Rupiah Melemah Tajam Sepanjang 2026, Nilai Tukar Ambles 7,26 Persen Sejak Awal Tahun
Jumat, 12 Jun 2026, 18:58 WIBJAKARTA â Pelemahan rupiah yang cukup signifikan sepanjang tahun ini menunjukkan besarnya tekanan eksternal dan domestik yang dihadapi pasar keuangan Indonesia.
Dari sisi global, ketidakpastian ekonomi, penguatan dolar AS, serta meningkatnya tensi geopolitik mendorong investor mencari aset yang lebih aman.
Sementara itu, dari dalam negeri, kekhawatiran terhadap arah kebijakan fiskal dan prospek pembiayaan anggaran turut memengaruhi persepsi risiko investor.
Kombinasi faktor tersebut memicu tekanan terhadap nilai tukar rupiah, meski ketahanannya tetap bergantung pada fundamental ekonomi, stabilitas fiskal, serta efektivitas respons kebijakan moneter dan pemerintah dalam menjaga kepercayaan pasar.
Seperti diketahui, kurs rupiah terhadap dolar AS hingga Jumat (12/6), melemah 1.218 poin atau sekitar 7,26 persen sejak awal tahun ini.
Dalam penutupan perdagangan, Jumat (12/6), nilai tukar rupiah menguat 129 poin atau 0,71 persen menjadi Rp17.860 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.989 per dolar AS.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai penguatan rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen domestik yang meredakan kekhawatiran pasar terhadap fiskal.
âFaktor domestik yang membantu rupiah adalah koordinasi BI dan pemerintah yang lebih kuat, kenaikan suku bunga acuan, daya tarik imbal hasil aset rupiah, serta data APBN Mei yang relatif lebih baik. Defisit APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) masih terkendali, keseimbangan primer surplus, dan pendapatan negara tumbuh cukup kuat,â ucapnya di Jakarta, Jumat (12/6).
Menurut dia, langkah BI menaikkan suku bunga acuan memberikan bantalan terhadap rupiah.
Selain itu, penguatan data tarik Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) yang lebih tinggi mulai menarik kembali sebagian dana asing, terutama ke SRBI serta SBN tenor pendek dan menengah.
âNamun, pasar masih menunggu bukti bahwa disiplin fiskal tersebut bisa dipertahankan hingga akhir tahun, terutama karena belanja pemerintah biasanya meningkat pada semester kedua dan risiko subsidi energi masih besar,â ungkap Josua.
Di sisi lain, penguatan rupiah juga tertahan kombinasi penguatan dolar AS, kehati-hatian pelaku pasar menjelang akhir pekan, dan masih tingginya ketidakpastian global.
âBerita dari Timur Tengah membuat dolar AS kembali diminati sebagai aset yang dianggap lebih aman. Pada saat yang sama, pelaku pasar masih mencermati arah suku bunga bank sentral Amerika Serikat dan imbal hasil obligasi AS. Selama dolar AS masih kuat dan harga minyak masih mudah bergejolak, rupiah tetap rentan meskipun BI sudah menaikkan suku bunga,â kata dia.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak menguat ke level Rp17.921 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.981 per dolar AS.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Rupiah Tak Berkutik di Tengah Gejolak Dunia: Belum Genap Satu Semester, Pelemahan Sudah Signifikan
-
Jalan Dibenahi, Wisata Menggeliat: Pemprov Lampung Buka Akses Kiluan–Umbar
-
Fonseca Melaju ke Perempat Final Monte Carlo, Siap Tantang Zverev
-
Sejarah Tercipta, Lebanon-Israel Sepakat Damai, Donald Trump: Ini Ruang Bernapas Baru
-
Makin Anjlok, Rupiah Pagi Ini Rp18.107, Dipengaruhi Eskalasi Baru di Timur Tengah
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.