistiwa Rescue Tim menjelaskan berbagai persoalan lingkungan yang dihadapi sungai, terutama terkait sampah yang masih banyak ditemukan di sepanjang aliran.

Peserta tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga diajak memungut sampah yang mengapung menggunakan jaring. Sampah yang terkumpul dimasukkan ke dalam karung dan dibawa kembali ke dermaga.

Setelah kegiatan susur sungai selesai, peserta mendapat edukasi lanjutan dari Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mengenai cara memilah sampah berdasarkan jenisnya.

Masyarakat yang ingin mengikuti Ciliwung River Adventure dapat mendaftarkan diri melalui tautan yang tersedia di akun Instagram @sobatair.jkt.

Program ini tidak dipungut biaya, namun diselenggarakan hanya sekali setiap bulan. Khusus bulan ini, kegiatan berlangsung pada Sabtu (27/6) dan Minggu (28/6) bertepatan dengan puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) DKI Jakarta ke-499.

Menurut Nugraharyadi, sepanjang 2026 kegiatan dilaksanakan selama enam bulan, yakni mulai Mei hingga Oktober. Program dihentikan sementara pada November dan Desember karena debit air Sungai Ciliwung umumnya meningkat pada periode tersebut.

Salah seorang peserta, Ruby (28), mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru melalui kegiatan tersebut.

"Kita jadi teredukasi soal sejarah sungai, alur sungai, bahkan hingga memilah sampah," ujarnya.

Menjaga Sungai, Menjaga Masa Depan Jakarta

Menjelang Jakarta memasuki usia lima abad pada 2027, sungai-sungai di ibu kota diharapkan tidak lagi dipandang sebagai tempat pembuangan sampah, melainkan sebagai ruang hidup yang harus dijaga bersama.

Pada akhirnya, ketahanan Jakarta menghadapi banjir tidak hanya ditentukan oleh pembangunan pompa, tanggul, embung, maupun normalisasi sungai. Keberhasilannya juga sangat bergantung pada perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga kebersihan sungai dan tidak lagi menjadikannya tempat pembuangan sampah.

Karena masa depan Ciliwung sekaligus masa depan Jakarta dibangun bukan hanya melalui infrastruktur, tetapi juga melalui kesadaran kolektif seluruh warganya untuk merawat lingkungan.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.