Demi Kuasai Pasar Premiun, Petani Kuningan Didorong Perkuat Kualitas Kopi

Kamis, 28 Mei 2026, 21:15 WIB

KUNINGAN – Upaya memperkuat kualitas kopi daerah menjadi langkah strategis untuk meningkatkan daya saing produk lokal di pasar nasional maupun ekspor.

Di tengah tren konsumsi kopi premium yang terus tumbuh, kualitas biji, konsistensi rasa, hingga standar pascapanen menjadi faktor utama yang menentukan nilai jual kopi daerah.

Ket. Foto: Hasil panen biji kopi robusta di Kuningan, Jawa Barat. — Sumber: ANTARA/Fathnur Rohman.

Karena itu, peningkatan kapasitas petani, penggunaan teknologi budidaya, serta penguatan branding dan sertifikasi menjadi penting agar kopi lokal tidak hanya dikenal sebagai komoditas mentah, tetapi juga memiliki identitas dan nilai tambah yang kuat.

Dengan kualitas yang semakin baik, sektor kopi daerah berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi lokal sekaligus memperkuat kesejahteraan petani.

Pemerintah Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, membantu petani memperkuat kualitas kopi daerah melalui pengembangan sektor hulu hingga hilir guna meningkatkan daya saing produk di pasaran.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kuningan Wahyu Hidayah di Kuningan, Kamis (28/5), mengatakan pengembangan kopi di daerah dilakukan secara bertahap dengan fokus pada peningkatan kualitas, tata kelola, dan kapasitas petani.

Menurut dia, penguatan pada sektor tersebut menjadi langkah penting agar peluang pasar internasional dapat dimanfaatkan secara optimal oleh petani kopi di Kabupaten Kuningan.

“Penguatan kualitas, tata kelola, dan kapasitas petani menjadi kunci agar peluang pasar global benar-benar bisa dimanfaatkan,” katanya.

Ia menjelaskan tren produksi kopi di Kabupaten Kuningan menunjukkan peningkatan positif dalam beberapa tahun terakhir, khususnya untuk komoditas kopi robusta.

Berdasarkan data pemerintah daerah, produksi kopi robusta pada 2025 mencapai 1.173,39 ton atau meningkat dibandingkan 2024 yang sebesar 726,03 ton.

Sementara itu, ia mengatakan produksi kopi arabika di daerah tersebut relatif stabil dengan tingkat produktivitas sekitar 900 kilogram per hektare.

Meski produksi meningkat, kata dia, tantangan pengembangan kopi masih berada pada sektor hilir, terutama terkait standardisasi mutu dan pengolahan pascapanen.

Menurut Wahyu, kualitas pengolahan pascapanen menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan daya saing produk kopi di pasar global.

Ia mencontohkan Desa Karangsari memiliki potensi menjadi model pengembangan kopi berbasis kualitas, sekaligus lokomotif kebangkitan kopi daerah di Kabupaten Kuningan.

“Kami dan sejumlah pihak, selama ini melakukan pendampingan melalui pembentukan klaster kopi di Desa Karangsari guna memperkuat kualitas, kelembagaan, dan daya saing petani kopi daerah,” katanya.

Ia menambahkan tak hanya meningkatkan produksi, pemerintah daerah juga terus mendorong penguatan nilai tambah agar kopi lokal tidak hanya dipasarkan dalam bentuk bahan baku.

“Produk kopi saat ini tidak hanya menjual komoditas, tetapi juga kualitas, cerita, dan pengalaman yang melekat pada produk tersebut,” ujarnya.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.