Surplus Neraca Perdagangan RI Nyaris Habis: Anjlok dari 3,32 Miliar Dolar AS Jadi Hanya 90 Juta Dolar AS, Impor Menggila!

Selasa, 02 Jun 2026, 14:37 WIB

JAKARTA – Surplus neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 masih mencerminkan ketahanan sektor eksternal, meskipun nilainya menyusut dibandingkan bulan sebelumnya.

Penurunan surplus ini terjadi karena laju pertumbuhan impor lebih tinggi daripada ekspor, yang mengindikasikan meningkatnya kebutuhan bahan baku, barang modal, maupun konsumsi domestik.

Ket. Foto: Ilustrasi - Suasana bongkar muat peti kemas di New Priok Container Terminal One, Jakarta Utara. — Sumber: ANTARA FOTO/ Sigid Kurniawan.

Dari satu sisi, kondisi tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi yang tetap bergerak dan permintaan dalam negeri yang terjaga.

Namun di sisi lain, penyempitan surplus menjadi sinyal bahwa kinerja ekspor perlu terus diperkuat agar keseimbangan perdagangan tetap terjaga di tengah dinamika perdagangan global.

Meski demikian, keberlanjutan surplus sejak Mei 2020 menunjukkan fondasi eksternal Indonesia masih relatif kuat dan mampu menopang stabilitas ekonomi nasional.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Neraca Perdagangan Indonesia mencatat untuk April 2026, neraca dagang nasional surplus sebesar 0,09 miliar dolar AS, dengan rincian ekspor 25,30 miliar dolar AS dan impor 25,21 miliar dolar AS.

Sebagai perbandingan, neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2026 mencatatkan surplus sebesar 3,32 miliar dolar AS. Angka ini terdiri dari total ekspor yang mencapai 22,53 miliar dolar AS dan impor sebesar 19,21 miliar dolar AS.

“Peningkatan nilai ekspor tersebut ditopang oleh sektor nonmigas, utamanya pada beberapa komoditas seperti lemak dan minyak hewan nabati dengan andil 5,9 persen dari total ekspor,” ujar Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (2/6).

Lebih lanjut, Pudji menjelaskan dari sisi nilai impor juga mengalami peningkatan secara tahunan sebesar 22,49 persen pada April 2026, yang utamanya didorong oleh peningkatan impor nonmigas, dengan andil sebesar 12,39 persen, serta didominasi bahan baku/penolong.

Secara kumulatif, neraca perdagangan RI selama periode Januari-April 2026 mencatat surplus sebesar 5,64 miliar dolar AS.

"Dengan capaian ini maka neraca perdagangan barang Indonesia mengalami surplus 72 bulan berturut-turut," kata Pudji.

Disampaikan dia, surplus sepanjang periode Januari-April 2026 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas 14,16 miliar dolar AS, sementara komoditas migas mengalami defisit 8,52 miliar dolar AS.

Lebih lanjut, ia menyampaikan sepanjang Januari-April 2026, nilai ekspor nasional mencapai 92,15 miliar dolar AS atau tumbuh 5,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan ekspor terutama didorong oleh sektor industri pengolahan yang mencatat kenaikan 9,78 persen menjadi 75,57 miliar dolar AS.

Ia menyampaikan Tiongkok menjadi tujuan ekspor terbesar dengan nilai mencapai 22,76 miliar dolar AS atau berkontribusi 25,93 persen terhadap total ekspor nonmigas.

Posisi berikutnya ditempati Amerika Serikat dengan nilai ekspor 10,17 miliar dolar AS dan India sebesar 6,14 miliar dolar AS.

Lebih lanjut, ekspor nonmigas ke Tiongkok didominasi komoditas besi dan baja, nikel dan barang daripadanya, serta bahan bakar mineral.

Sementara ekspor ke Amerika Serikat banyak ditopang oleh mesin dan perlengkapan elektrik, alas kaki, serta pakaian dan aksesorinya.

Di sisi lain, nilai impor Indonesia pada Januari-April 2026 mencapai 86,51 miliar dolar AS atau meningkat 13,40 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Impor nonmigas tercatat sebesar 73,58 miliar dolar AS atau naik 12,70 persen, sedangkan impor migas mencapai 12,93 miliar dolar AS atau meningkat 17,58 persen.

Berdasarkan penggunaannya, impor bahan baku dan barang penolong masih mendominasi dengan nilai 61,82 miliar dolar AS atau tumbuh 11,67 persen. Sementara impor barang modal mencapai 17,11 miliar dolar AS atau meningkat 19,02 persen, dan impor barang konsumsi sebesar 7,58 miliar dolar AS.

Adapun disampaikan dia, surplus perdagangan nonmigas Indonesia pada periode Januari-April 2026 terutama ditopang oleh lima komoditas utama, yakni lemak dan minyak hewan/nabati dengan surplus 11,71 miliar dolar AS, bahan bakar mineral 8,34 miliar dolar AS, besi dan baja 5,71 miliar dolar AS, nikel dan barang daripadanya 4,26 miliar dolar AS, serta alas kaki 2,14 miliar dolar AS.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.