Sedikitnya 30.000 Orang Terdampak Banjir di Myanmar

Selasa, 11 Agu 2026, 02:15 WIB

YANGON – Banjir parah di wilayah Ayeyarwady, Myanmar, membuat setidaknya 30.000 penduduk terdampak, sementara konflik bersenjata, kekurangan bahan bakar dan gagal panen, kian memperdalam penderitaan rakyat yang terancam baik mata pencaharian maupun ketahanan pangannya.

Pusat bencana berada di Kota Lemyethna yang menjadi lokasi jebolnya tanggul Sungai Ngawun pada  jebol pada 30 Juli lalu, yang airnya menyebabkan banjir di desa-desa dan lahan pertanian.

Ket. Foto: Warga Kota Lemyethna di Myanmar bepergian dengan menggunakan perahu saat terjadi banjir parah pada awal Agustus lalu. Akibat banjir dilaporkan setidaknya 30.000 penduduk terdampak. — Sumber: AFP

Otoritas Myanmar menyalahkan curah hujan lebat dan erosi sebagai penyebab jebolnya tanggul tersebut. Namun, beberapa penduduk mengatakan tanggul yang sudah tua itu memang dalam kondisi buruk, melemah akibat lubang tikus dan gundukan rayap.

Pemeliharaan juga semakin sulit karena pertempuran antara militer Myanmar dan Tentara Arakan meluas ke daerah tersebut.

Pihak berwenang Myanmar sebelumnya telah berjanji untuk memperbaiki tanggul yang rusak dan menyediakan makanan, air, dan perawatan kesehatan kepada masyarakat yang terkena dampak.

Bertahun-tahun konflik dan bencana alam telah membuat banyak komunitas di Myanmar terbiasa dengan krisis yang berulang. Namun banjir terbaru ini membawa tantangan baru bagi penduduk dan mereka yang berusaha membantu.

“Kami benar-benar menderita. Seluruh desa menghadapi kesulitan. Sedangkan untuk ternak, beberapa mati karena cuaca. Sapi dan kerbau sekarang hidup di luar di tengah hujan dan terik matahari,” kata seorang petani.

Pasukan keamanan pemerintah telah menyatakan pintu masuk ke zona banjir berbahaya hingga membatasi akses bagi tim penyelamat swadaya yang datang dari bagian lain negara itu. Sebagai gantinya, kelompok-kelompok tersebut harus mendirikan pangkalan di sebuah biara terdekat sebelum melakukan perjalanan ke desa-desa yang terkena dampak untuk mendistribusikan persediaan.

Meskipun demikian, beberapa komunitas di Kota Lemyethna tetap sulit dijangkau, meskipun ada kebutuhan mendesak akan makanan dan kebutuhan pokok lainnya, apalagi kota ini sebelumnya telah menampung ratusan pengungsi internal yang melarikan diri dari pertempuran yang menyebar dari Negara Bagian Rakhine ke Ayeyarwady.

Banjir juga mengancam pertanian di Ayeyarwady, yang sering digambarkan sebagai lumbung padi Myanmar. Para petani sebelumnya sudah berjuang dengan kekurangan bahan bakar, sehingga menyulitkan dan mahal untuk mengoperasikan mesin yang dibutuhkan untuk mengolah dan memanen tanaman mereka. SB/CNA/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: CNA, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.