Cuaca Tak Bersahabat, Sentra Kopi Temanggung Kehilangan Separuh Produksinya

Jumat, 05 Jun 2026, 21:50 WIB

TEMANGGUNG – Penurunan produksi kopi mencerminkan tantangan yang dihadapi sektor perkebunan, mulai dari perubahan iklim, cuaca ekstrem, serangan hama, hingga menurunnya produktivitas tanaman yang telah berusia tua.

Kondisi ini berpotensi mengurangi pasokan di pasar domestik maupun ekspor, sehingga dapat memengaruhi harga dan daya saing kopi Indonesia di pasar global. Jika berlangsung dalam jangka panjang, penurunan produksi juga dapat menekan pendapatan petani.

Ket. Foto: Ilustrasi-Pekerja menunjukkan biji kopi sebelum disortir di gudang CV Kwadungan Java Coffee kawasan Lereng Gunung Sindoro Desa Kwadungan, Kledung, Temanggung, Jawa Tengah. — Sumber: ANTARA/ Anis Efizudin

Karena itu, peremajaan tanaman, peningkatan kualitas budidaya, dan adaptasi terhadap perubahan iklim menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan produksi kopi nasional.

Kepala Bidang Perkebunan dan Hortikultura Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan Kabupaten Temanggung, Sumarno menyampaikan panen kopi tahun ini mengalami penurunan 40–60 persen, baik untuk kopi robusta maupun arabika karena pengaruh cuaca ekstrem pada saat pembungaan kopi.

"Penurunan tersebut disebabkan cuaca ekstrem pada saat fase pembungaan kopi, sehingga banyak bunga gagal berkembang menjadi buah karena curah hujan yang tinggi," katanya di Temanggung, Jawa Tengah, Jumat (5/6).

Ia mengatakan, meskipun produksi turun namun harga kopi arabika mengalami kenaikan. Harga cherry arabika saat ini berada di kisaran Rp20.000–Rp22.000 per kilogram, naik dibanding tahun lalu yang hanya Rp15.000 per kilogram.

"Kondisi ini diperkirakan akan berdampak pada kenaikan harga produk kopi arabika olahan," katanya.

Ia menyebutkan, luas panen kopi arabika di bulan Juni ini mencapai 1.700 hektare yang tersebar di wilayah dataran tinggi atau ketinggian 800 meter di atas permukaan laut, terutama di lereng Gunung Sumbing, Gunung Sindoro, dan Gunung Prahu.

"Wilayah pengembangannya meliputi Kecamatan Selopampang, Tembarak, Tlogomulyo, Bulu, Parakan, Kledung, Bansari, Ngadirejo, Candiroto, Wonoboyo, Tretep, dan Kaloran," katanya.

Ia menuturkan, untuk meningkatkan produktifitas tanaman kopi, baik arabika maupun robusta tahun 2026 ini Temanggung mendapat bantuan bibit kopi sebanyak 600 ribu batang untuk kemudian ditanam di lahan 600 hektare.

"Dari kegiatan APBN itu kita dapat bantuan ada 100 hektare untuk peremajaan tanaman kopi robusta, karena banyak tanaman yang sudah tua. Kemudian yang arabika kita diangkat 1.600 , walaupun ini ada juga penanaman baru tahun ini kami mendapat kegiatan dari APBN, kami terima bibit ada 500 hektare. Kami berharap nanti bisa membantu para petani, karena sekarang animo untuk menanam kopi di Temanggung laur biasa," katanya.

  • Kopi Temanggung

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.