Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Presiden Filipina dan Menlu AS Bahas Keamanan di Laut Tiongkok Selatan

25 Selasa, 02 Jun 2026, 01:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Presiden Filipina dan Menlu AS Bahas Keamanan di Laut Tiongkok Selatan Presiden Filipina dan Menlu AS Bahas Keamanan di Laut Tiongkok Selatan Doc: AFP/Frederic J. BROWN/ KAREN MINASYAN
Ket. Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. dan Menlu AS Marco Rubio (kanan).

Manila – Ketegangan di Laut Tiongkok Selatan kembali menjadi sorotan setelah Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. dan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio membahas upaya menjaga perdamaian dan keamanan di kawasan sengketa tersebut dalam percakapan telepon pada Senin (1/6).

Dikutip dari Antara, menurut pernyataan Kantor Presiden Filipina, kedua pihak membahas berbagai prioritas keamanan dan ekonomi bilateral, termasuk “upaya memajukan perdamaian dan keamanan di Laut Tiongkok Selatan.” Mereka juga membicarakan sejumlah isu regional, perdagangan bilateral, serta kerja sama ekonomi strategis.

Dalam pembicaraan itu, Rubio menegaskan kembali komitmen Washington untuk mendukung pengembangan Koridor Ekonomi Luzon serta menjajaki solusi atas tantangan energi di kawasan. Koridor Ekonomi Luzon merupakan inisiatif trilateral AS, Jepang, dan Filipina yang bertujuan memperkuat konektivitas, infrastruktur, logistik, energi, dan ekonomi digital, dengan dukungan sejumlah negara mitra lainnya.

Pembicaraan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan antara Filipina dan Tiongkok terkait klaim maritim yang tumpang tindih di Laut Tiongkok Selatan. Kawasan yang kaya sumber daya alam itu telah lama menjadi titik sengketa antara Tiongkok dan sejumlah negara Asia Tenggara, termasuk Filipina, Vietnam, Malaysia, dan Brunei.

Secara terpisah, Penjaga Pantai Tiongkok pada Senin mengumumkan pelaksanaan “patroli penegakan hukum” di perairan sebelah timur Taiwan. Langkah itu disebut sebagai respons terhadap pengumuman Filipina dan Jepang mengenai dimulainya pembicaraan resmi penetapan batas maritim zona ekonomi eksklusif dan landas kontinen kedua negara.

Dalam pernyataannya, Penjaga Pantai Tiongkok menegaskan, “Kami mendesak Jepang dan Filipina segera menghentikan semua tindakan ilegal yang merusak kedaulatan, hak, dan kepentingan Tiongkok.”

Ketegangan maritim juga meningkat pada awal Mei lalu ketika Filipina mengerahkan pesawat dan kapal patroli untuk mengusir kapal riset Tiongkok yang dituduh melakukan penelitian ilmiah kelautan tanpa izin di perairan Filipina.

“Kami tidak akan mentolerir penelitian ilmiah kelautan ilegal apa pun yang dilakukan tanpa persetujuan pemerintah kami,” kata Komandan Penjaga Pantai Filipina, Laksamana Ronnie Gil Gavan.

“Kami mengerahkan pesawat dan kapal untuk menantang dan mengusir kapal-kapal tidak berizin ini untuk melindungi kedaulatan dan hak kedaulatan Filipina,” ujarnya.

Rivalitas Kawasan

Di sisi lain, Tiongkok juga menuduh warga Filipina melakukan pendaratan ilegal di kawasan yang diklaim Beijing sebagai bagian dari Kepulauan Nansha atau Spratly. Menurut otoritas Tiongkok, petugas penjaga pantai telah menangani insiden tersebut sesuai hukum guna melindungi kedaulatan dan kepentingan maritim negara itu.

Di tengah meningkatnya rivalitas kawasan, Presiden Timor-Leste Jose Ramos-Horta mengusulkan agar Laut Tiongkok Selatan ditetapkan sebagai “zona perdamaian”.

Berbicara dalam forum keamanan Shangri-La Dialogue di Singapura, Ramos-Horta mengatakan, “Selain penyusunan kode tata perilaku yang masih dinegosiasikan seluruh pihak dengan penuh kesabaran, seseorang harus memiliki keberanian untuk mendeklarasikan Laut Tiongkok Selatan sebagai zona perdamaian.”

Menurutnya, langkah tersebut tidak mengharuskan negara-negara melepaskan klaim historis maupun legal yang mereka miliki. Namun, klaim tersebut tidak boleh menghambat upaya membangun kepercayaan dan meredakan ketegangan.

“Itu bukan berarti semua pihak harus melepaskan klaim historis dan legal mereka yang sah, tetapi klaim tersebut tidak boleh menghambat berbagai inisiatif yang dapat meningkatkan kepercayaan dan meredakan ketegangan,” katanya.

Ramos-Horta juga mengusulkan agar kawasan tersebut bebas dari pembangunan pulau buatan dan pangkalan militer. Fasilitas yang sudah ada, menurut dia, dapat dialihfungsikan menjadi pusat penelitian oseanografi dan kerja sama ilmiah.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Polisi Jambi Tangkap Tiga Pelaku Pembobol Pipa Pertamina
    percayalah pencurian tidak akan terjadi kalau biaya hidup ...
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
Olahraga
Sayang Sekali, Leo/Daniel K...
Advertisement
KP3 ABAS Deklarasikan Pembentukan Provinsi Aceh Barat Selatan

KP3 ABAS Deklarasikan Pembentukan Provinsi Aceh Barat Selatan

25 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.