Indef: Saat Rupiah Tertekan, LCT dan Ekspor Jadi Tameng Ekonomi

Jumat, 05 Jun 2026, 17:45 WIB

JAKARTA – Penguatan ekspor menjadi salah satu kunci menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global dan melemahnya permintaan domestik.

Peningkatan ekspor tidak hanya berkontribusi terhadap perolehan devisa dan stabilitas nilai tukar, tetapi juga mendorong kapasitas produksi, investasi, serta penciptaan lapangan kerja.

Ket. Foto: Ilustrasi - Pekerja melakukan bongkar muat peti kemas di Terminal 3 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. — Sumber: ANTARA FOTO/ M RISYAL HIDAYAT

Tantangannya, Indonesia perlu memperluas pasar tujuan ekspor dan meningkatkan nilai tambah produk agar tidak terlalu bergantung pada komoditas mentah yang rentan terhadap fluktuasi harga global.

Dengan strategi diversifikasi pasar dan hilirisasi industri, ekspor dapat menjadi motor pertumbuhan yang lebih berkelanjutan.

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai implementasi Local Currency Transaction (LCT), penguatan orientasi ekspor, diversifikasi rantai pasok, serta efisiensi operasional menjadi langkah efektif untuk memitigasi tekanan akibat fluktuasi kurs ke sektor industri.

Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti dihubungi di Jakarta, Jumat (5/6) menyampaikan salah satu strategi yang perlu diperkuat adalah diversifikasi rantai pasok (supply chain) agar industri tidak bergantung pada satu negara pemasok.

Langkah ini dapat dilakukan dengan mencari alternatif pemasok dari negara yang memiliki biaya produksi lebih kompetitif sekaligus meningkatkan penggunaan komponen dan bahan baku dalam negeri.

Selain itu, penerapan Local Currency Transaction (LCT) dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi perdagangan internasional.

Melalui skema ini, menurutnya perdagangan dapat dilakukan menggunakan mata uang lokal dengan negara mitra seperti Jepang, China, maupun Thailand.

“Dorong transaksi perdagangan internasional menggunakan mata uang lokal dengan negara mitra, seperti Jepang, China, atau Thailand untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS,” ujar Esther.

Di sisi lain, Esther melihat pelemahan nilai tukar juga dapat dimanfaatkan sebagai peluang untuk memperkuat kinerja ekspor nasional.

Menurut dia, produk Indonesia menjadi relatif lebih murah di pasar internasional sehingga berpotensi meningkatkan daya saing dan permintaan dari pembeli luar negeri.

“Jadikan pelemahan nilai tukar sebagai peluang untuk meningkatkan daya saing produk di pasar global karena harga barang ekspor menjadi relatif lebih murah bagi pembeli luar negeri,” katanya.

Untuk menjaga keberlanjutan bisnis di tengah tekanan biaya produksi, Esther juga mengingatkan pentingnya evaluasi strategi harga.

Pelaku industri disarankan tidak terjebak dalam perang harga, melainkan fokus meningkatkan nilai tambah produk melalui kualitas, garansi, maupun layanan purna jual.

“Alih-alih melakukan perang harga, fokuslah pada peningkatan nilai tambah produk seperti kualitas, garansi, dan layanan purna jual agar konsumen tetap loyal meskipun harga disesuaikan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Esther menekankan bahwa efisiensi dan otomatisasi menjadi faktor penting untuk memperkuat daya tahan industri dalam menghadapi gejolak nilai tukar.

Perusahaan perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap struktur pengeluaran dan mengarahkan investasi pada teknologi yang mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya operasional jangka panjang.

“Evaluasi pengeluaran secara menyeluruh dan investasikan dana pada otomatisasi proses bisnis untuk menekan biaya operasional atau overhead dalam jangka panjang,” kata Esther.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.