KKP Targetkan 15.000 Hektare Tambak Aceh Kembali Beroperasi Akhir 2026

Minggu, 26 Jul 2026, 14:15 WIB

JAKARTA – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan sebanyak 15.000 hektare tambak di Aceh kembali beroperasi hingga akhir 2026 melalui percepatan rehabilitasi kawasan terdampak bencana hidrologi guna memulihkan produksi perikanan budi daya dan menggerakkan kembali ekonomi masyarakat pesisir.

Sekretaris Jenderal KKP Andy Artha dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Minggu (26/7), mengatakan pada tahap awal pemerintah menargetkan sekitar 5.200 hektare tambak dapat kembali beroperasi paling lambat September 2026.

Ket. Foto: Warga melintasi tambak yang rusak pascabencana banjir bandang di Desa Alue Kuta, Kecamatan Jangka, Bireuen, Aceh, Minggu (14/12/2025). — Sumber: ANTARA

"Karena itu setelah rehabilitasi selesai, kami juga menyiapkan bantuan benih dan pakan sehingga petambak dapat langsung memulai budi daya," ujar Andy saat meninjau tambak di Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya, Aceh, Jumat (24/7).

Target tersebut merupakan bagian dari upaya pemulihan tambak budi daya yang rusak akibat banjir besar yang melanda Aceh pada akhir November 2025.

KKP sebelumnya mengidentifikasi sekitar 30 ribu hektare tambak budi daya perikanan di 16 kabupaten/kota di provinsi tersebut mengalami kerusakan akibat bencana tersebut.

Berdasarkan pendataan KKP, Kabupaten Aceh Utara menjadi wilayah yang paling terdampak dengan luas tambak rusak mencapai lebih dari 10 ribu hektare.

Kerusakan juga terjadi di Kabupaten Bireuen seluas sekitar 4,9 ribu hektare dan Kabupaten Aceh Tamiang sekitar 3,4 ribu hektare.

Menurut Andy, pemulihan tidak berhenti pada perbaikan tambak yang rusak. Setelah rehabilitasi selesai, pemerintah langsung menyalurkan benih dan pakan agar petambak dapat segera kembali menjalankan usaha budi daya.

KKP mencatat hingga saat ini, seluas 694 hektare tambak telah kembali beroperasi melalui penebaran benih udang, bandeng, kakap, dan nila salin.

Pemerintah optimistis luasan tersebut akan terus bertambah seiring percepatan rehabilitasi di berbagai wilayah terdampak.

Andy mengatakan berdasarkan pola budi daya tradisional plus yang diterapkan masyarakat, setiap hektare tambak yang kembali dioperasikan diperkirakan mampu menghasilkan sekitar 600 kilogram udang dalam satu siklus budi daya.

Dengan harga jual rata-rata Rp50 ribu per kilogram, potensi omzet mencapai sekitar Rp30 juta per hektare dalam tiga bulan, kata dia.

Menurut Andy, percepatan rehabilitasi dilakukan melalui refocusing anggaran internal KKP agar masyarakat tidak perlu menunggu proses administrasi anggaran rehabilitasi yang masih berjalan. Pemerintah juga memastikan seluruh bantuan diberikan tanpa dipungut biaya.

Sementara itu, petambak asal Pidie Jaya, Fazil mengaku bantuan benih dan pakan menjadi modal penting untuk kembali menjalankan usaha setelah tambaknya terdampak bencana.

"Saya yakin tiga bulan ke depan sudah bisa panen," kata Fazil.

KKP berharap rehabilitasi tambak yang dilakukan secara bertahap dapat memulihkan produktivitas budidaya di Aceh sekaligus menghidupkan kembali roda perekonomian masyarakat pesisir yang sempat terdampak bencana hidrologi.

Untuk mendukung percepatan pemulihan, KKP juga telah menyalurkan 12 unit excavator ke Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Sebanyak delapan unit di antaranya difokuskan untuk mempercepat rehabilitasi tambak di sejumlah kabupaten di Aceh.

Selain memperbaiki infrastruktur tambak, pemerintah turut memperkuat sektor perikanan tangkap melalui bantuan mesin kapal serta 100 unit coolbox berkapasitas 300 liter kepada nelayan di Kabupaten Bireuen dan Aceh Utara.

  • Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)

Redaktur: Bambang Wijanarko

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.