IPR Turun: Belanja Masyarakat Mengendur, Ancaman Perlambatan Ekonomi Mengintai
Kamis, 11 Jun 2026, 14:45 WIBJAKARTA â Aktivitas konsumsi masyarakat melambat pada Mei lalu seiring dengan penurunan Indeks Penjualan Riil (IPR) menjadi 225,0 pada Mei dari 226,9 pada April.
Meski penurunannya relatif terbatas, kondisi ini mengindikasikan bahwa daya beli belum sepenuhnya pulih di tengah berbagai tekanan ekonomi, seperti kenaikan harga kebutuhan pokok dan sikap konsumen yang cenderung lebih berhati-hati dalam berbelanja.
Tren ini juga menjadi sinyal bahwa pertumbuhan konsumsi rumah tangga, yang selama ini menjadi penopang utama ekonomi nasional, berpotensi melambat jika tidak didukung oleh peningkatan pendapatan dan stabilitas harga.
Bank Indonesia (BI) melalui hasil Survei Penjualan Eceran (SPE) memprakirakan kinerja penjualan eceran pada Mei 2026 terjaga, dengan Indeks Penjualan Riil (IPR) yang sebesar 225,0.
Prakiraan indeks tersebut terkontraksi sebesar 3,2 persen secara tahunan (year on year/yoy), sedikit lebih baik dari periode sebelumnya yang terkontraksi 3,7 persen (yoy).
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, IPR Mei 2026 ditopang terutama oleh peningkatan penjualan secara tahunan pada kelompok suku cadang dan aksesori, perlengkapan rumah tangga lainnya, serta barang lainnya.
Secara rinci, kelompok suku cadang dan aksesori diprakirakan tumbuh 16,6 persen (yoy), kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya tumbuh 1,8 persen (yoy), dan kelompok barang lainnya tumbuh 0,7 persen (yoy).
Sementara penjualan kelompok lainnya diprakirakan masih berada pada fase kontraksi, terutama pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang tumbuh -4,0 persen (yoy); kelompok bahan bakar kendaraan bermotor tumbuh -2,2 persen (yoy); serta kelompok peralatan informasi dan komunikasi tumbuh -17,5 persen (yoy).
Secara bulanan, kinerja penjualan eceran diprakirakan membaik dari -11,6 persen (month to month/mtm) pada April 2026 menjadi -0,9 persen (mtm) pada Mei 2026.
Perbaikan tersebut didorong oleh beberapa kelompok yang mengalami peningkatan antara lain kelompok peralatan informasi dan komunikasi serta kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya dengan pertumbuhan masing-masing sebesar 2,2 persen (mtm) dan 2,0 persen (mtm), meningkat dari sebelumnya berada di zona kontraksi dengan masing-masing tercatat sebesar -9,4 persen (mtm) dan -5,9 persen (mtm).
Perkembangan ini dipengaruhi oleh permintaan masyarakat pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Kenaikan Yesus Kristus, Idul Adha, dan Waisak.
Mengenai realisasi pada April 2026, IPR tercatat sebesar 226,9. Kinerja tersebut didorong oleh tetap tumbuhnya penjualan secara tahunan pada kelompok suku cadang dan aksesori (tumbuh 14,7 persen (yoy)), perlengkapan rumah tangga lainnya (tumbuh 0,6 persen (yoy)), serta barang budaya dan rekreasi (tumbuh 0,7 persen (yoy)).
Secara bulanan, penjualan eceran pada April 2026 tercatat terkontraksi sebesar 11,6 persen (mtm), sejalan dengan normalisasi permintaan masyarakat setelah periode HBKN Ramadan dan Idul Fitri 1447 H.
Dari sisi harga, tekanan inflasi tiga bulan yang akan datang, yaitu Juli 2026, diprakirakan relatif stabil, sementara pada enam bulan yang akan datang, yaitu Oktober 2026, diprakirakan meningkat.
Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Juli 2026 sebesar 175,8, relatif stabil dibandingkan IEH pada Juni 2026 sebesar 175,6.
Sementara itu, IEH Oktober 2026 diprakirakan sebesar 167,6, lebih tinggi dibandingkan IEH September 2026 sebesar 163,2 didorong oleh kenaikan harga bahan baku.
- Bank Indonesia (BI)
- Indeks Penjualan Riil (IPR)
- Survei Penjualan Eceran (SPE)
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Ekonomi Jakarta Tumbuh 5,59% di Triwulan I, Topang Seperenam Ekonomi Nasional
-
1.908 Korban Luka dan 74 Meninggal, Laka Lantas di Makassar Memprihatinkan
-
Galeri Indonesia Tembus Art Central Hong Kong 2026, MTN Buka Jalan ke Pasar Dunia
-
Cegah Pelarian Modal, BI Diperkirakan Menaikkan Bunga Acuan di Semester I-2026
-
Dilema Filipina: Antara Kebutuhan Energi dan Sanksi Barat terhadap Russia
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.