Menjaga Order di Tengah Kenaikan BBM, Prioritas Utama Para Driver Ojol
Selasa, 16 Jun 2026, 19:57 WIBPagi itu, Abdulloh sudah bersiap mengaspal di jalanan Depok sebelum matahari meninggi. Seperti ribuan pengemudi ojek online (ojol) lainnya, pria 40 tahun itu memulai hari dengan harapan yang sederhana: mendapatkan cukup banyak order agar pendapatan hariannya tetap terjaga.
Di tengah kabar kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi, khususnya Pertamax, sejak 10 Juni lalu, perhatian Abdulloh ternyata bukan hanya tertuju pada harga di SPBU. Baginya, yang lebih mengkhawatirkan adalah apakah jumlah pesanan yang masuk ke aplikasi masih cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
"Saat ini saya masih menggunakan Pertalite, jadi kenaikan Pertamax belum terlalu terasa. Tapi saya yakin lama-kelamaan pasti akan ada dampaknya juga," ujarnya saat ditemui akhir pekan lalu.
Sebagai mitra pengemudi yang bergabung sejak 2020, Abdulloh mengaku biaya bahan bakar memang menjadi salah satu komponen pengeluaran terbesar dalam pekerjaannya. Namun, di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu, menjaga jumlah order tetap tinggi menjadi prioritas utama.
Menurutnya, jika dalam sehari jumlah pesanan yang diterima tidak mencapai 10 order, maka pendapatan yang diperoleh akan jauh dari harapan.
"Kalau orderan tidak sampai 10, itu sangat disayangkan. Jadi yang paling penting sekarang bagaimana mempertahankan jumlah order," katanya.
Pendapatan Tak Lagi Seperti Dulu
Abdulloh merasakan perubahan besar dibanding beberapa tahun lalu ketika permintaan layanan transportasi online masih sangat tinggi. Kini, mendapatkan pelanggan terasa semakin sulit.
Meski sesekali mencampur Pertalite dengan Pertamax untuk menjaga performa motor dan sesuai dengan spesifikasi motornya yang membutuhkan RON 92, ia lebih sering memilih bahan bakar bersubsidi demi menekan biaya operasional.
Di sisi lain, kebutuhan hidup terus berjalan. Sementara itu, pendapatan sebagai pengemudi ojol sangat bergantung pada jumlah pesanan yang masuk setiap hari.
"Belakangan ini semakin sulit mendapatkan pesanan. Kalau order menurun, dampaknya langsung terasa pada pendapatan harian," tuturnya.
Karena itulah ia berharap pemerintah mempertimbangkan kondisi para mitra pengemudi ketika menyusun kebijakan yang berkaitan dengan BBM. Bagaimanapun, perubahan harga bahan bakar memiliki dampak langsung terhadap biaya operasional mereka.
Beralih ke Pertalite Demi Bertahan
Kondisi serupa juga dirasakan Aziz, pengemudi ojol yang telah bekerja sejak 2017. Kenaikan harga Pertamax membuatnya memutuskan untuk lebih sering menggunakan Pertalite meski harus menghadapi antrean yang panjang di SPBU.
"Setelah harga Pertamax naik, saya merasa sudah tidak sanggup menggunakannya secara rutin. Akhirnya lebih memilih mengantre Pertalite," katanya.
Keputusan tersebut, menurut Aziz, membawa konsekuensi lain. Ia merasa performa kendaraannya tidak sebaik saat menggunakan Pertamax secara penuh. Namun, penghematan biaya menjadi pertimbangan yang tidak bisa diabaikan.
Bagi Aziz, persoalan yang lebih besar justru terletak pada menurunnya jumlah order. Ia mengaku mulai merasakan sedikit penurunan pesanan setelah kenaikan harga BBM non-subsidi.
"Beberapa pelanggan yang sebelumnya cukup loyal mulai mencari alternatif lain, sehingga frekuensi pesanan tidak sebanyak sebelumnya," ujarnya.
Bertahan di Tengah Ketidakpastian
Meski memiliki pengalaman dan pandangan yang berbeda, Abdulloh dan Aziz memiliki kekhawatiran yang sama. Bukan semata soal harga BBM, melainkan bagaimana mempertahankan pendapatan di tengah kondisi ekonomi yang semakin menantang.
Bagi para pengemudi ojol, setiap notifikasi pesanan yang masuk berarti tambahan pemasukan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Karena itu, menjaga performa layanan dan tetap aktif di jalan menjadi strategi utama agar aplikasi terus memberikan order.
"Dalam situasi seperti sekarang, kami harus terus menjaga performa agar tetap memperoleh pesanan," kata Aziz yang menggunakan Honda Beat untuk bekerja sehari-hari.
Ia berharap berbagai program apresiasi bagi mitra pengemudi dari perusahaan aplikasi tetap dipertahankan. Selain itu, pemerintah juga diharapkan menghadirkan regulasi yang lebih berpihak pada kesejahteraan pengemudi, termasuk perlindungan berupa asuransi kecelakaan dan jaminan kesehatan.
"Saya berharap semakin banyak program yang bisa membantu meningkatkan kesejahteraan mitra, sehingga kami dapat bekerja dengan lebih tenang dan produktif," ujarnya.
Di tengah perubahan harga BBM dan ketidakpastian ekonomi, para pengemudi ojol tampaknya masih menghadapi tantangan yang sama setiap hari: memastikan order tetap datang agar roda kehidupan terus berjalan. Bagi mereka, jumlah pesanan yang stabil sering kali lebih menentukan daripada angka yang tertera di papan harga SPBU.
- Pertamax
- Harga BBM
- Pertalite
- Kenaikan BBM
- transportasi online
- Gojek
- ekonomi masyarakat
- driver ojol
- ojek online
- Mitra Driver Gojek
- Pendapatan Driver Online
- pengemudi online
- biaya operasional
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Daftar Lengkap Harga BBM Pertamina, Shell, BP, dan Vivo per Juni 2026
-
Skor Kepuasan Hidup Warga Australia Anjlok
-
Pansus DPRD DKI Panggil Biro Hukum dan Inspektorat Terkait Penyerahan Aset Fasos Fasum
-
Harga BBM Masih Stabil, Tak Mengalami Perubahan sejak 4 Mei 2026
-
Pemerintah turunkan komisi tarif ojek daring
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.