Pasar Domestik Diserbu Produk Impor, Nasib Industri Lokal Terancam?

Kamis, 04 Jun 2026, 18:55 WIB

JAKARTA – Kenaikan impor yang didorong oleh masuknya barang konsumsi menunjukkan tingginya permintaan domestik.

Peningkatan impor barang konsumsi berpotensi memperlebar defisit neraca perdagangan apabila tidak diimbangi oleh pertumbuhan ekspor yang memadai.

Ket. Foto: Ilustrasi - Suasana bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (5/1/2026). — Sumber: ANTARA FOTO/ Dhemas Reviyanto

Tren ini juga menjadi sinyal bagi industri dalam negeri untuk meningkatkan kapasitas produksi dan daya saing agar kebutuhan pasar domestik tidak semakin bergantung pada produk impor.

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyampaikan barang konsumsi menjadi penyumbang tertinggi kenaikan impor yakni sebesar 56,67 persen diikuti bahan baku dan penolong 35,46 persen dan barang modal 6,33 persen pada April 2026.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan (Kemendag), nilai impor April 2026 tercatat sebesar 25,21 miliar dolar AS. Nilai ini meningkat 31,28 persen dibandingkan Maret 2026 dan tumbuh 22,49 persen dibandingkan April 2025.

"Kenaikan impor terjadi pada seluruh golongan penggunaan barang. Kondisi ini mengindikasikan peningkatan kebutuhan konsumsi masyarakat serta kebutuhan industri terhadap bahan baku dan barang modal," ujar Budi dalam keterangan di Jakarta, Kamis (4/6).

Lonjakan impor secara bulanan terutama disebabkan oleh tumbuhnya impor migas sebesar 45,09 persen dan impor nonmigas sebesar 28,55 persen. Budi menyatakan kenaikan impor ini terjadi pada seluruh golongan penggunaan barang.

Secara kumulatif, total impor pada Januari-April 2026 mencapai 86,51 miliar dolar AS atau naik 13,40 persen dibanding Januari-April 2025. Kenaikan tersebut ditopang impor migas sebesar 17,58 persen dan impor nonmigas sebesar 12,70 persen.

Sementara itu, dilihat dari golongan penggunaan barangnya (Broad Economic Categories/ BEC), seluruh komponen impor mencatatkan pertumbuhan selama periode Januari-April 2026.

Impor barang modal meningkat paling tinggi sebesar 19,02 persen, diikuti barang konsumsi 15,68 persen dan bahan baku atau penolong 11,67 persen.

"Kenaikan impor barang modal didorong oleh meningkatnya impor beberapa komoditas utama, antara lain, komputer, pesawat udara, mesin untuk proses elektroplating dan elektrolisis, mesin untuk pengolah suhu, serta mobil listrik," kata Budi.

Dari sisi komoditasnya, lonjakan impor nonmigas tertinggi selama Januari-April 2026 terjadi pada kendaraan udara dan bagiannya yang meningkat signifikan sebesar 516,83 persen.

Kemudian, garam, belerang, batu dan semen 84,65 persen; bijih logam, terak dan abu 63,15 persen; berbagai produk kimia 37,72 persen, serta buah-buahan 34,75 persen secara kumulatif.

Berdasarkan negara asalnya, impor nonmigas Indonesia masih didominasi dari Tiongkok, Jepang, dan Australia dengan kontribusi gabungan mencapai 53,12 persen.

Di sisi lain, negara asal impor nonmigas dengan pertumbuhan terbesar, antara lain, Meksiko yang naik 282,69 persen, Federasi Rusia 125,56 persen, serta Argentina 117,65 persen secara kumulatif.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.