Sumur Minyak Rakyat Ngiyono Tak Bisa Dipandang Sebelah Mata, Produksi Tembus 5.000 Liter per Hari

Minggu, 14 Jun 2026, 16:55 WIB

BLORA – Sumur minyak rakyat memiliki peran penting dalam menopang produksi energi di sejumlah daerah sekaligus menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat lokal.

Namun, pengelolaan yang masih didominasi aktivitas tradisional sering menghadapi tantangan berupa aspek keselamatan kerja, efisiensi produksi, legalitas, dan pengelolaan lingkungan.

Ket. Foto: Truk tangki berkapasitas 5.000 liter milik PT Blora Migas Energi mengangkut minyak mentah hasil produksi sumur rakyat di Desa Ngiyono, Japah, Blora, Jateng, untuk dikirim ke PT Pertamina, Minggu (14/6/2026). — Sumber: ANTARA/ Gunawan.

Karena itu, upaya penataan dan legalisasi sumur minyak rakyat menjadi langkah strategis untuk meningkatkan produksi secara lebih aman dan berkelanjutan.

Dengan dukungan regulasi yang jelas, pembinaan teknologi, serta kemitraan dengan badan usaha resmi, potensi ekonomi dari sumur minyak rakyat dapat dioptimalkan tanpa mengabaikan aspek keselamatan dan kelestarian lingkungan.

Produksi minyak mentah dari sumur rakyat di Desa Ngiyono, Kecamatan Japah, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, mencapai 5.000 liter per hari, sehingga turut berkontribusi terhadap pasokan energi nasional melalui pengiriman ke PT Pertamina.

"Dari total 87 lokasi sumur rakyat yang ada di desa tersebut, sebanyak 21 lokasi di antaranya masih aktif dan 15 sumur produksinya secara lancer," kata Susilo, Ketua Paguyuban Penambang Minyak Sumur Masyarakat Megenan Ngiyono, di Blora, Minggu.

Ia mengungkapkan kedalaman sumur rakyat tersebut berkisar antara 150 meter hingga 160 meter dengan produksi minyak sekitar 4.000 hingga 5.000 liter per hari.

Minyak mentah hasil produksi sumur rakyat tersebut, kata dia, dikirim ke Pertamina menggunakan dua armada truk tangki berkapasitas masing-masing 5.000 liter milik PT Blora Migas Energi (BME).

Susilo mengatakan keberadaan sumur rakyat juga membuka lapangan pekerjaan bagi warga setempat.

"Tercatat sebanyak 30 tenaga rengkek bekerja secara bergilir dengan kebutuhan harian sekitar 10 hingga 12 orang. Selain itu terdapat 30 operator sumur, empat petugas penjaga pangkalan, dan empat tenaga loading," ujarnya.

Sutrisno, Ketua BUMDes Sumber Rejeki Desa Ngiyono mengatakan pengelolaan sumur rakyat memberikan manfaat ekonomi bagi desa melalui skema bagi hasil yang telah disepakati.

Menurut dia BUMDes memperoleh bagian sebesar 15 persen dari penghasilan bersih yang diterima paguyuban setelah dikurangi biaya operasional, pajak, dan kewajiban lainnya.

"BUMDes menerima 15 persen dari penghasilan yang diterima paguyuban setelah dipotong biaya operasional, pajak, dan biaya lainnya," ujarnya.

Ia menambahkan keberadaan sumur rakyat yang kini memiliki kepastian regulasi, sehingga selama dua tahun terakhir membuat masyarakat merasa lebih aman dan nyaman dalam menjalankan aktivitas produksi minyak.

Sebelumnya, Koperasi Blora Migas Energi (BME) mulai mengirimkan minyak mentah hasil sumur rakyat ke Pertamina sebagai upaya mendukung peningkatan lifting minyak nasional sekaligus memperkuat sektor energi daerah.

Ketua Koperasi BME Blora Sutrisno mengatakan seluruh minyak mentah yang dikirim harus melalui proses pengujian kualitas oleh Pertamina sebelum diterima.

"Salah satu syarat utama yang harus dipenuhi, kata dia, yakni kandungan air maksimal 0,5 persen sesuai ketentuan dalam perjanjian kerja sama," ujarnya.

Saat ini terdapat sekitar 1.600 lokasi sumur rakyat yang berada dalam pembinaan BME dan tersebar di sejumlah wilayah di Kabupaten Blora, antara lain Desa Plantungan di Kecamatan Blora, Desa Talokwohmojo dan Karangtengah di Kecamatan Ngawen, Desa Plosorejo dan Botoreco di Kecamatan Kunduran, serta Desa Ngiyono di Kecamatan Japah.

Ia berharap pengelolaan sumur rakyat yang semakin tertata dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mendukung target produksi minyak nasional.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.